117 Siswa-Guru Kota Bandung Positif Corona Jalani Isoman di Rumah

Wisma Putra - detikNews
Rabu, 27 Okt 2021 20:51 WIB
Corona Virus test report Stock Image, Test tube
Foto: Ilustrasi (Getty Images/iStockphoto/Richard Maguluko).
Bandung -

105 siswa dan 12 guru yang dinyatakan positif COVID-19 hasil tes acak yang dilakukan Dinas Kesehatan Kota Bandung sudah menjalani isolasi mandiri (isoman).

"Isoman (di rumah), tidak ada yang dirawat di rumah sakit," kata Kadinkes Kota Bandung Ahyani Raksanagara via pesan singkat, Rabu (27/10/2021).

Sementara itu, Sekda Kota Bandung Ema Sumarna mengungkapkan siswa dan guru yang terpapar COVID-19 masuk pada kategori ringan atau OTG (orang tanpa gejala).

"Tindaklanjut secara keseluruhan tidak masuk kategori berat, ini ringan, bagi saya ini harus ditangani dan Dinkes katakan puskesmas melakukan proses penanganan lebih lanjut, karena regulasinya itu, puskesmas bekerjasama dengan satgas setempat, dilacak dan sebagiannya," kata Ema.

Berdasarkan data terakhir, jumlah pemeriksaan baru dilakukan di 157 sekolah dari sasaran 212 sekolah. Sementara dari sampel yang sudah dilakukan PCR 5.993 orang, jumlah yang sudah keluar per, Selasa (26/10) pukul 12.30 WIB kemarin, mencapai 3.530 orang.

Ema mengungkapkan, untuk memberikan keamanan kepada guru dan siswa, pihaknya ingin tes PCR bisa dilakukan diseluruh sekolah di Kota Bandung.

"Ada peluang secara keseluruhan tidak sekolah yang hanya jadi sampel, saya ingin menyeluruh karena siapa yang memberikan jaminan bahwa yang tidak dijadikan sampel itu aman," ungkapnya.

Menurutnya, penghentian sementara PTMT dan dilanjutkan PJJ merupakan konsekuensi dari tes acak ini.

"Ada 22 sekolah yang sudah diberhentikan PTMT sementara, kalau terus bertambah bagian dari konsekuensi dan kita tidak akan berhenti yang namanya surveillance karena tetap harus kita kejar bagaimana keberadaan kesehatan dari tenaga pelajar dan yang kita sayangi siswa didik kita," tuturnya.

Ema kembali menegaskan PTMT dihentikan jika ada warga sekolah di satu sekolah angka positifnya mencapai 5 persen.

"Begitu kasus itu masuk di angka 5 persen otomatis sekolah harus menghentikan sementara," ucapnya.

(wip/mso)