Terungkap! Begini Calo Penempatan PMI Ilegal Cari Korban

Dony Indra Ramadhan - detikNews
Sabtu, 16 Okt 2021 11:29 WIB
BP2MI Bandung endus ribuan calo PMI ilegal tersebar di Jabar
BP2MI Jabar mengungkap calo ilegal (Foto: Dony Indra Ramadhan)
Bandung -

Badan Pelindungan Pekerjaan Migran Indonesia (BP2MI) meringkus calo penempatan pekerja migran Indonesia (PMI) ilegal berinisial TM. Calo merekrut calon PMI dengan mendatangi ke kediamannya.

"Modus operandinya adalah mereka yang memiliki uang atau pemilik kapital itu kan menggunakan kaki tangan mereka untuk menjangkau para anak bangsa yang ingin dijadikan mangsa di setiap kampung atau desa sehingga mereka menggunakan kaki tangan yang disebut dengan calo," ujar Kepala BP2MI Benny Rhamdani, Sabtu (16/10/2021).

TM yang diringkus BP2MI dan Polda Jabar di Cirebon ini diketahui merekrut hingga memiliki 36 calon PMI hendak di berangkatkan ke Taiwan dan Polandia. Para calon PMI ini diminta membayar Rp 25 hingga Rp 50 juta sebelum diberangkatkan.

Kembali ke soal modus. Benny mengatakan para calo ini kemudian menyasar warga di desa yang mayoritas perempuan. Buaian janji manis dari calo diungkapkan ke para calon PMI.

"Dijanjikan untuk mendapatkan pekerjaan dengan cara cepat, dijanjikan mendapatkan gaji yang tinggi bahkan keluarga yang ditinggalkan itu dititipkan uang fit atau biaya hidup keluarga antara Rp 7 juta sampai Rp 10 juta, nah dalam kondisi masyarakat desa yang kurang mendapatkan akses informasi, karena pandemi Covid juga yang sangat memprihatinkan sehingga angka pengangguran meningkat dan lapangan kerja juga dan angkatan kerja tinggi, mereka otomatis tergiur," tuturnya.

Padahal dalam kenyataannya, kata Benny, uang untuk keluarga yang ditinggalkan ternyata bukan dari calo. Melainkan berupa uang pinjaman calon PMI yang nantinya akan ditanggung oleh calon PMI.

"Uang yang dikeluarkan untuk semua yang tip untuk keluarga kemudian uang untuk paspor dan visa kemudian medical check up itu bukan gratis, itu nanti akan dihitung menjadi hutang," kata Benny.

Hal ini berimbas pada pendapatan mereka yang nantinya berkurang. Menurut Benny, kasus seperti ini lazim terjadi lantaran antara si calo dan calon PMI tak terikat kontrak.

"Sehingga banyak di antara mereka yang berangkat kemudian gajinya rendah, karena memang tidak pernah diikat oleh kontrak dan gaji itu di potong delapan sampai sepuluh bulan, mereka tidak mendapatkan gaji karena harus membayar dengan bunga yang sangat tinggi atas uang yang dikeluarkan oleh calo tadi," tutur dia.

"Di sinilah perangkap mereka masuk ke perdagangan manusia dan isu perdagangan manusia human traficking itu isu internasional yang jejaringnya tak hanya di negara kita tapi juga negara luar. Kuncinya adalah negara saatnya hadir, tidak boleh kita membiarkan terjadinya perdagangan orang, nantinya negara akan dituduh tidak berdaya negara akan dituduh melakukan pembiaran," kata Benny menambahkan.

Sebelumnya, Badan Pelindungan Pekerjaan Migran Indonesia (BP2MI) bersama Polda Jabar meringkus calo penempatan pekerja migran Indonesia (PMI) ilegal. Sebanyak 36 orang calon PMI berhasil diselamatkan dari keberangkatan ilegal.

Satu orang calo yang berinisial TM itu diamankan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Jabar dan BP2MI Bandung pada Rabu (13/10) kemarin. Calo perempuan itu ditangkap di Cirebon.

Simak juga 'BP2MI Gagalkan 33 Orang yang Hendak Berangkat Ilegal ke Qatar-Polandia':

[Gambas:Video 20detik]



(dir/ern)