Melihat Miniatur Kapal Pinisi Karya Penyandang Disabilitas Purwakarta

Dian Firmansyah - detikNews
Jumat, 06 Agu 2021 17:22 WIB
Aep, penyandang disabilitas asal Purwakarta tengah membuat perahu pinisi.
Foto: Aep, penyandang disabilitas asal Purwakarta tengah membuat perahu pinisi (Dian Firmansyah/detikcom).
Purwakarta -

Keterbatasan fisik bukan berarti harus terpuruk dengan keadaan. Aep Saepudin (40), seorang penyandang disabilitas warga, Kampung Sukamaju, RT 11 RW 06, Desa Pasawahan, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, mampu menghasilkan karya seni yang ciamik dari tangan dinginnya.

Ia membuat kerajinan berbahan dasar limbah bambu. Dari bambu itu, dia olah hingga menghasilkan berbagai karya mulai dari lampu hias, sangkar burung, miniatur kapal pinisi hingga produk kerajinan lainnya.

Aep mengaku mulai merintis usaha kerajinan tersebut sejak lima tahun silam, setelah tempet kerja sebelumnya mengalami bangkrut. Kerajinan bermula pada sangkar burung, namun adanya badai pandemi membuat pemesan merosot. Ia beralih membuat miniatur perahu pinisi hingga sekarang.

"Kalau membuat sangkar burung itu mulai 2011 dan semenjak adanya pandemi COVID-19 saya mulai membuat kerajinan lain seperti miniatur kapal pinisi, dudukan lampu, dan lainya. Awal hasil pembuatan belum rapi. Terus dipelajari dan coba membuat lagi. Tidak menyerah dan terus berusaha," ujar Aep, saat ditemui di rumahnya, Jumat (06/08/2021).

Dilihat detikcom, dengan terampil Aep membuat satu unit miniatur perahu pinisi pesanan salah satu perusahaan di wilayah Bogor. Dia susun bambu yang diserut menjadi tipis untuk bagian body perahu, sedangkan untuk kerangka menggunakan batang bambu.

Dengan perekat lem, hiasan demi hiasan, ia tempel hingga menghasilkan perahu pinisi yang ciamik. Ornamen yang ada di perahu sesungguhnya ia mencoba buat semirip mungkin.

Ketika ditanya penyebab kedua kakinya tidak sempurna, Aep menceritakan dengan nada yang sedih. Kondisi ini terjadi sejak ia berusia dua tahun. Saat itu, dia terjatuh hingag dua kali di atas ayunan dan tangga.

"Kata orang tua saya, dulu saya jatuh dari ayunan, sudah satu minggu orang tua belum menyadar , lalu ketika saya mau di berdiriin kaki saya tidak bisa berdiri, tubuh panas dam lemas. Mereka sudah bawa saya berobat namun tuhan berkehendak lain. Saya harus seperti ini," ungkapnya.

Beranjak remaja, ia merasa minder dengan keterbatasan fisiknya. Namun karena tekad hati yang kuat, ia mampu menjalani hidup hingga saat ini mampu menghasilkan karya seni yang menjadi pundi-pundi rupiah.

"Awalnya sih saya minder dengan keterbatasan ini, tapi saya tidak mau menyusahkan orang tua, saya berusaha dan tidak mau jadi orang yang minta-minta," ungkapnya.

Aep sendiri memang memiliki hobi berkreasi sejak dulu, seperti membuat layang-layang, kandang ayam, sangkar burung. Meski belum banyak menghasilkan, Aep tetap optimistis dengan usaha yang dirintis kali ini akan berkembang apabila ditekuni secara serius.

"Bagi saya, keluarga adalah sumber inspirasi untuk terus berjuang. Saya pun memiliki cita-cita ingin mengajak teman-teman sesama diffable dalam usaha yang saya lakoni ini," tutur Aep.

Saat ini berbagai produk kerajinannya dijual secara online ke berbagai kota ataupun melalui teman-temannya. Untuk harganya sendiri bervariatif sesuai dengan pesanan yang berkisar dari yang termurah senilai Rp 50 ribu hingga termahal senilai Rp 500 ribu.

(mso/mso)