Ridwan Kamil Akan Tambah 2.400 Tempat Tidur Pasien COVID-19, Nakes Siap?

Yudha Maulana - detikNews
Selasa, 22 Jun 2021 21:12 WIB
Ridwan Kamil pantau ketersediaan tempat tidur pasien Corona di RSHS Bandung
Foto: Istimewa
Bandung -

Rencana Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil untuk menambah 2.400 tempat tidur di rumah sakit rujukan COVID-19. Bagaimana tenaga medisnya? Siapkah?

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Provinsi Jawa Barat dr Eka Mulyana mengatakan saat ini banyak tenaga kesehatan (nakes) yang menjalankan isolasi karena terpapar COVID-19.

"Ada di suatu rumah sakit, 11 dokter spesialisnya dalam waktu nyaris bersamaan positif COVID-19, tentu ini mengganggu pelayanan, di samping itu kita membutuhkan tenaga tambahan," kata Eka dihubungi detikcom, Selasa (22/6/2021).

Saat ini, ujar Eka, terjadi lonjakan kasus terkonfirmasi positif COVID-19 di Tanah air. Bahkan, menurutnya tingkat keterisian tempat tidur (BOR) rumah sakit di Bandung Raya hampir menyentuh angka 90 persen.

"Di RSHS saja semalam, ada 50 antrean pasien yang mau masuk IGD RSHS. Belum juga Al Ihsan sama, apa yang dicanangkan pak gubernur 2.400 tempat tidur tambahan adalah salah satu jalan peningkatan 3T," katanya.

"3T ini tracing ditingkatkan, treatment ditingkatkan selain obat-obatan juga perawatan, tempat tidur begitu. Sehubungan dengan tempat tidur ini perlu ada tambahan tenaga medis, tenaga kesehatan jadi kami sudah beberapa kali rapat dengan pemprov untuk menanggulangi hal ini," kata Eka melanjutkan.

Pihaknya pun bersama Pemprov Jabar tengah membuka rekrutmen tenaga medis tambahan untuk penanganan pandemi. Ia berharap, rekrutmen ini bisa memenuhi kebutuhan tenaga medis di Jabar.

"Salah satunya dengan membuka link melalui Pikobar. Untuk relawan covid tenaga medis maupun tenaga kesehatan lainnya tentu dengan berbagai hak dan kewajibannya kira-kira begitu. Ini sudah ditekankan oleh Pemprov dalam hal ini pak Sekda melalui bu (plt) Kadinkes," katanya.

"Tenaga dokter di Jabar atau secara umum di tanah air ada dua. Ada yang bekerja di institusi pemerintah, ada tenaga medis di lab, klinik, mandiri dan sebagainya. Kita buka link melalui itu. Kami dari IDI membuka jalur penambahan tenaga dokter," katanya.

Sejauh ini, kata Eka, manajemen rumah sakit terus-terusan menyesuaikan jadwal kerja bagi para nakesnya. Terlebih jika ada sebagian nakesnya yang terpapar Corona, sehingga nakes yang sehat tidak bekerja over time, dan kondisinya tetap prima.

"Kami dari tenaga medis siap tidak siap harus siap. Masalahnya adalah pendukungnya harus disiapkan, sarana prasarana di RS. Jam kerjanya bagaimana pun ini tidak lepas dari faktor kelelahan over time ini membuat daya tahan tubuh turun, siap kami harus siap. Tetapi supaya tidak terpapar harus diperhatikan juga hal-hal lainnya juga," katanya.

Sementara itu, Ketua Divisi Penanganan Kesehatan Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 Jabar Marion Siagian mengatakan, pihaknya sudah mengirim surat edaran ke rumah sakit untuk mengonversi 30-40 persen dari total kapasitas TT RS sebagai tempat tidur perawatan COVID-19.

"Kemudian di internal RS sendiri dilakukan refocusing tenaga-tenaga yang melayani non-COVID-19 untuk merawat pasien COVID-19 karena penambahan tempat tidur harus disertai penambahan SDM. Perawatan pasien COVID-19 juga membutuhkan penanganan dari tenaga-tenaga dari berbagai disiplin ilmu yang kompeten di bidangnya," kata Marion dalam Podcast Juara.

"Apalagi penanganan di ruang ICU. Butuh tenaga kesehatan yang memang kompeten dalam mengoperasikan peralatan di ICU. Mereka harus sudah terlatih. Setiap pasien COVID-19 di ICU membutuhkan pengawasan dokter dan perawat yang terus-menerus melakukan pemantauan terhadap status kesehatan pasien tersebut," ujar Marion melanjutkan.

Pemprov Jabar telah membuka rekrutmen Tim Relawan Medis Penanganan COVID-19. Rekrutmen dilakukan guna memperkuat SDM tenaga kesehatan di rumah sakit yang kini makin kewalahan karena menghadapi lonjakan kasus COVID-19.

Nantinya, relawan yang mendaftar akan ditempatkan di sejumlah rumah sakit khususnya di Bandung Raya. Seperti diketahui Gubernur Jabar Ridwan Kamil yang juga Ketua Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Daerah Jabar menetapkan Bandung Raya dalam status siaga 1 akibat lonjakan kasus pascalibur Lebaran.

Selain penambahan kapasitas dan penguatan SDM, kata Marion, Pemprov akan memfasilitasi alat medis untuk perawatan pasien COVID-19. Mulai dari Alat Pelindung Diri (APD) dan Bahan Medis Habis Pakai (BMHP).

"Sekarang sedang diidentifikasi fasyankes yang membutuhkan bantuan. Jadi bukan hanya rumah sakit, tetapi juga laboratorium. Dan tenaga pendukung sedang diidentifikasi tenaga pendukung yang mana yang dibutuhkan? Misalnya tenaga penginput data juga diperlukan karena data harus masuk real time," ucapnya.

(yum/ern)