Sindikat Penipu Modus 'Pembeli Palsu' Toko Online Ditangkap Polisi

Bahtiar Rifa'i - detikNews
Rabu, 15 Sep 2021 14:56 WIB
Polisi membongkar sindikat penipuan pedagang online
Polisi membongkar sindikat penipuan pedagang online (Foto: Bahtiar Rifa'i)
Serang -

Polda Banten menangkap sindikat penipu jualan online dengan modus tukar poin di e-commerce. Sindikat ini menciptakan pembeli-pembeli palsu untuk mendapatkan cashback.

Keempatnya adalah BDK (34), BBK (35), HM (47) penjual seluler dan AT (35) pemilik toko pompa. Mereka membuat akun jual beli dan membeli sendiri untuk kemudian mendapatkan poin. Poin itu mereka tukar untuk membeli barang di toko online yang sama.

"Ketika barang dipesan online, misalnya HP, tidak diantarkan ril barang HP melainkan kotak biscuit. Seolah-olah diterima pembeli. Jadi menciptakan sindikasi sehingga pengantaran itu dianggap sempurna dan pembeli mendapatkan cashback berupa poin," kata Kabid Humas Polda Banten AKBP Shinto Silitonga di Mapolda Banten, Jalan Syekh Nawawi Al Bantani, Serang, Rabu (15/9/2021).

Dirkrimsus Kombes Dedi Supriyadi menambahkan, penyidikan kasus ini terjadi pada 25-27 Agustus di Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang. Jadi, pelaku menggunakan akun pembeli palsu. Pengiriman oleh para tersangka dikirim ke alamat yang tidak beraturan namun tetap diterima oleh mereka sendiri.

"Terduga melakukan penjualan-pembelian sendiri. Barangnya fiktif yang dipesan jenisnya tertentu, tapi yang dimasukan ke kotak jenisnya tertentu. Ini untuk mendapatkan cashback yang diberikan e-commerce dalam hal ini Tokopedia," ujarnya.

Motif mereka memang ingin mendapatkan keuntungan dengan menciptakan akun jual dan pembeli palsu. Satu orang bisa memiliki puluhan akun pembeli yang mereka ciptakan sendiri.

"Satu LP (laporan) yang kita identifikasi, masing-masing satu akun 24 akun yang dikelola," ujarnya.

Dalam periode 4 bulan, satu akun saja katanya bisa menghasilkan Rp 23 juta lebih. Mereka sudah bekerja selama 1 tahun. Dan selama empat bulan terakhir, modus membuat akun penjual dan pembeli palsu ini makin gencar.

"24 akun ini membeli hilir mudi antara penjual dan pembeli. Hanya untuk menjual dan membeli dan pesanan barang tertentu, barangnya beda hanya untuk mendapat cashback. Setelah diinvestigasi Tokopedia Rp 23,9 juta dalam kurun waktu sekitar empat bulan terakhir," ujarnya.

Para tersangka diancam Pasal 115 Undang-undang tentang Perdagangan dan Pasal 51 UU tentang ITE yang ancaman pidananya 12 tahun penjara dan denda Rp 12 miliar.

(bri/mud)