Eretan Indramayu Dihantam Rob, Warga Minta Revitalisasi Sandaran Sungai

Sudirman Wamad - detikNews
Rabu, 08 Des 2021 19:31 WIB
Banjir Rob Indramayu
Banjir rob di Indramayu. (Foto: Sudirman Wamad/detikcom)
Indramayu -

Banjir rob atau gelombang tinggi air laut melanda wilayah pesisir Desa Eretan Kulon dan Eretan Wetan, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu. Aktivitas warta setempat pun terganggu dalam beberapa hari terakhir.

Banjir rob melanda wilayah Desa Eretan Kulon dan Eretan Wetan terjadi setiap tahun. "Rob ini rutin terjadi. Dalam satu bulan bisa terjadi hingga 20 hari. Minggu ini, sekitar empat harian paling besar," kata Ketua Barisan Penjaga Gerakan Bangkit (Baja Gerbang) Supriyanto (36) saat berbincang dengan detikcom di Desa Eretan Wetan, Indramayu, Rabu (8/12/2021).

Supriyanto bersama pemuda Eretan Wetan lainnya mendesak pemerintah untuk bergerak bersama menghalau banjir rob. Sebab, lanjut dia, banjir rob dalam beberapa hari terakhir ketinggian airnya meningkat.

"Rata-rata kenaikannya bisa 50 hingga 70 sentimeter," ujar Supriyanto.

Dia resah dengan kondisi yang terjadi di desanya. Warga setempat merasa tak nyaman dengan datangnya rob setiap bulan.

"Kita membutuhkan kenyamanan, terutama akses jalan. Aktivitas hampir semuanya lumpuh di Eretan Wetan ini," ucapnya.

Rob di IndramayuAkses permukiman warga di Indramayu terendam banjir. (Foto: Sudirman Wamad/detikcom)

Supriyanto menilai penanganan rob membutuhkan kekuatan besar dari semua elemen. Menurutnya, gerakan masyarakat hanya bisa meminimalisir agar banjir rob tak terlalu tinggi.

"Kalau dilihat dari secara keseluruhan, penanganan bencana ini membutuhkan kekuatan anggaran yang lebih besar. Kita menunggu untuk itu," kata Supriyanto.

Pemerintah Jangan Umbar Janji

Dia berharap pemerintah tak hanya mengumbar janji. "Kekecewaan masyarakat itu kita sering diberi janji. Tapi sampai sekarang (rob) datang lagi," ujarnya.

"Anggota DPR RI juga pernah meninjau dan berdialog dengan masyarakat. Katanya siap berjuang dengan masyarakat membangun breakwater. Kondisi sekarang itu wilayah sungai bantarannya sudah rendah, perlu ada sandaran. Kemudian, breakwater (saat ini) sudah hancur, masyarakat sudah menyampaikan itu secara langsung," tutur Supriyanto menambahkan.

Ketua RT 3 RW 1 Desa Eretan Wetan, Bunah, menjelaskan banjir rob melanda setiap pagi hingga sore. Menurutnya, banjir rob kali ini lebih besar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

"Empat hari ke belakang tinggi. Sampai masuk rumah itu bisa sekitar 40 hingga 50 sentimeter," kata ketua RT yang akrab disapa Wa Plonco itu.

Senada disampaikan Ketua RT 02 RW 01 Desa Eretan Wetan, Nono. Ia berharap pemerintah membangun sandaran di sungai dan breakwater atau pemecah gelombang. "Breakwater ini harus dipasang. Minimalnya bisa mengantisipasi agar tak terlalu besar," ujar Nono.

15 Tahun Dilanda Banjir

Sementara itu, dalam keterangan yang diterima detikcom, Bupati Indramayu Nina Agustina Da'i Bachtiar meninjau bencana banjir rob di Desa Eretan Wetan pada Jumat (3/12). Nina menjelaskan bencana banjir rob sudah terjadi tahunan akibat dampak abrasi di Desa Eretan Wetan. Kondisi demikian mengakibatkan bibir pantai dengan pemukiman warga berdekatan.

"Saya hari ini hadir di Desa Eretan Wetan, dan memang banjirnya sudah terjadi lama kurang lebih 15 tahunan karena ini berhadapan langsung dengan lautan," katanya.

Nina mengatakan upaya pemerintah desa dan kecamatan sudah melakukan antisipasi sementara dengan menggunakan karung secara bergotong royong untuk mengantisipasi masuknya air laut ke permukaan rumah warga. "Saat ini sudah melakukan penanganan sementara dengan karung dan masyarakat juga melakukan peninggian-peninggian rumahnya masing-masing," kata Nina.

(bbn/bbn)