Jejak Surat Kabar Berbahasa Sunda-Belanda dari Kalangan Menak Sumedang

Nur Azis - detikNews
Selasa, 03 Agu 2021 08:41 WIB
Bukti Literatur Surat Kabar Berbahasa Sunda-Belanda pada Harian Simpaj di Sumedang pada masa Kolonial Belanda.s
Foto: Bukti Literatur Surat Kabar Berbahasa Sunda-Belanda pada Harian Simpaj di Sumedang pada masa Kolonial Belanda (Istimewa).
Sumedang -

Berbicara sejarah surat kabar masa kolonial Belanda khususnya yang berbahasa Sunda-Belanda, maka surat kabar dari kalangan Menak Sumedang ini kiranya patut masuk dalam daftar sejarah persuratkabaran di Indonesia. Surat kabar itu yakni, Surat Kabar Simpaj (dibaca: Simpay).

Surat kabar Simpaj didirikan oleh Perkumpulan Saudara Sumedang Soeria Koesoemah Adinata yang terbit pertama kali pada September 1936. Surat kabar ini beredar setiap tiga bulan sekali.

Orang yang berjasa dibalik berdirinya perkumpulan sekaligus penerbitannya adalah Pengeran Aria Soeria Atmadja. Hal itu bisa terlihat pada terbitan pertama yang memuat foto dirinya dengan pakaian ala bangsawan di halaman pertamanya. Kemudian pada halaman kedua, memuat tentang biografi singkatnya dari mulai kelahiran sampai wafatnya.

Perkumpulan Saudara Sumedang Soeria Koesoemah Adinata sendiri berdiri pada tanggal 11 Juli 1921. Perkumpulan ini konon akan didirikan selama 29 tahun.

Bukti Literatur Surat Kabar Berbahasa Sunda-Belanda pada Harian Simpaj di Sumedang pada masa Kolonial Belanda.sBukti Literatur Surat Kabar Berbahasa Sunda-Belanda pada Harian Simpaj di Sumedang pada masa Kolonial Belanda. Foto: Istimewa

Hal itu sebagaimana tertuang dalam Simpaj terbitan 1 September 1936 halaman 11: "Ieu perkoempoelan dingaranan Soeria Koesoema Adinata Bond, sarta diadegkeunana pikeun 29 taoeneun mimiti tanggal 11 Juli 1921 (Perkumpulan ini dinamakan Soeria Koesoema Adinata Bond, dan didirikan untuk 29 tahun dari mulai tanggal 11 Juli 1921),"

Hal itu dipaparkan dalam buku kumpulan essainya Hafidz Azhar dengan judul Jejak Kecil di Pinggiran; Dari Badui Arab hingga Rekayasa Digital (2019).

Saat dihubungi detikcom, penulis buku, Hafidz menjelaskan Perkumpulan Soeria Koesoemah Adinata didirikan sebagai bentuk penghormatan kepada pendahulunya, yakni Pangeran Soeria Koesoema Adinata mantan Bupati Sumedang tahun 1833/1836 sampai 1882 dan juga sebagai sarana untuk memperkuat persaudaraan kaum menak kala itu.

"Dalam penerbitannya, surat kabar Simpaj diredakturi oleh Raden Asik Natanegara," ungkap Hafidz yang hobbi membaca literatur-literatur masa kolonial Belanda, Selasa (3/8/2021).

Jadi, kata Hafidz, Perkumpulan Sumedang Soeria Koesoemah Adinata merupakan organisasi kalangan menak. "Nama perkumpulan itu diambil dari nama Pangeran Soeria Koesoema Adinata dengan cabangnya ada diberbagai daerah seperti cabang Bandung, Tasik, Betawi, Ciamis, Bogor dan cabang Sukabumi," ujarnya.

Dia menjelaskan surat kabar Simpaj dengan nama yang sama, sebenarnya telah didirikan di Bandung atau tepatnya di Jalan Karapitan, nomor 105, tahun 1931. "Namun surat kabar itu terakhir terbit pada April 1932," ujarnya.

Surat kabar tersebut, lanjut dia, didirikan oleh Partai Indonesia wilayah Bandung dengan kontennya yang berisi seputar politik dan nasionalisme. "Tema-tema besar mengenai isu kebangkitan, rakyat, dan kemerdekaan kerap dimunculkan pada sejumlah artikel-artikel yang banyak ditulis oleh redaksi. Salah satunya, tulisan yang berjudul Getih Kabangsaan (Darah Kebangsaan)," terangnya.

Sementara surat kabar Simpaj keluaran Perkumpulan Saudara Sumedang lebih menitik beratkan informasi tentang organisasinya.

"Bagaimana perkumpulan ini berkembang, cabang mana saja yang sudah berdiri dan aspek apa yang membuat perkumpulan tersebut mandek, menjadi ruang lingkup yang selalu dibahas dalam media itu," ungkapnya.