Unak Anik Jabar

Melihat Keindahan Al-Qur'an Tulisan Tangan Abad 19 di Sumedang

Nur Azis - detikNews
Minggu, 05 Des 2021 09:04 WIB
Al-Quran karya tulisan tangan Raden Haji Abdul Majid tahun 1856.
Foto: Al-Qur'an karya tulisan tangan Raden Haji Abdul Majid tahun 1856 (Nur Azis/detikcom).
Sumedang -

Sebuah Al-Qur'an tersimpan rapi di dalam etalase kedap udara. Sepintas huruf dan ukiran kaligrafinya tidak jauh berbeda dengan Al-Qur'an pada umumnya.

Namun setelah diperhatikan dari dekat, Al-Qur'an tersebut ternyata buah hasil tulisan tangan bukan dari cetakan pabrik. Meski huruf-huruf Arab atau hijaiyah memiliki tingkat kerumitan tersendiri, namun di sana terlihat begitu rapi serta presisi pada setiap hurufnya.

Penulis Al-Qur'an itu, yakni Raden Haji Abdul Majid tahun 1856. Al-Qur'an itu tersimpan rapi di Museum Prabu Geusan Ulun atau tepatnya di Gedung Sri Manganti, Regol Wetan, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang.

Al-Qur'an berukuran 36x22,5 cm dengan tebal 7 cm tersebut, memiliki 520 halaman. Uniknya, khusus di lembaran tengah atau pada beberapa ayat surat Al-Kahfi terdapat sebuah ukiran kaligrafi warna berlafadzkan syahadat.

Kaligrafi itu membentuk sebuah bingkai yang indah di setiap lembarnya. Masih dalam bingkainya, terdapat sebuah kaligrafi yang menyerupai bentuk hewan berkaki empat yang berjumlah tiga ekor di setiap sisinya. Namun tidak begitu jelas hewan apakah yang dirujuk oleh penulis.

Nonoman Karaton Sumedang Larang Raden Lucky Djohari Soemawilaga menjelaskan Raden Haji Abdul Majid merupakan keturunan dari keluarga lingkung kaum atau lingkungan sekitar Masjid Agung Sumedang. Keluarga lingkung kaum atau kauman sendiri awalnya berasal dari keturunan Sumedang Larang dari garis keturunan Dalem Istri Rajaningrat.

"Keluarga kaum itu awalnya dari keturunan Dalem Istri Rajaningrat, keluarga kauman terkenal memiliki keahlian dalam bidang keagamaan," ungkap Lucky saat ditemui detikcom.

Lucky menjelaskan Al-Qur'an itu ditulis dengan menggunakan tinta berbahan alami. Keunikannya, meski ditulis tangan namun setiap hurufnya begitu presisi dan pada lembar bagian tengah terdapat bingkai serta kaligrafi berwarna yang memiliki makna luas.

"Sekitar tahun 2008-2009, waktu itu ada seorang filolog yang datang bareng Amin Rais sampai terharu melihat tulisan Al-Quran dan kaligrafi yang ada, karena menurutnya ini sesuatu yang langka dan mempunyai karakter simbol yang berbicara dan jarang ditemukan, hanya filolog dan para kyai yang paham tentang makna kaligrafi itu," paparnya.

Lucky menuturkan Al-Qu'ran itu sendiri ditulis semata-mata untuk kepentingan umat lantaran pada saat itu belum ada mesin photo copy. Selain itu, Al-Qur'an ini juga sebagai bukti bahwa Kerajaan Sumedang Larang menganut agama Islam.

"Keberadaan Al-Qur'an ini bisa memperkuat bukti bahwa Sumedang Larang menganut agama Islam, salah satu bukti otentik salah satunya adalah peninggalannya, jadi kalau ada yang bertanya 'Kerajaan Sumedang Larang tahun 1800-an seperti apa kondisinya', 'oh ternyata sudah beragama Islam buktinya Al-Qur'an ini," paparnya.

Al-Qu'ran itu kini tersimpan di dalam komplek Museum Prabu Geusan Ulun. Para pengunjung yang ingin melihat bisa langsung menuju ke Gedung Sri Manganti.

"Al-Qur'an kita simpan di etalase dengan pengaturan suhu secara alami dengan menggunakan cengkeh agar terhindar dari kelembaban," pungkasnya.

Simak juga 'Melihat Al-Quran Tulisan Tangan Pangeran Diponegoro':

[Gambas:Video 20detik]



(mso/mso)