Jabar Banten Hari Ini: 11 Siswa Tewas Tenggelam-Polisi 'Smackdown' Ditahan

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 15 Okt 2021 22:13 WIB
Bandung -

Ragam peristiwa terjadi di Jabar dan Banten hari ini. Mulai insiden 11 siswa di Ciamis yang tewas saat susur sungai hingga polisi yang 'smackdown' mahasiswa ditahan.

Berikut sejumlah berita membetot perhatian pembaca yang berlangsung di Jabar-Banten hari ini, Jumat (15/10/2021):

Muncul Lagi 'Terowongan Kuno' di Bogor

Balai Arkeolog Jawa Barat bersama tim bentukan Pemkot Bogor melakukan survei lanjutan ke lokasi 'terowongan kuno' dan ruangan bawah tanah yang ditemukan di kawasan Stasiun Bogor.

Berdasarkan hasil penggalian lanjutan yang dilakukan pada Kamis (14/10) ditemukan kembali dua saluran air lain yang bermuara pada bak penampungan atau ruangan bawah tanah yang ditemukan sebelumnya. Total ada tiga saluran air dari tiga arah berbeda menuju bak penampungan.

"Berdasarkan hasil peninjauan kami memang ditemukan saluran lama. Saluran ini kalau diperhatikan itu terdiri dari balai yang diperuntukkan untuk aliran, ada yang ke arah barat, timur bahkan selatan," kata Kepala Balai Arkeologi Jabar Deni Sutrisna saat ditemui detikcom, Jumat (15/10/2021).

"Namun sayang untuk sejauh mana saluran ini berakhir itu belum dipastikan karena sudah tertutup oleh bekas implasemen bangunan, terutama yang di dalam lingkungan stasiun kereta api atau depo Stasiun Bogor," ucap Deni.

Dua saluran air kuno yang ditemukan pada Kamis (14/101/2021), juga mempertegas dugaan peneliti bahwa ruangan bawah tanah itu merupakan pertemuan air dari beberapa saluran air yang kemudian mengalir ke Sungai Cipakancilan.

"Sejauh ini ada 3 saluran air yang kita temukan, semuanya bertemu di ruangan itu. Pertama yang dari arah Jalan Nyi Raja Permas itu (pertama ditemukan), kemudian dari arah stasiun dan ketiga itu arah Sungai Cipakancilan," kata Wahyu, Ketua Tim Penelitian Terowongan Kuno yang dibentuk Pemkot Bogor, Jum'at (15/10/2021).

"Jadi memang tempat yang kita datangi itu, kita kenali sebagai titik pertemuan dari beberapa saluran tadi," kata tim ahli dari Universitas Pakuan Bogor ini menegaskan.

Dalam temuan dua saluran kuno itu, juga ditemukan sebatang besi melintang yang berada tepat di bibir terowongan yang mengarah ke Stasiun Bogor. Belum diketahui pasti apa fungsi dari batas besi itu dan masih dalam kajian tim peneliti.

Melihat struktur konstruksi dan jaringan saluran air yang ditemukan, kata Wahyu, saluran-saluran air itu memiliki tiga fungsi. Pertama sebagai drainase, irigasi dan pendukung kereta api di zamannya yang menggunakan tenaga uap.

"Mungkin kalau bicara fungsi itu ada fungsi drainase, tapi kemudian mungkin jika kaitkan dengan jaringannya mungkin juga ada fungsi irigasi, kemudian ketiga ada fungsi untuk kereta api di zaman itu yang menggunakan tenaga uap, jadi air digunakan untuk mendukung kereta api itu," tutur Wahyu.

Terowongan Kuno di BogorWujud lorong disebut-sebut 'terowongan kuno' di Bogor. (Foto: Tim Peneliti Terowongan Kuno Kota Bogor)

Wahyu menambahkan infrastruktur saluran air yang ditemukan diduga dibangun pada kurun waktu yang berbeda di zaman kolonial Belanda. Hal itu, kata dia, dilihat dari struktur bahan bangunan pada terowongan yang ditemukan.

"Misalnya dari sisi material, kalau dilihat material pada gorong-gorong pertama ditemukan itu material konstruksinya kan bata merah, sementara di ruang bak sendiri itu konstruksinya bukan bata merah melainkan pasangan batu kali. Jadi itu menegaskan bahwa konstruksi itu berbeda masa dengan saluran pertama ditemukan," ujarnya.

"Kemudian, kalau kita lihat saluran yang ke arah stasiun, itu berbeda lagi. Kalau kita teruskan saluran arah stasiun itu kita akan temukan saluran berupa terowongan yang lingkarannya terbuat dari tanah liat. Itu berbeda lagi dengan bangunan yang lain," ucap Wahyu menambahkan.

Saluran-saluran air itu, menurutnya, dibangun sesuai kebutuhan pada zamannya dan terus mengalami perkembangan. Namun apakah saluran itu bisa difungsikan kembali di masa sekarang, Wahyu menyebut perlu kerja keras dan keseriusan Pemkot Bogor untuk mewujudkannya. Sebab menurutnya, banyak saluran air yang terputus karena sedimen, tertutup bangunan baru dan rusak tak berbentuk.

Tetapi terkait tindak lanjut, kata Kepala Balar (Balai Arkeolog) kemarin, secara singkat itu, tidak bisa difungsikan kembali seperti fungsi awal, tetapi bisa saja kalau dibuat sebagai lokasi konservasi atau bangunan bersejarah," kata Wahyu.