Corona di Bandung Naik, Dewan Minta Pemkot Tambah Ruang Isolasi

Wisma Putra - detikNews
Selasa, 15 Jun 2021 16:46 WIB
Pertemuan Anggota DPRD Bandung Yoel Yoshapat dengan Kadinkes Bandung Ahyani Raksanegara
Foto: Pertemuan Anggota DPRD Bandung Yoel Yosaphat dengan Kadinkes Bandung Ahyani Raksanegara (Istimewa).
Bandung -

Kasus COVID-19 di Kota Bandung mengalami kenaikan. Tingkat keterisian tempat tidur untuk pasien COVID-19 saat ini sudah capai 89 persen. DPRD Bandung meminta Pemkot menambah ruang isolasi hingga lebih tegas untuk menegakkan protokol kesehatan.

Siang tadi, Anggot DPRD Bandung Yoel Yosaphat mendatangi kantor Dinas Kesehatan Kota Bandung. Kedatangannya untuk meminta kejelasan terkait kenaikan Bed Occupancy Rate (BOR).

"Tadi, pertemuan bahas tentang masalah sistem kesehatan atau pelayanan kesehatan di Kota Bandung. Di mana, pelayanan kesehatan di Kota Bandung itu sampai 89 persen (BOR). Kita datang ke Dinas Kesehatan nanyain, masalahnya di mana, ternyata kata ibu kadis pasien nya itu 56 persen dari Kota Bandung dan 44 persen dari luar Bandung," kata Yoel kepada detikcom, Selasa (15/6/2021).

Yoel menyebut, selain ketersedian tempat tidur untuk pasien COVID-19 nyaris penuh, untuk ruang ICU sudah 100 persen.

"Hal ini menunjukan bahwa Kota Bandung naik, rujukan atau tujuan dari Bandung Raya sehingga ketersediannya 89 persen ini, 170 ICU sudah penuh. Jadi bisa dibilang, ada yang butuh ICU tunggu kosong, atau tunggu dipanggil pulang, itu sedihnya," ucapnya.

Yoel mengungkapkan, karena banyak pasien rujukan sehingga ada juga pasien asal Kota Bandung yang tidak tertangani.

"Sedangkan yang jadi problem, ketika RS penuh, yang jadi masalah orang Bandungnya gimana? Mereka enggak bisa dapat (tempat tidur) rumah sakit penuh, ada juga yang kosong, tapi hampir rumah sakit di Kota Bandung penuh," ungkapnya.

Menurutnya jika dibandingkan dengan data Januari kasus COVID-19 saat ini lebih sedikit. Namun memang trendnya terus mengalami kenaikan.

"Solusi yang kita tanyakan dan pikirkan bersama, harusnya Pemkot bikin penampungan atau rumah isolasi. Rumah isolasi sudah ada, tapi penuh, over kapasitas, sehingga rata-rata yang di rumah sakit tuh enggak semuanya gejala berat, ada juga gejala ringan dan sedang, hal ini buat rumah sakit penuh. Jadi yang dibutuhkan tempat-tempat seperti Wisma Atlet di Jakarta," katanya.

"Di Kota Bandung ada di kewilayahan, supaya ada yang sakit bisa ditempatkan isolasi mandiri, cuman tidak semua, mereka bilang baru ada di 19 kecamatan," tambahnya.

Dalam kesempatan itu, dia meminta Pemkot Bandung terus menambah tempat isolasi mandiri. Dia juga meminta agar pemerintah kembali aktif menegakkan prokes di masyarakat.

"Dari hulu, mungkin sosialisasi jalan tapi untuk penegakan untuk orang yang enggak pakai masker masih kurang, jadi edukasi, sosialisasi iya, cuman kita lihat di jalan-jalan di Kota Bandung masih kurang yang banyak enggak menjalankan protokol kesehatan," ujarnya.

"Kalau hulunya saja sudah keteteran, tinggal tunggu waktu sistem kesehatan Kota Bandung kolaps. Nah berarti kalau nomor satu dan dua untuk mengantisipasi di hilir, hukumnya harus dibenarkan supaya protokol jalan, pembatasan harus dievaluasi, supaya bisa diawasi pemerintah dan ditegakkan dengan tegas, supaya kasus tidak naik terus," ujarnya.

(wip/mso)