Cerita Warga Cimahi Terjerat Pinjol Ilegal: Utang Rp 1,5 Juta-Bayar Rp 23 Juta

Whisnu Pradana - detikNews
Senin, 18 Okt 2021 18:36 WIB
Pinjam Online Abal-abal
Foto: Pinjam Online Abal-abal (Fauzan Kamil/Infografis detikcom)
Cimahi -

Aplikasi pinjaman online atau financial technology peer to peer lending (fintech P2P lending) juga memakan korban seorang warga Kota Cimahi yang sehari-hari berprofesi sebagai pegawai swasta.

Tipu daya pinjaman online berhasil menjerat NA (45), warga Kecamatan Cimahi Tengah pada November 2020 lalu. Penyebabnya tentu karena desakan akan dana segar namun harus tersedia dalam waktu cepat.

Saat itu NA sama sekali tak terpikir untuk meminjam dari aplikasi pinjaman online. Namun testimoni bernada positif dari seorang rekan kerjanya. Tanpa pikir-pikir lagi, akhirnya NA memutuskan mencoba aplikasi pinjaman online melalui ponselnya.

"Awalnya ya butuh uang cepat, terus ada teman yang kasih tahu pinjam dari pinjol (pinjaman online) saja. Saya lihat syaratnya juga mudah. Ya akhirnya saya pinjam dari situ," kata NA kepada detikcom, Senin (18/10/2021).

Semula NA meminjam uang sebesar Rp 1.500.000 dari beberapa perusahaan peminjam uang. Namun dari nominal yang diajukan, ia hanya menerima uang pinjaman sebesar Rp 1.050.000 saja. Ternyata di balik cepatnya uang itu ia peroleh, mengintai risiko yang membayangi hari-harinya.

Sejak saat itu hidupnya mulai resah dan tidak tenang. Sebab, baru saja tiga hari meminjam uang lewat aplikasi pinjaman online ilegal, NA sudah dihantui jatuh tempo pembayaran cicilan beserta bunganya.

"Jadi tiga hari mau ke jatuh tempo sudah diteror. Justru akhirnya kita yang pinjam malah terjebak sama tempo pembayaran itu," ucapnya

NA gelap mata dengan tekanan yang membayanginya. Demi membayar cicilan dengan bunganya, ia malah mengunduh aplikasi pinjaman online lainnya.

Total ada sekitar 12 aplikasi pinjol yang diunduh NA untuk menutupi cicilan jatuh tempo dari pinjol yang sebelumnya. Dari setiap pinjol, rata-rata ia meminjam Rp 1.000.000 sampai Rp 1.500.000. Dalam sepekan ia harus membayar bunga 30 persen dari cicilan.

Ia mencontohkan, misalnya ia meminjam uang dari satu pinjol ilegal sekitar Rp 1.000.000. Namun yang cair hanya sekitar Rp 600.000. Namun kenyataannya NA tetap harus membayar sesuai pinjaman Rp 1.000.000, dengan alasan biaya administrasi dan bunga

"Rata-rata pinjam ke pinjol itu ya buat bayar pinjol yang satunya lagi. Sisa sedikit kadang dipakai, kadang disimpan buat pembayaran berikutnya. Jadi sebetulnya uang yang awal saya pinjam juga enggak kadi saya pakai buat keperluan saya yang mendesak," ceritanya.

Namun semakin banyak pinjol yang digunakannya untuk meminjam uang ternyata semakin membuatnya tidak tenang. Apalagi ketika saat jatuh tempo, namun NA tak kunjung membayarnya.

Penagih online pun mulai menerornya. Ia tak terlalu masalah jika hanya ia yang ditelepon untuk melakukan penagihan. Namun ternyata bukan hanya NA yang mendapat perlakuan tak mengenakan, melainkan keluarga dan teman-temannya.

Bahasa yang dilontarkan penagih pinjol itupun sungguh tidak manusiawi. Menurut NA sangat kasar dan tidak pantas untuk diucapkan. Terkhusus kepada istri dan orang tuanya yang tidak tahu apa-apa.

"Menerornya sambil mengancam dan menghina keluarga saya. Kasar dan gak pantas, sangat keterlaluan. Jadi itu yang membuat saya tertekan, seumur hidup baru kali ini saya merasa menghadapi masalah berat," sebutnya.

NA sudah sangat tidak tahan dengan permasalahan yang dialaminya. Ia tak tahu lagi bagaimana cara untuk mengakhirinya. NA pun memutuskan untuk mencari pinjaman kepada teman-temannya untuk melunasi semua utang pinjaman online itu.

"Kalau ditotalkan itu saya harus bayar Rp 23 juta untuk semua pinjol. Tapi saya hanya bayar Rp 8 juta untuk sekitar 5 pinjol. Sisanya saya gak bayar, saya langsung ganti nomor," ujarnya.

(mso/mso)