DetikNews
Selasa 01 Agustus 2017, 18:33 WIB

Kekeringan, Petani di Brebes Manfaatkan Air Limbah Untuk Irigasi

Imam Suripto - detikNews
Kekeringan, Petani di Brebes Manfaatkan Air Limbah Untuk Irigasi Petani memompa air dari saluran buangan untuk mengairi lahan.Foto: Imam Suripto
Brebes - Memasuki musim kemarau, cadangan air irigasi di wilayah Brebes, Jawa Tengah mulai menipis. Agar tanamannya tetap hidup, petani harus gunakan mesin pompa untuk mengambil air dari dalam tanah.

Bahkan mereka juga memanfaatkan air limbah comberan untuk irigasi.

Kesulitan untuk mendapatkan air irigasi terjadi sejak musim kemarau beberapa bulan lalu. Akibat tidak adanya hujan, areal pertanian di wilayah Pantura Brebes mulai mengering. Tanaman petani tidak sedikit yang mati akibat tidak terairi.

"Sudah lama, kira-kira 20 hari pakai pompa air. Karena ingin tanamannya hidup, petani inisiatif sendiri bikin sumur pantek sampai lima hari baru dapat air," ujar Waslani (54), warga Kecamatan Tanjung Brebes, Selasa (1/8/2017).

Untuk mengairi sawah yang kering, Waslani harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli bahan bakar minyak (BBM) untuk mesin pompa. Jumlah BBM yang diperlukan juga bervariatif, tergantung luasan lahan dan jenis pompa. Untuk pompa kecil, dalam semalam menyedot air, bisa menghabiskan habis bensinnya 3–4 liter.

Di wilayah Pantura, para petani bahkan memanfaatkan air limbah buangan untuk mengairi tanaman mereka agar tetap hidup. Air dari salurah buangan ini disedot dan disalurkan ke sawah petani. Gelontoran air limbah ini sampai menimbulkan gumpalan buih yang cukup besar.

Meski air buangan tersebut kotor dan berbau, mereka tetap menggunakannya untuk irigasi. Hal ini karena di daerah tersebut semua sumber air telah mengering.

"Air limbah di sini dari limbah telur asin, ikan bandeng sama limbah rumah tangga. karena menjadi satu jadinya bisa untuk menyiram bawang," kata Udin (60), petani warga Pasarbatang.

Selama ini areal sawah di wilayah Pantura selalu mengalami kekurangan irigasi saat musim kemarau. Selain curah hujan sedikit, wilayah ini jauh dari sumber air, sehingga gelontoran air dari sejumlah bendungan atau waduk tidak pernah sampai ke sawah petani.

Mengatasi masalah irigasi di wilayah tersebut, Dinas Pengairan dan Sumber Daya Air Kabupaten Brebes, menerapkan sistem gilir irigasi. Air dari dua sumber yakni Waduk Malahayu dan Kali Pemali didistribusikan secara bergantian melalui sejumlah embung yang tersebar di berbagai daerah.

Lamanya giliran mendapat air berdasarkan luasan area sawah. Areal sawah pemali kanan seluas 7788 ha mendapat jatah dua hari. Sedangkan sawah pemali kiri seluas 17.392 ha mendapat jatah giliran selama 4 hari.

Meski pembagian air saat musim kemarau dilakukan secara bergiliran, akan tetapi tidak sedikit sawah yang tidak kebagian jatah air irigasi. Di wilayah Pantura yang meliputi lima kecamatan, masing masing Brebes, Wanasari, Bulakamba, Tanjung dan Losari, hampir sebagian besar sawahnya tidak pernah mendapat irigasi. Hal ini karena lokasinya cukup jauh sehingga dimungkinkan air meresap ke tanah sebelum sampai ke Pantura.

"Kita kan ada dua dari Malayahu dan dari Notog Waduk Penjalin. Kalau dari notog suplainya ke pemali kanan dan kiri, itu nanti kita atur karena dari sana hanya 12 ribu liter sehingga tidak mencukupi kebutuhan. Sehingga harus giliran, dua hari hidup empat hari mati. Misalnya dua hari ke kanan, dua hari ke tengah dan dua hari ke kiri. Kemudian di Malayahu karena debitnya 3000 liter, itu sampai ke bendung nambo hanya 2700 liter. Kalau tidak diatur akan terjadi kekurangan sehingga diatur berdasarkan kesepakatan bersama," papar Agus Ashari

Selain menerapkan pengaturan irigasi secara bergilir, menurut Agus Ashari, Pemerintah juga telah menerapkan sistem pola tanam agar petani tidak mengalami kerugian yang besar. Untuk wilayah Pantura yang sebagian besar lahannya tadah hujan, pemerintah menerapkan pola tanam palawija–padi–palawija, yang dimulai setiap bulan September. Namun pada kenyataannya mereka tidak mengindahkan pola tanam tersebut. Petani tidak sedikit melanggar pola tanam sehingga mengalami gagal panen.
(sip/sip)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed