Kasus Korupsi Masker, Kadinkes Banten Ngaku Setujui Harga Satuan Rp 220 Ribu

Bahtiar Rifa'i - detikNews
Rabu, 04 Agu 2021 22:06 WIB
Sidang Dugaan Korupsi Masker di Banten
Foto: Sidang dugaan korupsi pengadaan masker Banten (Bahtiar Rifa'i/detikcom).
Serang -

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten Ati Pramudji Hastuti mengakui menyetujui perubahan harga masker KN95 dari awalnya Rp 70 ribu ke Rp 220 ribu yang jadi perkara dugaan korupsi. Perubahan itu dituangkan karena ada penawaran PT Right Asia Medika (RAM) yang direkturnya jadi terdakwa.

Di depan majelis hakim Pengadilan Tipikor Serang, Ati memberi kesaksian bahwa persetujuan itu atas kesepakatan dirinya, terdakwa Lia Susanti selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan Khania Ratnasari selaku tim pendukung teknis PPK.

"Iya (saya yang memutuskan). Di situ ada Lia (terdakwa) dan Khania," kata Kadinkes saat memberi kesaksian di hadapan majelis hakim yang diketuai Slamet Widodo, Serang, Rabu (4/8/2021).

Perubahan itu dituangkan di Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang diajukan pada 26 Maret 2020. Total anggaran RAB itu Rp 115 miliar dan ada satu pengadaan masker di dalamnya.

"Pengusulan saya, saya yang tanda tangan, saya mengajukan ke BPKAD," katanya.

Di RAB itu katanya ada beberapa perubahan. Awalnya adalah Rp 70 ribu dan diubah jadi Rp 250 ribu. Perubahan kedua adalah Rp 220 ribu begitu ada penawaran dari PT RAM yang diajukan oleh terdakwa Agus Suryadinata.

"Jadi saat itu bertanya ke satgas tim pendampingan, Teknik merubahnya kita tanya ke BPKAD. Itu saya minta kasubag koordinasi ke BPKAD. Kalau kita nggak merubah RAB, nggak bisa beli masker," alasannya.

Masker yang dibeli dengan harga Rp 220 ribu sebanyak 15 ribu buah dari PT RAM ia akui didistribusikan ke RSUD Banten dan Labkesda. Ada juga rumah sakit rujukan COVID-19 yang menerima di kabupaten kota. Tapi, paling banyak ke RSUD Banten karena untuk melakukan tracing.

Sebelumnya, di persidangan hari ini saksi Khania mengaku bahwa bahwa terdakwa Agus dari PT RAM mengajukan penawaran pengadaan masker KN95 dengan harga satuan Rp 220 ribu. penawaran itu berdasarkan pesan yang disampaikan terdakwa atas perintah Kadinkes.

"Assalamualaikum ibu Khania, saya diperintah ibu kadis untuk ketemu ibu Khania menawarkan masker," ucap saksi.

Namun, Kadinkes membantah itu dianggap hanya mengatasnamakan dirinya. Saat itu memang katanya para nakes buruh masker dan dia terdesak oleh keadaan.

"Biasanya yang namanya kepala dinas, yang mengatasnamakan kepala dinas. Tapi boleh tanya ke ibu Khania (saksi) apakah saya mengatakan tolong ini itu," ujarnya.

Terdakwa lain di kasus ini adalah direktur PT RAM Wahyudin Firdaus. Kasus korupsi 15 ribu masker COVID-19 ini merugikan negara hingga Rp 1,6 miliar.

(bri/mso)