Cerita Air Langit dan Bakteri Mengancam Nyawa

Baban Gandapurnama - detikNews
Selasa, 15 Jun 2021 09:34 WIB
Pamer Hasil Kerjanya, Petugas Kebersihan Ini Nekat Minum Air WC
Ilustrasi air minum (Foto: Global Times/iStock)
Bandung -

Diserang diare bikin Rini Wahyuni tak berdaya. Tubuhnya lunglai. Butuh tiga hari perempuan berusia 29 tahun ini memulihkan kembali kondisi kesehatannya.

"Badan lemas. Saya izin nggak kerja selama tiga hari," kata warga Kota Bandung ini saat mengisahkan penyakit diare yang dialaminya kepada detikcom, Selasa (15/6/2021).

Waktu itu, ia merasakan mual dan nyeri perut. Dia sering masuk-keluar kamar mandi di rumah.

Rini pun bergegas memeriksakan keluhannya tersebut ke dokter. "Ya kalau kata dokter ada bakteri, penyebabnya bisa karena makanan. Saya ingat, sebelum sakit itu, lupa cuci tangan saat makan," katanya.

Dokter memberikan obat untuk meredakan sakit dialami Rini. Semenjak itu, ia lebih maksimal menjaga kesehatan dan makin memperhatikan pola hidup bersih.

"Pesan saya, cuci tangan sebelum makan dan minum. Selalu cek peralatan makan-minum. Jangan jajan sembarangan," tutur Rini.

Diare jangan dianggap sepele. UNICEF mengungkapkan sekitar 88 persen kematian berkaitan diare disebabkan air yang tidak aman, sanitasi dan kebersihan tak memadai. Perlu diketahui, sejumlah bakteri atau mikroorganisme yang biasa ditemukan di air antara lain Cryptosporidium, Anabaena, Rotifera, Copepoda, Escherichia coli (E.coli), Naegleria fowleri, dan Legionella pneumophila.

Badan Pusat Statistik (BPS) dalam katalog 'Statistik Lingkungan Hidup Indonesia (Air dan Lingkungan) 2020' menyebutkan penyakit diare sering disebabkan mengonsumsi air yang telah terkontaminasi, masalah sanitasi, dan kurangnya kebersihan tangan. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), yang dipublikasikan BPS, menunjukkan periode 2017 hingga 2019 jumlah pasien diare yang tertangani hanya berkisar 60 persen dari total perkiraan kasus diare yang terjadi.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Upaya Kesehatan Masyarakat (Puslitbang UKM) Badan Penelitian dan Pengembangan Kemenkes menyebutkan 7 dari 10 rumah tangga Indonesia mengonsumsi air minum yang terkontaminasi E.coli. Hasil Studi Kualitas Air Minum Rumah Tangga (SKAMRT) yang dilakukan pada 2020 itu menunjukkan 31 persen rumah tangga di Indonesia mengonsumsi air isi ulang, 15,9 persen dari sumur gali terlindungi, dan 14,1 persen dari sumur bor atau pompa.

Simak juga 'Air Kolam Patirtan Candi Penataran Blitar Dipercaya Bikin Awet Muda':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2 3 4