Bocah Pangandaran Meninggal Diduga Dicabuli, Ortu Desak Polisi Turun Tangan

Faizal Amiruddin - detikNews
Senin, 27 Sep 2021 19:16 WIB
Ilustrasi Pencabulan Anak. Andhika Akbarayansyah/detikcom.
Ilustrasi (Foto: Andhika Akbarayansyah)
Pangandaran -

Keluarga korban dugaan kekerasan seksual yang menyebabkan meninggal dunia akibat penyakit menular seksual, di Kecamatan Cijulang Kabupaten Pangandaran berharap polisi bisa segera mengungkap kasus tersebut.

"Intinya kami meminta keadilan. Kami tidak bisa menerima, penderitaan yang dirasakan oleh anak saya menyakitkan sekali. Pokoknya (kasus hukum) lanjut terus," kata AR bapak tiri korban, Senin (27/9/2021).

Dia mengakui mengungkap kasus kekerasan seksual yang terjadi lebih dari 6 bulan lalu itu tidak mudah. Sejauh ini pihak keluarga hanya berpegang pada rekaman pengakuan korban sebelum meninggal dunia serta fakta bahwa korban meninggal dunia akibat terinfeksi penyakit menular seksual.

"Iya pasti susah, tapi mudah-mudahan polisi bisa mengungkap, walaupun kemarin informasi dari polisi, katanya si terlapor setelah diperiksa negatif penyakit siphilis. Tapi kan mungkin saja dia mah sudah berobat, sementara anak saya tidak diobati. Soalnya siapa yang nyangka, anak kecil kena siphilis, tahu-tahu sudah parah," kata AR.

Selain itu AR juga menjelaskan anak perempuannya itu memang sering bertandang ke rumah terlapor. Korban datang untuk bermain bersama cucunya. "Dia (terlapor) kan punya cucu, anak saya sering main ke sana. Walaupun usianya jauh di bawah, tidak sebaya, tapi dia senang main di sana," kata AR.

Sementara itu Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Pangandaran Ida Nurlaela mengaku prihatin dengan kejadian tersebut. Walaupun kasus kekerasan seksualnya masih dalam tahap penyelidikan polisi, Ida mengingatkan bahwa peristiwa itu harus menjadi pelajaran berharga bagi seluruh orangtua di Pangandaran.

"Ini menyedihkan sekali. Hikmahnya para orangtua harus waspada, pelajari parenting (pola asuh) yang benar. Pantau lingkungan pergaulan anak-anak kita, selalu tanya kabarnya setiap pulang bermain. Ajak komunikasi tentang apa-apa saja yang terjadi di setiap harinya," kata Ida.

Dia mengakui pihaknya sudah membangun sebuah sistem pengawasan dengan membentuk Satgas Pengawasan di setiap desa yang terintegrasi ke Pemda dan kepolisian, namun peran orangtua tetap memegang peranan strategis untuk menghindari kekerasan terhadap anak. "Bukan kita mau menyalahkan orangtua, tapi memang peran orangtua sangat strategis untuk pencegahan," kata Ida.

Lebih lanjut dia mengatakan dalam beberapa bulan terakhir kasus kekerasan seksual terhadap anak. setidaknya dia mencatat ada 2 kasus yang mencolok. "Sering terjadi, sebelumnya muncul kasus di wilayah Kecamatan Padaherang lalu di Kecamatan Pangandaran," kata Ida.

(mud/mud)