Kronologi Kapal Terbakar-Hilangnya 18 Nelayan Sukabumi dan Cianjur di Maluku

Syahdan Alamsyah - detikNews
Kamis, 09 Sep 2021 11:16 WIB
Ilustrasi Kebakaran. Andhika Akbarayansyah/detikcom.
Ilustrasi kebakaran (Foto: Thinkstock)
Sukabumi -

Kapal motor KM Hentri terbakar di perairan Maluku Tenggara pada Jumat (3/9) lalu. Hingga saat ini dikabarkan ada 18 warga asal Sukabumi dan Cianjur yang bekerja sebagai nelayan turut hilang dan belum diketahui nasibnya.

informasi yang telah dikonfirmasi detikcom, 18 warga asal Sukabumi-Cianjur itu bukanlah nelayan yang mencari ikan di perairan lokal. Mereka diketahui melaut di Muara Angke untuk kemudian berangkat ke perairan Maluku Tenggara.

Berikut kronologi kejadian tersebut:

15 Agustus-18 Agustus 2021

Para nelayan itu diketahui berangkat ke Muara Angke tanggal 15 Agustus dan 18 Agustus dan mulai berangkat ke perairan Merauke menggunakan Kapal Motor Hentri GT 195. Total terdapat 32 nelayan dalam kapal tersebut.

"Kapal tersebut berangkat dari Pelabuhan Muara Angke Jakarta hendak menuju Merauke Provinsi Papua," kata Humas Basarnas Ambon Rizky Budianto melalui sambungan telepon dengan detikcom, Kamis (9/9/2021).

3 September

KM Hentri mengalami kecelakaan, api membakar seluruh badan kapal. Menurut Basarnas kebakaran dipicu gelombang tinggi yang terjadi di sekitar perairan Maluku Tenggara. Saat itu, 30 orang ABK meloncat ke laut sementara dua lainnya terjebak dan diduga terbakar.

"Selama berlayar, sesampainya di perairan Kepulauan Tanimbar sekitar 50 mil antara perairan Kepulauan Tanimbar dan Pulau Tanimbar (Kabupaten Maluku Tenggara), kapal diterjang gelombang setinggi tiga meter sehingga mengalami guncangan hebat. Muncul asap hitam tebal dan kobaran api dari dalam kapal sekitar pukul 05.00 WIT tanggal 3 September 2021," kata Rizky.

Saat itu kapal Hentri terbakar hebat. Para ABK berusaha menyelamatkan diri dengan cara melompat ke laut.

6 September

Dalam kejadian ini, menurut informasi yang diterima Basarnas Ambon, dua orang tewas terjebak di dalam kapal, lima orang selamat, dan 25 orang lainnya dinyatakan hilang.

"Pada tanggal 6 September sekitar pukul 13.00 WIT, 5 orang ABK berhasil ditemukan oleh Kapal Motor Pencari Telur Ikan yang berasal dari Pulau Tanimbar (Kab Maluku tenggara) dalam keadaan selamat. Mereka dievakuasi ke Desa Mun Pulau Tanimbar Kei guna mendapatkan perawatan. Menurut keterangan dari salah satu korban selamat, 30 orang melompat ke dalam air dan berenang menjauhi kapal, namun karena tinggi gelombang sebagian dari mereka terpisah dan hilang," ujar Rizky.

8 September

Kantor Pencarian dan Pertolongan Basarnas Ambon baru menerima informasi soal kecelakaan tersebut. Mereka kemudian melakukan upaya koordinasi dengan sejumlah pihak untuk memastikan kondisi para korban berikut manifest penumpang kapal tersebut.

Pukul 12.30 WIT, Basarnas Ambon melakukan Koordinasi dengan SROP Ambon untuk bantuan MAPEL informasi kecelakaan kapal Hentri ke kapal yang melintasi perairan Kepulauan Tanimbar dan Pulau Tanimbar (Kab Maluku Tenggara).

Pukul 12.35 WIT, Basarnas Ambon melakukan Koordinasi dengan Pos SAR Tual perihal cuaca ekstrem yang saat ini terjadi di Perairan Maluku Tenggara dan sekitarnya. Pukul 12.38 WIT, Basarnas Ambon berkoordinasi dengan Lantamal IX Ambon dan Guspurla Ambon terkait pengarahan KRI LAYARAN yang sementara sedang melaksanakan Patroli di Perairan Kepulauan Aru.

Pukul 12.44 WIT, Basarnas Ambon berkoordinasi dengan Lanal Tual terkait posisi terakhir dari KRI Layaran yang saat ini berada di wilayah bagian timur Kepulauan Aru. Pukul 14.50 WIT, Koordinator Pos SAR Tual berkoordinasi dengan Dandim 1503 Tual terkait upaya pengerahan unsur masyarakat dalam aksi SAR.

Pukul 18.00 WIT, Basarnas Ambon berkoordinasi dengan Pos SAR Tual terkait kondisi Perairan yang ekstrem di Perairan Kep Tanimbar dan Pulau Tanimbar (Kab Maluku Tenggara), sehingga belum memungkinkan untuk pergerakan Unsur Potensi SAR.

9 September

Menurut Rizky hingga saat ini tim pencarian dan pertolongan masih terhambat tingginya gelombang di perairan Maluku Tenggara. Tim SAR melibatkan sejumlah potensi yang ada untuk mencari para korban.

"Informasi yang kami terima hingga saat ini situasi gelombang di perairan tempat kejadian dan sekitarnya masih tinggi. Kabar dari BMKG tinggi gelombang mencapai 3 hingga 4 meter. Meski begitu upaya-upaya akan tetap dilakukan melibatkan Basarnas (Pos SAR Tual), Lantamal IX Ambon, Guspurla Ambon dan Lanal Tual," tutur Rizky.

(sya/bbn)