Petani Sawi Keluhkan Gagal Panen, Kades Sukabumi Minta Tolong Mentan

Syahdan Alamsyah - detikNews
Selasa, 03 Agu 2021 19:54 WIB
Petani sawi di Sukabumi gagal panen hingga minta tolong Mentan
Petani sawi di Sukabumi gagal panen hingga minta tolong Mentan (Foto: Istimewa)
Sukabumi -

Sebuah video sejumlah petani sawi mengaku mengalami gagal panen pasca pemberlakuan PPKM. Dalam video itu disebut, sawi tidak bisa dijual karena tidak berharga hingga petani memilih untuk membabat tanaman mereka.

"Assalamuallaikum, yang terhormat menteri pertanian Republik Indonesia. Inilah kisah para petani yang ada di Indonesia yang ada di Kabupaten Sukabumi, khususmya lagi yang ada di Desa/Kecamatan Kebonpedes. Inilah dampak PPKM, para petani sangat menjerit sekali, sehingga gagal panen di pasaran ga ada harganya 0 persen 0 rupiah. Tolong bapak menteri pertanian tolong perhatikan masyarakat yang kecil ini. Sebagian besar para petani inilah di babad habis, tidak ada harga serupiah pun. Tolong perhatikan, menamam ini dengan modal. Apalagi pupuk susah, pupuk langka. Inilah kisah para petani yang sangat menjerit sekali, merasakan pahitnya kehidulan ini apalagi dengan adanya PPKM Darurat, tidak cukup diberi sembako tidak cukup diberi BST tolong perhatikan ini pak menteri pertanian Republik Indonesia, salam hormat dari kami Kades Kebonpedes Dadan Aprandani," teriak suara pria dalam video tersebut.

Detikcom kemudian menghubungi Kades Kebonpedes, Dadan Aprandani. Ia membenarkan video itu sengaja ia buat spontan karena melihat kesulitan warganya yang mayoritas sebagai petani tanaman sawi.

"Saya sendiri yang merekam, jadi awalnya masyarakat mengeluh kepada saya sebagai kepala desa bahwa dengan kebijakan pemerintah dengan adanya PPKM Darurat harga Sawi itu 0 rupiah, tidak ada harganya dikasihpun pada warga khususnya Kebonpedes pada enggak mau, karena sebagian besar nanam," kata Dadan kepada detikcom, Selasa (3/8/2021).

Dadan mengatakan video itu direkam satu minggu yang lalu, saat itu dia melihat langsung tanaman sawi yang gagal panen karena tidak bisa dijual. Diantara tanaman sawi itu ada yang memang milik sawah desa yang juga mengalami gagal panen.

"Itu sudah seminggu ke belakang tatkala saya meninjau sawah kebetulan yang mengurusnya warga. Ada sawah aset desa melihat kesana, sudah beberapa menawarkan ke tengkulak jawabannya jangankan membayar sawi buat operasional juga buat panen dan operasional ke pasar nombok," cerita Dadan.

"Makanya oh ini kasian sekali, saya tanya ke tengkulak lain ya adalah disini ada tengkulak besar khusus sawi di sini, dia juga dari sebulan itu sudah kontrak 100 ton perbulan dia juga nanam sendiri nombok Rp 700 ribu, untuk biaya operasional panen plus ongkir," sambung Dadan.

Dadan kembali menjelaskan bahwa ia merekam video tersebut secara spontan setelah melihat langsung situasi tanaman sawi dan nasib warganya yang menanam. Ia kemudian mengeluarkan unek-unek dengan merekam video tersebut.

"Jadi itu sebenarnya tidak sengaja spontan, dengan adanya petani gagal panen. Saya merasa mewakili para petani spontan lah gitu, mewakili petani untuk ibaratnya mengeluarkan unek-unek dengan adanya kebijakan pemerintah sekarang masyarakat ngomong jujur saja bukan saya mengada-ngada. Masyarakat sekarang tidak perlu BST tidak perlu Bansos. Yang perlu itu tolong perhatikan masyarakat jangan membuat kebijakan yang merugikan masyarakat itu intinya," jelas Dadan.

Untuk di wilayah Kebonpedes sendiri, Dadan menyebut ada lebih dari 20 hektar lahan yang semuanya ditanami sawi.

"Kalau di desa kebonpedes itu yang nanam enggak kurang dari 20 hektar yang terlihat oleh mata kita saja, karena di wilayah itu yang 20 hektar belum kampung lainnya di wilayah desa kebonpedes, di wilayah lain juga sama," papar dia.

Video itu disebut Dadan viral hingga sampai ke legislator di senayan dan Kabupaten Sukabumi hari ini sejumlah wakil rakyat mendatangi dan melihat langsung kondisu faktual di lapangan.

"Tadi sudah ada dari Anggota Komisi IV DPR-RI Dapil Sukabumi, drh. Slamet, Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi, Yudha Sukmagara bersama Ketua Pemuda Tani Provinsi Jawa Barat dan Ketua Pemuda Tani Kabupaten Sukabumi serta Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat. Mereka menindaklanjuti video tersebut," pungkasnya.
Attachments area

(sya/mud)