Unak Anik Jabar

Cerita Manusia Berkepala Anjing Penjaga Gunung Sanggabuana Karawang

Yuda Febrian Silitonga - detikNews
Minggu, 20 Jun 2021 12:09 WIB
Gunung Sanggabuana
Foto: Gunung Sanggabuana (Yuda Febrian Silitonga/detikcom).
Karawang -

Gunung Sanggabuana, merupakan satu-satunya dataran tinggi yang ada di Kabupaten Karawang. Terletak di Selatan Karawang, gunung dengan hutan yang masih rapat, dan banyak dihuni satwa langka endemik jawa ini berada di empat kabupaten, yaitu Karawang, Purwakarta, Bogor, dan Cianjur. Selain kaya akan satwa langka endemik jawa, Sanggabuana juga memiliki cerita mistis yang menjadi 'buah bibir' masyarakat.

Saat detikcom mencoba menelusurinya, tokoh masyarakat, yang juga pegiat lingkungan di Karawang, Ajay Wijaya mengungkapkan banyak keistimewaan yang dimiliki Gunung Sanggabuana. Bukan sekadar pesona alamnya, namun kisah Aul manusia berkepala anjing, yang diyakini ada menjaga pegunungan Sanggabuana.

"Gunung Sanggabuana ini, terkenal bukan hanya dari pesona alamnya, melainkan adanya keyakinan di masyarakat pegunungan tentang sosok Aul manusia berkepala anjing yang menjaga gunung," kata Ajay yang aktif juga sebagai pembina dari komunitas Pepeling Karawang saat ditemui belum lama ini.

Ia menuturkan dari cerita para tetua di kampung Tipar, salah satu kampung di lereng pegunungan Sanggabuana, Aul ini beberapa kali terlihat oleh masyarakat di hutan sekitaran kampung Tipar.

"Kampung Tipar sendiri yang berasal dari kata 'titipan karuhun' pada masa peperangan melawan kompeni, dulu dipakai sebagai tempat untuk menyuplai logistik pasukannya Adipati Singaperbangsa, dan di kampung ini ia biasanya muncul, menurut warga," ungkapnya.

Aul, kata Ajay, biasanya muncul pada saat malam hari tepat pada saat bulan purnama. "Biasanya diawali dengan suara burung, dan satwa lainnya, serta binatang peliharaan masyarakat. Menurut kepercayaan masyarakat, Aul ini mendiami sebuah goa di balik batu besar yang ada di dinding ari, sebuah puncak gunung yang berada di jajaran pegunungan," ucapnya.

Sementara itu, informasi terkait kisah Aul juga didapatkan dari Annisa Sutarno salah satu tim dari 'Sanggabuana Wildlife Expedition' yang pernah mendengar cerita Aul ini. Namun dalam ekspedisi yang dilakukan beberapa kali di Sanggabuana sejak tahun 2020 tidak pernah menjumpai Aul. Padahal Annisa dan tim pertama kali ekspedisi dimulai dari Kampung Tipar, menyusuri hutan di Curug Cipanunda sampai ke puncak dinding ari dan sempat menginap di sebuah tebing di balik puncak tersebut.

"Jalur ekspedisi ini menurut cerita masyarakat adalah daerah di mana sering ditemui keberadaan Aul, namun kami dari tim belum pernah bertemu dengan sosok Aul itu," kata Annisa saat dihubungi melalui telepon selular.

Selama ekspedisi, ia hanya menemukan banyaknya satwa endemik jawa di jajaran pegunungan Sanggabuana. Dari hasil ekspedisinya selama tahun 2020-2021, tercatat beberapa satwa endemik jawa yang ditemukan di jajaran Pegunungan Sanggabuana.

"Seperti ditemukannya Owa Jawa (Hylobates moloch), Surili (Presbytis comata), Lutung Jawa (Trachypitecus auratus), Elang Jawa (Nisaetus bartelsi), Macan Tutul/Macan Kumbang (Panthera pardus melas), dan sigung jawa (Mydaus javanensis). Selain itu ditemukan juga alap alap capung (Microhierax fringillairus) yang merupakan alap-alap terecil di dunia," terangnya.

Perihal kisah Aul, Bernard T. Wahyu Wiryanta, sebagai Ketua 'Sanggabuana Wildlife Expedition' pernah mencoba menelusuri kebenarannya. Dari hasil pengumpulan informasi yang didapatkannya, Aul masih menjadi cerita yang melegenda di masyarakat Karawang. Namun ia pun pernah mengalami pengalaman yang luar biasa saat ekspedisi.

"Dikisahkan, dulu Aul adalah salah satu prajurit pengikut Raden Adipati Singaperbangsa, Bupati pertama Karawang yang menjabat pada kurun waktu 1633-1677. Aul ini menurut cerita merupakan prajurit yang sangat sakti. Salah satu kesaktiannya karena mempunyai ajian rawa rontek, satu kesaktian yang mampu menyatukan bagian tubuh yang terpengal musuh," terangnya.

Kemudian, lanjutnya, konon dalam sebuah pertempuran, Aul ini kepalanya terpenggal, dan musuh yang mengetahui ajian rawarontek, kemudian membawa kepala Aul dan menguburnya. "Alhasil, Aul ini mengambil kepala dan memasangnya di leher, yang ternyata bukan kepala dia tetapi kepala anjing karena malu, Aul ini kemudian mengasingkan ke hutan di kawasan jajaran pegunungan Sanggabuana," katanya.

Namun, ia mengakui pernah mengalami pengalaman berbeda, pada April 2021 ketika meneruskan ekspedisi untuk mendata flora dan fauna di jajaran pegunungan Sanggabuana.

"Saat itu, pukul 3 pagi, saya mendengar gonggongan anjing, tapi sangat berbeda, saya kebetulan pernah menjadi pelatih dan pawang anjing, untuk anjing pelacak dan anjing penjaga, tau karakter dan suara gonggongan anjing, terus hal aneh diikuti suara burung riuh, babi hutan, primata dan satwa lain yang seperti ketakutan dan berhamburan. Malam itu, tepat sekali pas bulan purnama. Saya pikir ini anjing hutan. Suara ini menemani malam hampir selama satu jam dan semakin mendekat," kata Bernard yang merupakan salah satu penulis buku untuk materi pelajaran di Direktorat Polisi Satwa Baharkam Polri ini.

Keesokan harinya, setelah turun ke kampung dan bercerita ke warga sekitar baru Bernard mendapat penjelasan, dan cerita mengenai Aul.

"Ciri-ciri kejadian dan suaranya, juga waktunya pas bulan purnama yang diceritakan masyarakat mengacu pada Aul. Tapi Bernard tidak begitu yakin," katanya.

Menurutnya, terlepas dari mitos atau legenda tentang mantan prajurit Adipati Singaperbangsa berkepala anjing ini benar atau tidak, keberadaan kisah ini sangat berpengaruh atas kelestariannya.

"Terbukti keberadaan Aul ini mampu menjaga keberadaan hutan di jajaran pegunungan Sanggabuana, beberapa pemburu dan perusak hutan sering enggan masuk hutan di beberapa hutan yang pernah ada kabar penampakan Aul, bahkan warga sekitar selalu berkata, bisa marah Aul ini kalau hutannya rusak dan binatangnya diburu," tandasnya.

(mso/mso)