Kasus COVID-19 Naik, Wawalkot Bandung: BOR Sudah 79,9 Persen

Wisma Putra - detikNews
Minggu, 06 Jun 2021 13:48 WIB
Wakil Wali Kota Bandung Yana Mulyana
Foto: Wakil Wali Kota Bandung Yana Mulyana (Wisma Putra/detikcom).
Bandung -

Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung beri sinyal bahaya kasus COVID-19 terus meningkat. Bahkan tingkat keterisian tempat tidur untuk pasien COVID-19 sudah hampir mencapai 80 persen.

"Indikatornya, saya saat ini lihat BOR (bed occupancy rate) saja, ini sudah 79,9 persen. Naik terus, ini sih saya pikir sudah ke titik psikologis, menunjukkan bahwa fasilitas kesehatan, baik rumah sakit maupun tenaga kesehatannya, sebentar lagi kolaps," kata Wakil Wali Kota Bandung Yana Mulyana di Lodaya, Kota Bandung, Minggu (6/6/2021).

Yana mengungkapkan, larangan mudik beberapa waktu lalu yang dikeluarkan pemerintah dilakukan sebagai langkah antisipasi lonjakan kasus COVID-19 di Indonesia.

"Jadi saya hanya ingin meluruskan, ada stigma wah enggak boleh Lebaran, gini-gini, bukan! Pemerintah kota ini khawatir terhadap libur panjang, karena siklusnya itu peningkatan COVID-19 pasti setelah libur panjang. Dua minggu sampai sebulan setelah libur panjang biasanya terjadi (trend kenaikan)," ungkapnya.

"Saya tidak bisa membayangkan kalau kemarin pemerintah pusat, daerah soal mudik enggak dibatasi, saya khawatir kayak India. India itu sudah terkendali dari sekian banyak jadi 9 ribu penambahan per hari, hari ini 360 ribu per hari, tambahan COVID-19 nya. Kita sudah di angka mungkin mau 100 ribu, ngeri lho," jelasnya.

Seperti di Kota Bandung, tambahan kasus per harinya bisa sampai ke angka 100 lebih. Dari data Pusat Informasi COVID-19 (Pusicov) Kota Bandung yang diundang Tanggal 5 Juni, jumlah konfirmasi aktif 780 kasus bertambah 92 kasus dari sehari sebelumnya. Konfirmasi sembuh 18.793 bertambah 6 orang dari sehari sebelum dan meninggal dunia 355, bertambah 3 orang dari sehari sebelumnya.

"Karena di Kota Bandung saja, sudah lebih dari 100 (kasus) per hari. Tadinya kan 30, sekarang-kan sudah 101 per hari," ujar Yana.

Yana menilai, lonjakan kasus ini terjadi karena warga yang mudik, selain itu juga dampak dari libur panjang.

"Kemarin saya lihat orang konsentrasi cegah libur panjang itu 12, 13 atau sebelum dan sesudah. Padahal di tanggal berikutnya ada lagi libur Waisak jatuh di hari kejepit, Tanggal 1 Juni kejepit juga. Mungkin aja ada orang yang kemarin tidak boleh ngambil cuti, cuti di Tanggal 31 Mei, itulah berarti Sabtu, Minggu, Senin, Selasa, masuk Rabu. Terus Tanggal 26 Hari Rabu, dia ngambil di Kamis dan Jumatnya, panjang juga," paparnya.

Yana meminta kepada kewilayahan agar memperketat mobilisasi warga. Jangan sampai terus meningkat kasus COVID-19 di Kota Bandung.

"Kuncinya PPKM, jadi kewilayahan RT dan RW kan paling hafal, aduh kemarin pas libur panjang si Asep 5 hari enggak ada, pasti mudik. Begitu dia datang suruh isolasi mandiri. Atau dia test, kuncinya itu," tuturnya.

"Kita minta ke teman-teman kewilayahan, termasuk TNI Polri, kuncinya di situ saja. Karenakan teman-teman kewilayahan lebih tahu, kan saya enggak tahu warga saya, berapa yang mudik di Kota Bandung? Saya mah ga hafal dan gak ada datanya, karena memang dilarang, kalau kita bilang seribu, dua ribu berarti pemerintah kota enggak bener nih ngunci mudiknya, teman-teman RT RW pasti hafal," ujarnya.

Simak juga 'Corona di Kudus Mengamuk, Begini Respons Pemerintah':

[Gambas:Video 20detik]



(wip/mso)