Di Sini lah Lahan Pertanian Teknologi Infus yang Diunggah Ridwan Kamil

Hakim Ghani - detikNews
Minggu, 30 Mei 2021 07:29 WIB
Smart green house, pertanian infus milik PT Agro Jabar di Garut
Smart Green House milik PT Agro Jabar, di kawasan Cikole, Wanaraja Kabupaten Garut/Foto: Hakim Ghani
Garut -

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil membanggakan pertanian infus yang dikaitkan dengan program Petani Milenial di Instagramnya. Lahan pertanian yang mengggunakan teknologi infus atau smart green house itu berada di kawasan Cikole, Desa Wanasari, Kecamatan Wanaraja, Garut. Lahan pertanian ini milik PT Agro Jabar, BUMD Pemprov Jawa Barat.

Beberapa hari lalu, Kang Emil panggilan akrab Ridwan Kamil mengunggah sejumlah foto di instagramnya, yang mana salah satunya ada foto pria dengan celemek bertuliskan 'Petani Milenial'. Pria muda itu memegang dua buah melon. Ada juga foto komoditas sayuran dan buah lainnya yang dipamerkan di antaranya paprika dan timun suri.

EKONOMI BARU GENERASI MUDA JAWA BARAT,

"3 bulan lalu, pertanian infus ini dimulai sekarang panen luar biasa dan sebagian ekspor ke Singapura. Air dan pupuk cair diteteskan sesuai jadwal dan diatur via hape dan komputer melalui IOT.

Petani Milenial perlahan menjadi solusi untuk generasi muda Indonesia di masa depan agar Indonesia punya ketahanan pangan dan kesejahteraan yang menjanjikan.

Petani Milenial punya semangat : "Tinggal di desa (jauh dari pandemi), rejeki kota dan bisnis mendunia (karena digital & 4.0)"

Berdasarkan penelusuran detikcom, gambar yang diunggah Kang Emil diambil di perkebunan Smart Green House yang berada di kawasan Cikole, Wanaraja Kabupaten Garut. Lahan pertanian ini milik PT Agro Jabar, BUMD Pemprov Jawa Barat. Sementara lahan garapan untuk program Petani Milenial bukan di wilayah ini.

Salah seorang pengelola tempat itu membenarkan jika gambar yang diunggah Kang Emil diambil di lokasi tersebut. "Betul kang," katanya.

Pada 27 Januari lalu, Smart Green House ini diresmikan Kang Emil. "Menggunakan teknologi yang bisa menghemat air, mengatur air, sehingga petani bisa menumbuhkan produknya sampai 12 bulan. Dimulai di Wanaraja, Garut ini," kata Kang Emil saat itu.

Smart Green House diklaim bisa melakukan proses pertanian dengan efisien, yakni dengan sistem irigasi tetes, atau yang disebut Kang Emil sebagai metode pertanian infus. Dikatakan sebagai metode pertanian infus karena proses penyiraman tanaman tidak berlangsung seperti biasa, melainkan dengan cara ditetes.

Smart green house, pertanian infus milik PT Agro Jabar di GarutSmart green house, pertanian infus milik PT Agro Jabar di Garut Foto: Hakim Ghani

Air yang diteteskan ke setiap tanaman disalurkan dari sebuah mesin di dalam Smart Green House menggunakan paralon dan selang kecil langsung ke setiap pot yang diisi tanaman. Mesin ini mengatur penetesan air secara otomatis.

Sementara itu Dirut Agro Jabar Kurnia Fajar mengatakan, metode smart farming dengan teknologi infus ini merupakan salah satu teknologi yang dikembangkan oleh Pemprov Jabar sebagai bagian dari era pertanian 4.0.

Teknologi ini untuk pertama kalinya diluncurkan di Kabupaten Garut dan akan menjadi percontohan untuk diterapkan di seluruh daerah di Jawa Barat. Di Garut, Smart Green House didirikan di lahan seluas 3 ribu meter persegi di kawasan Cikole, Wanaraja.

"Kami melakukan smart farming dengan teknologi infus dan yang pertama kami membangun Smart Green House 3 ribu meter di Wanaraja, Garut," katanya.

[Gambas:Instagram]



Bicara mengenai program Petani Milenial yang diluncurkan 26 Maret lalu di Lembang, saat ini baru terpilih 2.240 petani muda dari 8.998 orang yang mendaftar. Para petani muda yang telah memenuhi kualifikasi, juga telah lulus pemeriksaan perbankan atau BI Checking. Peserta yang tidak lolos BI Checking rata-rata masih memiliki utang ke perbankan.

"BI Checking dilakukan sebagai upaya tidak terjadinya kesalahan dalam pemberian kredit. Karena ternyata banyak yang bermasalah dengan perbankan," ujar Kabiro Perekonomian Setda Jabar Benny Bachtiar saat dihubungi detikcom, Kamis (27/5/2021).

Para peserta ini secara bertahap akan mulai eksekusi di lapangan. Kesiapan lahan, menurutnya menjadi penyebab program ini tidak bisa dilakukan secara serentak. "Kesiapan tanah ini adalah land clearance dan ini perlu biaya. Makanya secara bertahap kita siapkan," katanya.

Benny tak merinci berapa banyak peserta Petani Milenial yang sudah dan belum menggarap lahan, tetapi ia memastikan bahwa kesiapan tanah membutuhkan biaya.

"Kesiapan tanah ini adalah land clearance dan ini perlu biaya. Makanya secara bertahap kita siapkan," katanya.

Kendala lainnya, kata Benny, ada petani muda yang enggan ditempatkan di wilayah lain di luar domisilinya. "Makanya secara bertahap kita siapkan. Banyak juga Petani Milenial ini enggan untuk ditempatkan di daerah lain," kata Benny.

Sembelumnya Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (DTPH) Provinsi Jawa Barat menyiapkan lahan hingga 40 hektare untuk mendukung program Petani Milenial ini. Nantinya, lahan yang terletak di Cikadu, Kabupaten Cianjur itu akan digunakan pertanian hortikultura salah satunya ubi jalar.

Kepala DTPH Jawa Barat Dadan Hidayat mengatakan dari peserta tahap pertama ini pihaknya menerima 951 pendaftar yang tertarik bertani hortikultura.

Ridwan Kamil sebelumnya menyatakan para petani mudah ini akan menggunakan lahan tidur yang dikendalikan Pemprov Jabar, namun ia mengaku belum memiliki datanya. "Lahan tidur masih belum ada data tapi yang dimiliki ada 10 ribu hektare dikendalikan Pemprov. Kalau dengan HGU kosong bisa jutaan hektare. Karena ini baru kick off, nanti ada tim yang tugasnya memetakan lahan tidur di mana saja," kata Ridwan Kamil saat peresmian Petani Milenial di Lembang, akhir Maret lalu.

Menurutnya petani milenial memiliki perbedaan signifikan dengan petani konvensional, terutama pada penggunaan teknologi untuk efektivitas dan efisiensi kinerja petani.

"Kita sinergikan dengan teknologi. Misalnya ada satu aplikasi dari Habibi Garden, hanya modal handphone bisa menyiram tanaman, bisa memberi makan lele, ayam, dan sebagainya. Ini akan membedakan dengan pertanian zaman dulu," tandasnya.

Lihat Video: Ridwan Kamil Pamerkan Sistem Pertanian Infus di Garut

[Gambas:Video 20detik]



(ern/ern)