Pemkot Bandung Minta Ada Relaksasi Jika PPKM Diperpanjang

Hakim Ghani, Wisma Putra - detikNews
Senin, 02 Agu 2021 16:26 WIB
Sekda Bandung Ema Sumarna
Foto: Sekda Bandung Ema Sumarna (Wisma Putra/detikcom).
Bandung -

Pemerintah Kota Bandung meminta kelonggaran aturan kepada pemerintah pusat jika Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4 kembali diperpanjang. Salah satunya, sektor non esensial kembali dibuka dengan aturan dan ketentuan berlaku. Seperti mal kembali dibuka dengan kapasitas 25 persen.

"Minta ada relaksasi itu, tapi dengan catatan semua dengan super prokes," kata Sekretaris Daerah Bandung Ema Sumarna di Pemkot Bandung, Senin (2/8/2021).

Ema mengungkapkan, pihaknya banyak mendapatkan aspirasi dan masukan dari pelaku ekonomi. "Ada aspirasi, ada dine in kapasitas 25 persen, tidak serta merta langsung 50 persen. Seperti mereka bertanya, sulit juga saya menjawab. Kenapa tukang cukur yang individu boleh melayani konsumen, kenapa yang di mal enggak boleh. Ini juga saya bingung, kenapa PKL kuliner bisa dine in, di restoran tidak boleh," ungkapnya.

Ema menjelaskan, jika relaksasi tidak dilakukan maka perekonomian di Kota Bandung akan semakin terpuruk. "Aspirasi ini oleh kita disampaikan ke Wali Kota. Minta ada relaksasi (kalau diperpanjang), kita tidak bisa membiarkan kondisi ekonomi semakin terpuruk, kalau semakin terpuruk yang rugi ya masyarakat juga," ucapnya.

Ema mengatakan mal dibuka, tapi sektor non esensialnya masih belum dibuka. "Mal itu sekarang dibuka, tapi dibukanya itu untuk tertentu. Semua dibuka dan yang non esensialnya diberikan ruang untuk beraktivitas walaupun 25 persen (aspirasi)," katanya.

"Itu aspirasi ya, bukan kebijakan. Tolong digaris bawahi, kita sampaikan, Pak Wali Kota itu sebagai kepala daerah, sebagai bapaknya masyarakat. Secara politik beliau menaati Imendagri, sebagai kepala daerah beliau harus mendengar, menyampaikan apa yang menjadi keinginan dari warganya," tambahnya.

Saat disinggung, kriteria penurunan level dari 4 ke 3,Ema menyebut ada beberapa indikator. "Biasanya terjadi penurunan dari BOR, kemudian dari tingkat kasus semakin terkendali, kemudian istilahnyapositivityratenya, biasanya hal-hal semacam itu yang bisa berpengaruh bahwa sekarang ini labelnya apakah resiko tinggi atau sedang,"pungkasnya.