Cerita Wadah Kerupuk dan Merawat Kebinekaan di Gang Ruhana

Baban Gandapurnama - detikNews
Minggu, 08 Agu 2021 11:09 WIB
Kampung Toleransi di Gang Ruhana Bandung
Warga melintas depan mural yang menampilkan tiga orang berbeda agama saling bergandengan tangan di Gang Ruhana, Kota Bandung. Lokasi ini merupakan salah satu Kampung Toleransi di Kota Bandung. (Foto: Baban Gandapurnama/detikcom)
Bandung -

Aneka mural merefleksikan pesan toleransi mewarnai Gang Ruhana, Kota Bandung. Ada lukisan barongsai merah di ujung tembok dan gambar wadah berisi kerupuk di bawahnya. Goresan huruf putih bertuliskan 'HARAPAN' menghiasi wadah biru itu.

"Harapan kami tetap hidup rukun dan menjaga keberagaman tanpa memandang suku-agama," ucap Rini Ambarwulan (65) kepada detikcom di Gang Ruhana, RT 2 RW 2, Kelurahan Paledang, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung, Jumat (6/8).

"Mau kerupuknya gosong dan tidak gosong, kami tetap bersatu. Analoginya, warga Gang Ruhana berada dalam satu wadah dan menyatu seperti kerupuk ini," kata Tince, sapaan Rini, sembari telunjuk tangan kanan mengarah ke gambar wadah kerupuk.

Kampung Toleransi di Gang Ruhana BandungKampung Toleransi di Gang Ruhana, Kota Bandung. Beragam mural tersaji, di antaranya gambar barongsai dan wadah kerupuk. (Foto: Baban Gandapurnama/detikcom)

Gang Ruhana menyandang julukan Kampung Toleransi yang diresmikan Pemkot Bandung pada 2018. Kendati berlabel kampung, lokasi gang ini sebenarnya berada di tengah kota. Butuh dua menit berjalan kaki dari gerbang gedung SMAN 7. Hanya berjarak sekitar 1,2 kilometer dari Masjid Agung Bandung dan Gedung Merdeka.

"Sebelum diberi nama Kampung Toleransi, sebenarnya semua warga di sini sejak dulu memupuk toleransi. Turun-temurun sampai generasi sekarang," tutur Tince yang menjabat Ketua RW 2.

Pernyataan Tince diamini Daniel Sriyoto. Ia menjelaskan warga Gang Ruhana senantiasa menyemai kebaikan.

"Kita menjalaninya dengan keakraban. Masyarakat di sini baik-baik, nggak ada masalah" ujar Daniel, pimpinan Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Lengkong Kecil (LK).

Kerukunan antarumat beragama di kawasan ini sudah mendarah daging dan terbentuk sejak lama. Warganya teguh menghormati perbedaan dan menjauhi perselisihan.

"Jadilah menjadi manusia yang saling menghargai," kata Daniel.

Senada diungkapkan Lili (59) selaku penjaga Vihara Giri Metta. Dia sejak usia anak hingga remaja tinggal di Gang Ruhana. Sempat pindah tempat karena ikut sang suami, kini Lili kembali ke kampung halaman.

"Baru setahun lebih kembali ke sini. Ternyata nggak ada perbedaan. Sudah empat generasi ini warga Gang Ruhana tetap santun dan saling menghargai. Selalu mempererat kebersamaan. Warga di daerah ini kayak saudara," tutur Lili.

Tiga Rumah Ibadah Berdampingan

Tiga tempat ibadah berjejer sebaris di Gang Ruhana. Bangunan GPdI LK letaknya di mulut gang. Berikutnya, Masjid Al Amanah yang terpisah dua bangunan dari gereja. Kemudian, Vihara Giri Metta saling berdampingan dengan masjid.

"Bangunan masjid dan vihara bersebelahan. Kalau dari gereja ke masjid dan vihara tinggal jalan, ya dekat," kata Tince.

Kampung Toleransi di Gang Ruhana BandungTiga rumah ibadah terdiri dari Masjid Al Amanah, GPdI LK dan Vihara Giri Metta yang berada di Kampung Toleransi, Gang Ruhana, RT RW 2, Kota Bandung. (Foto: Baban Gandapurnama/detikcom)

Gereja tersebut dibangun pada 1931. Sedangkan vihara didirikan oleh Wong Yun Lin sejak 1946. "Kalau Masjid Al Amanah ini berdiri 2014. Asalnya rumah, kemudian dibangun masjid," ucap Tince.

Di masa pandemi COVID-19, masing-masing jemaah tetap beribadah dengan menerapkan protokol kesehatan. Jemaat GPdI LK, misalnya, rutin ibadah meski via daring.

"Pelaksanaan ibadahnya sementara virtual," ujar pimpinan GPdI LK, Daniel Sriyoto.

Semangat toleransi tak kendur dilakoni warga. Mereka kompak saling membantu saat persiapan hari keagamaan (lebaran, natal dan imlek) serta turun bareng menggelar bakti sosial.

Karakter merawat kebinekaan itu dituangkan dalam gambar tiga orang berbeda agama saling bergandengan tangan. Nama mendiang Ruhana, perempuan yang tersohor di kawasan ini, turut diabadikan lewat mural dengan akronim: 'Rukun, Unggul, Hijau, Aman, Nyaman dan Amanah'.

"Berbeda itu indah. Warga saling menghormati dan menjaga kebinekaan sehingga tak terjadi perpecahan," kata Tince.

Kampung Toleransi di Kota BandungNama mendiang Ruhana, perempuan yang tersohor di kawasan ini, turut diabadikan lewat mural dengan akronim: 'Rukun, Unggul, Hijau, Aman, Nyaman dan Amanah'. (Foto: Baban Gandapurnama/detikcom)
(bbn/mud)