Heboh 'Mother of Satan' Tak Pengaruhi Pendakian Gunung Ciremai

Bima Bagaskara - detikNews
Rabu, 13 Okt 2021 17:02 WIB
Gunung Ciremai di Kabupaten Kuningan.
Gunung Ciremai (Foto: Bima Bagaskara/detikcom)
Kuningan -

Penemuan dan ledakan bahan peledak TATP atau 'Mother of Satan' di lereng Gunung Ciremai beberapa waktu lalu tidak mempengaruhi minat pendaki untuk menggapai puncak tertinggi di Jawa Barat itu. Kunjungan pendaki yang masuk melalui empat jalur pendakian Gunung Ciremai justru menurun akibat adanya pembatasan selama masa PPKM yang diberlakukan di Kuningan maupun Majalengka.

"Kalau misalkan adanya pengurangan pengunjung itu lebih kepada pemberlakuan PPKM, kan tadinya Kuningan Majalengka di Level 2 kemudian jadi Level 3. Sehingga yang semula kuota pendakian 25 persen dikurangi jadi 10 persen," ucap Kordinator Promosi, Pemasaran, Kehumasan dan Pendakian Taman Nasional Gunung Ciremai, Nisa Syachera Febriyanti, di kantornya, Rabu (13/10/2021).

"Jadi pengurangan itu kalau faktor ledakan tidak berpengaruh, karena posisi lokasi ledakan itu sebenarnya jauh dari jalur pendakian. Jadi memang lebih ke pemberlakuan PPKM saja," kata dia menambahkan.

Berdasarkan data yang ada, pascaledakan 'Mother of Satan' pada 30 September 2021, total jumlah pendaki yang menuju puncak Gunung Ciremai melalui empat jalur pendakian hingga hari ini sebanyak 994 orang. "Untuk jalur Apuy dari 1-6 Oktober itu 175 orang, karena tanggal 7 jalur ditutup. Kemudian dari tanggal 1-13 Oktober untuk jalur Linggajati ada 137 orang, Linggasana 74 orang dan Palutungan 608 orang," tutur Nisa.

Menurut dia, pendaki yang melakukan registrasi untuk mendaki Ciremai pascaledakan 'Mother of Satan' tidak begitu mengetahui informasi yang sempat menghebohkan tersebut. "Kayaknya pendaki juga nggak terlalu tahu soal itu, hanya sebagian orang saja yang tahu," ucap Nisa.

Balai Taman Nasional Gunung Ciremai ke depan bakal lebih mengantisipasi adanya hal-hal yang mencurigakan di seluruh kawasan melalui kerja sama dengan Masyarakat Peduli Api (MPA), Masyarakat Mitra Polhut (MPP) dan pengelola wisata. Bahkan, petugas di lapangan juga akan lebih sering berpatroli ke lokasi-lokasi yang dianggap rawan selain titik rawan kebakaran dan perburuan liar.

"Itu jadi deteksi dini sehingga bisa dilaporkan langsung ke petugas. Ke depan untuk lokasi-lokasi yang dianggap rawan itu kita lakukan patroli rutin, awalnya yang jadi prioritas itu yang rawan kebakaran, perburuan liar dan jalur trail. Tapi nanti mungkin lokasi lain juga jadi prioritas," ujar Nisa.