Terima Hibah, 172 Ponpes Banten Tak Terdaftar di EMIS Kemenag

Bahtiar Rifa'i - detikNews
Senin, 29 Nov 2021 16:44 WIB
Sidang korupsi hibah ponpes Banten
Foto: Sidang korupsi hibah ponpes Banten (Bahtiar Rifa'i/detikcom).
Serang -

Sidang kasus korupsi hibah pondok pesantren Banten yang rugikan negara Rp 70 miliar kembali berlanjut. Sidang kali ini menghadirkan saksi dari Kanwil Kementerian Agama Banten.

Dalam sidang yang digelar di Pengadilan Tipikor, saksi mengungkapkan ada 172 pesantren yang tidak terdaftar dalam sistem EMIS (education management information system). Namun ratusan ponpes tersebut tetap menerima bantuan hibah dari Pemprov Banten tahun 2018-2020. jika tidak terdaftar di EMIS.

"172 itu setelah kita cek di pemberitahuan acara (BAP). Itu dari penyidik kita cek. Pengecekan kita ada beberapa data waktu itu tidak masuk EMIS," kata Kabid Pendidikan dan Keagamaan Islam, Kemenag Banten Encep Safrudin di Pengadilan Tipikor Serang, Serang, Senin (29/11/2021).

Untuk masuk EMIS Kemenag, Encep mengungkapkan memang sedikit sulit. Pesantren harus memasukkan data mulai dari santri, ustad, fasilitas sarana prasarana dan informasi lain terkait pesantren.

Di Kemenag, pesantren juga tidak bisa menerima bantuan jika tidak terdaftar di EMIS. Mereka punya sistem dengan nama Sistem Informasi Manajemen Bantuan atau SIMBA. Di luar Kemenag, misalnya bantuan dari Pemda itu ia anggap jadi tanggung jawab pemberi bantuan.

"Untuk di Kemenag wajib," katanya di hadapan majelis hakim yang dipimpin Slamet Widodo.

Jumlah pesantren terdaftar di EMIS di Banten setiap tahun pun berbeda-beda. Pada sejak 2018, ada 2.122 pesantren, 2019 ada 4.794 pesantren, 2020 ada 5.343 pesantren dan 2021 ada 5.217.

Di Banten juga ada beberapa forum yang menaungi pesantren. Penamannya berbeda dengan provinsi lain. Di Banten ada Forum Silaturahmi Pondok Pesantren atau FSPP dan Majelis Pesantren Salafi.

"Di beberapa daerah beda-beda, kepengurusannya juga berbeda," ujarnya.

Saksi dari Kemenag Encep dihadirkan untuk memberikan keterangan terkait izin operasional dan EMIS pesantren penerima hibah. Ada lima terdakwa dalam kasus korupsi yang menyeret lingkungan pesantren ini, yaitu Eks Kabiro Kesra Irvan Santoso, Toton Surawinata, Epieh Saepudin, Tb Asep Subhi dan Agus Gunawan.

(bri/mso)