Cerita Angkie Yudista Nyaris Putus Asa soal Vaksinasi Disabilitas

Yudha Maulana - detikNews
Sabtu, 25 Sep 2021 16:32 WIB
Staf Khusus Presiden RI Angkie Yudistia
Staf Khusus Presiden RI Angkie Yudistia (Foto: Yudha Maulana/detikcom)
Bandung -

Staf Khusus Presiden RI Angkie Yudistia mengaku sempat nyaris putus asa melihat tren vaksinasi COVID-19 bagi disabilitas yang lajunya amat lambat. Sempat terbesit dalam pikirannya, bahwa vaksinasi bagi disabilitas ini sesuatu yang luar biasa sulit, tapi berkat kolaborasi kebuntuan itu akhirnya bisa terpecahkan.

"Jadi jujur awalnya saya sempat hopeless banget sampai akhirnya ketika kita dipertemukan dengan bu Ira (Ketua IA Unpad) dan jajarannya, kita pasti bisa banget karena kita awalnya 20 persen, 30 persen kok enggak naik-naik ya (trennya). Kita hopeless aja sampai akhirnya kita berkoordinasi dengan banyak pihak, hingga akhirnya gebyar vaksinasi diadakan serentak di 20 kabupaten-kota," ujar Angkie dalam sambutannya di SLBN A Cicendo, Kota Bandung, Sabtu (25/9/2021).

Dari hasil kolaborasi itu, vaksinasi bagi penyandang disabilitas bisa digenjot. Salah satunya pelaksanaan suntik vaksin Sinopharm yang merupakan hibah dari Kerajaan Uni Emirat Arab untuk disabilitas di Indonesia. "Ini semua karena gotong royong, jujur vaksinasi ini sangat luar biasa khususnya untuk penyandang disabilitas," ujar Angkie.

Ia mengatakan ada dua hal yang membuat vaksinasi bagi disabilitas ini sulit dilakukan. Pertama akses bagi disabilitas menuju sentra vaksinasi, kemudian banyak sekali informasi yang keliru yang diterima oleh disabilitas.

"Sehingga banyak banget teman disabilitas yang tidak terlalu dapat informasi vaksin dan bingung bagaimana vaksinasi. Tapi inilah bentuk nyata kolaborasi antar pihak baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, swasta dan organisasi relawan ini sebagai bentuk penanggulangan pandemi kolaborasi positif ke masyarakat dan Jabar jadi percontohan seluruh nasional," tutur Angkie.

Angkie menyebut, Jawa Barat diberi target 60.824 jiwa penyandang disabilitas atau 121.648 dosis, dan hasilnya dosis satu telah diberikan sebanyak 101 persen. Sedangkan, pelaksanaan dosis kedua bagi penyandang disabilitas masih dilaksanakan hari ini.

"Pak presiden menyatakan di PBB kemarin, bahwa no one left behind, tidak ada satu pun yang boleh tertinggal di setiap program pemerintah, termasuk juga kelompok rentan, dan ini juga karena kepemimpinan kepala daerah sebagai satu leadership yang membuktikan Indonesia mampu," katanya melanjutkan.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menyatakan telah memandatkan penyuntikan bagi disabilitas ini kepada IA Unpad. "Hari ini berlangsung kurang lebih di 16 kota dan kabupaten di 23 lokasi vaksinasi," ujar Emi, sapannya.

"Ini menunjukkan bahwa dengan kerja bersama ternyata bisa berhasil. Kami membutuhkan 15 juta dosis vaksin per bulan jika Desember ini Jabar ingin diselesaikan. Total sudah 21.500.000 dosis sudah disuntikkan ke warga Jabar dan rata-rata harian kita sudah tertinggi di Indonesia yaitu 311 ribu vaksin dosis per hari. Mohon doanya agar kita bisa selesaikan," tutur Emil menambahkan.

Herd Immunity di Jabar Tuntas Desember 2021

Pemprov Jawa Barat menargetkan target herd immunity atau kekebalan komunal tuntas pada Desember 2021. Gebyar vaksin menuju target 32 juta jiwa terus dilakukan.

Ketua Divisi Percepatan Vaksinasi COVID-19 Jawa Barat Dedi Supandi mengatakan, disabilitas juga merupakan salah satu kelompok yang mendapat prioritas vaksinasi.

"Memang kalau disabilitas umur 25 tahun ke bawah itu berada di SLB, tapi ada juga difabel yang di atas umur 25 tahun itu di bawah kementerian atau dinas sosial," ujar Dedi di SLBN A Cicendo.

Dedi mengatakan vaksinasi juga dilakukan dengan sistem door to door. Vaksinator mengunjungi disabilitas dari rumah ke rumah. Mengingat disabilitas itu memiliki kerentanan yang beragam.

"Tapi alhamdulillah sudah selesai hari ini, bahkan di Tasik itu kekurangan vaksin sekitar di 7 ribu yang dari difabel," kataya.

Khusus untuk disabilitas, Dedi mengaku, Jawa Barat mendapatkan 121 ribu dosis vaksin yang artinya untuk 61 ribu disabilitas. Sedangkan jumlah disabilitas di sekitar 30 ribu.

"Jadi penyuntikannya difabel dengan pendamping rumusnya," ujar Dedi menambahkan.

Ia mengatakan, vaksin untuk difabel menggunakan Sinopharm yang merupakan pemberian dari Raja Arab Saudi. Di mana awalnya vaksin itu akan digunakan untuk jemaah haji.

Mengingat tidak jadi digunakan untuk jemaah haji, maka vaksin tersebut dihibahkan untuk rakyat Indonesia yang disabilitas di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali.

"Dan capaian Jabar paling tinggi. Dan hari ini rencananya staf khusus kepresidenan akan memberikan penghargaan kepada pak gubernur atas upayanya untuk percepatan dan penuntasan vaksin untuk disabilitas," tutur Dedi.

(yum/bbn)