Siap Bela Ustaz di Sukabumi yang Diisukan Wali, GP Ansor : Beliau Pemimpin Ponpes

Syahdan Alamsyah - detikNews
Sabtu, 02 Okt 2021 18:24 WIB
Ustaz di Sukabumi isukan mengaku sebagai wali
Foto: istimewa
Sukabumi -

DPC Gerakan Pemuda Ansor, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi siap membela Ustaz Encep yang diisukan mengaku wali dan dilantik Nabi Khidir dan Nyi Roro Kidul.

Hamdin Al-Murdani, ketua DPC GP Ansor Kecamatan Surade mengatakan Ustaz Encep merupakan pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Ikhlas, Desa Cipendeuy, Kecamatan Surade.

"Yang pertama karena saya secara pribadi dan atas nama lembaga GP Ansor Surade ikut terlibat kegiatan selama kurang lebih 25 hari (di Ponpes Nurul Ikhlas). Di hari terakhir ponpes kerjasama dengan GP Ansor untuk menyelenggarakan kegiatan tersebut, Istigosah dan haol akbar," kata Hamdin menjelaskan sejumlah foto yang tersebar dan menampilkan sosok Ustaz Encep, Sabtu (2/10/2021).

Handin siap menjadi saksi, bahkan mewakili keluarga Encep untuk membuktikan bahwa ustaz yang juga gurunya tersebut tidak pernah sekalipun mengeluarkan ucapan pengakuan bahwa dirinya adalah wali.

Lihat juga video 'Klarifikasi Ustaz Solmed Soal Tudingan Langgar Perjanjian Ceramah':

[Gambas:Video 20detik]



"Dari awal pertama sampai ke hari 25 tidak sekalipun Ajengan Encep mengatakan bahwa dirinya adalah wali yang dilantik Nabi Khidir bahkan Nyi Roro kidul, sampai menjamin jamaahnya masuk surga. Sama sekali beliau tidak pernah berbicara seperti itu, jadi apa yang dibicarakan orang lain yang di pesan suara itu semuanya hoaks. Semuanya bohong dan sayapun berani bertanggung jawab karena saya terlibat selama 25 hari dari awal sampai akhir," beber Hamdin.

Kegiatan yang dimaksud Hamdin adalah kegiatan mengawali legian selama 25 hari. Legian sendiri nantinya akan digelar satu bulan empat kali.

"Yang dibaca amalan sebelum bada isya tausiah, penjelasan tentang surah Al-ikhlas lalu dijabarkan, sampai 1,5 jam diisi ceramah, sampai jam 00.30 WiB pembacaan surat Al Ikhlas. Dari sekarang ke depan setiap tanggal legi, sebulan 4 kali, yang dibaca surat al ikhlas saja," jelas dia.

Saat disinggung dengan penampilan Ustaz Encep yang dianggap nyeleneh karena tidak pakai baju, Hamdin menegaskan bahwa itu merupakan tugas dari gurunya.

"Berbicara enggak pakai baju, terserah orang mau pakai baju atau enggak, mau telanjang atau engga itu terserah sebetulanya. Hanya saja sedikit kurang elok dipandang menurut pandangan dzohir yang masyarakat lihat, namun itu bagi kalangan yang tak paham," ujarnya.

Hamdin juga mengatakan ada keterangan yang sengaja dipelintir saat beberapa orang termasuk Ustaz Encep dengan posisi berdiri kedua tangan saling tertaut disebut gerakan salat.

"Diisukan sedang salat, padahal sedang marhaba/mahalulqiam dan videonya juga ada. Beliau enggak pakai baju karena beliau pernah di pesantren, beliau juga pimpinan ponpes karena ada tugas dari guru akhirnya harus manut dan takdim kepada guru yang apapun diikuti. Karena enggak mungkin ada guru yang mencelakai muridnya dan sehingga enggak pakai baju bukan berarti enggak menutupi aurat ya. Yang beredar di masyarakat itu, dianggap tidak menutupi aurat," ujarnya.

Hamdin juga membenarkan pihaknya sudah melaporkan peristiwa yang menimpa Ustaz Encep bahkan sudah mengadukan persoalan itu ke LBH GP Ansor Kabupaten Sukabumi.

"Biar efek jera apa yang kami lakukan di sini dengan amalan pembacaan surat Al-ikhlas tidak ada satupun yang menyimpang dari nilai-nilai ahlusunah waljamaah. Ketika banyak yang berkoar itu adalah hoaks itu bohong, kami gerah dengan isu seperti itu merasa dilecehkan, dibully dan lain-lain akhirnya semuanya kami serahkan ke polisi," pungas Hamdin.

(sya/ern)