Raih Kalpataru Karena Mencintai Sampah

Raih Kalpataru Karena Mencintai Sampah

- detikNews
Rabu, 06 Agu 2008 14:32 WIB
Raih Kalpataru Karena Mencintai Sampah
Bandung - Jangan buang sampah anda! Jika anda memiliki sampah-sampah anorganik seperti bungkus kopi instan, deterjen, mie instan, pewangi pakaian dan lain-lain, perajin tas daur ulang Juariah Djajang (45) siap menampungnya.

Sampah-sampah inilah yang akhirnya menghantarkannya meraih penghargaan lingkungan bergengsi dari pemerintah yaitu Kalpataru 26 Juli lalu.

Rasa cintanya terhadap sampah lah yang membuatnya terinsiprasi membuat tas daur ulang. Dengan modal awal Rp 100 ribu, bungkus-bungkus sampah anorganik tersebut dirangkai menjadi tas-tas unik yang layak pakai.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Awalnya saya memungut sampah-sampah tersebut karena belum tahu mendapatkannya. Tapi sekarang saya meminta dari tetangga-tetangga, supermarket atau warung-warung kopi," jelas Juariah.

Jangan heran jika setiap hari akan terlihat tas plastik berisi bungkus-bungkus sampah tersebut menggantung di beberapa sudut rumahnya.

"Saya makin cinta sampah. Kalau di jalan menemukan bungkus yang bagus saya tidak malu-malu untuk memungutnya," tutur Juariah.

Dengan menjadi pengrajin tas daur ulang Juariah mengharapkan setidaknya dirinya bisa mengurangi jumlah sampah. Selain itu, Juariah pun termotivasi untuk mengangkat kaum ibu agar tidak hanya sekedar ibu rumah tangga tapi juga bisa berpenghasilan.

"Kenapa ibu-ibu harus jadi ibu rumah tangga saja. Cuma masak di dapur. Suami pun akan bangga jika istri bisa berpenghasilan. Apalagi kalau jadi perajin kan bisa dilakukan di rumah, bisa sambil nonton televisi," tuturnya.

Kini Juariah punya 3 orang pengrajin yang juga berasal dari ibu-ibu PKK. Meski di luar akhir pekan dikerjakan sendiri oleh Juariah, karena ibu-ibu ini hanya membantunya di akhir pekan. Juariah memiliki dua mesin jahit. Dalam satu minggu bisa menghasilkan tas sekitar 7-8 buah tas.

Namun diakui Juariah, dari segi omzet belum begitu terlihat karena setiap keuntungan akan digulirkan lagi untuk membuat produk yang lebih banyak. "Ada biaya puring, resleting, dan biaya operasional jahit," jelasnya.

Meski belum menghasilkan, tapi karena kecintaannya terhadap sampah, Juariah tetap konsisten dengan usaha ini. Sifat gigih dan pantang menyerah yang dimilikinya menjadi menjadi salah satu faktor yang membuat dirinya usahanya ini sampai saat ini bertahan.

"Tanpa promosi apapun orang-orang datang ke sini. Ibu Dada Rosada pun sudah membeli tas ini," jelasnya.

Juariah yang sudah bercucu dua ini tak hanya aktif sebagai pengrajin tetapi juga aktif sebagai tenaga pengajar di TK BKB dan di Paud (pendidikan anak usia dini). Selain itu, ia juga aktif di kegiatan kemasyarakatan sebagai Sekretaris PKK Kecamatan, Ketua Pos KB, aktif di Posyandu dan kegiatan-kegiatan masyarakat lainnya.

Bersama BPLH Kota Bandung Juariah pun pernah aktif memberikan pelatihan-pelatihan kepada guru-guru SD dan TK se-Kota Bandung.

Juariah mengaku kaget, bangga sekaligus bahagia ketika mendapatkan Kalpataru sebagai masyarakat yang peduli terhadap lingkungan. Juariah berharap dengan dirinya meraih Kalpataru, pemerintah bisa melirik untuk memberikan modal. "Saya ingin membesarkan usaha ini dan membuat galeri sendiri," jelasnya.

Keinginan Juariah ke depannya adalah membuat galeri untuk menampung tas-tas daur ulangnya. Karena saat ini hanya bisa ditemui di rumahnya atau di pameran-pameran. "Saya belum memiliki modal dan belum ada yang mau memberikan modal," jelasnya.

Jikalau kelak ada yang membuat usaha serupa, Juariah pun bersyukur. "Alhamdulillah berarti ikut mengurangi jumlah sampah, asal tidak memakai nama saya karena hal itu pernah terjadi," tambahnya.
(ema/ern)



Berita Terkait