2.240 Peserta Lolos Jadi Petani Milenial Jabar, Lahannya Sudah Siap?

Yudha Maulana - detikNews
Kamis, 27 Mei 2021 19:18 WIB
Raup Rp 50 Jutaan Sekali Panen, Pria Milenial Ini Pilih Jadi Petani

Ahmad Sahid, pria milenial ini lebih memilih menjadi petani di daerahnya Dusun Sebindang, Kecamatan Badau, Kalimantan Barat. Sekali panen, Sahid bisa meraup Rp 50 juta.
Petani (Foto: Rachman_punyaFOTO)
Bandung -

Pendaftaran gelombang pertama Petani Milenial di Jawa Barat telah berakhir. Berdasarkan data Biro Perekonomian Setda Jabar, dari 8.998 pendaftar, telah terpilih 2.240 petani muda yang lolos dalam proses seleksi.

Kabiro Perekonomian Setda Jabar Benny Bachtiar mengatakan, petani yang telah memenuhi kualifikasi juga telah lulus pemeriksaan perbankan atau BI Checking. Peserta yang tidak lolos BI Checking rata-rata masih memiliki utang ke perbankan.

"BI Checking dilakukan sebagai upaya tidak terjadinya kesalahan dalam pemberian kredit. Karena ternyata banyak yang bermasalah dengan perbankan," ucap Benny saat dihubungi detikcom, Kamis (27/5/2021).

Benny mengatakan, pelaksanaan program Petani Milenial ini tidak bisa serentak dilaksanakan oleh setiap peserta yang lolos. Sebab, masih terganjal dengan kesiapan lahan garapan.

"Sekarang sudah masuk proses eksekusi, secara bertahap dimulai aktivitas di lapangan, yang disesuaikan dengan kesiapan tanah," ucap Benny.

Ia tak merinci berapa banyak peserta Petani Milenial yang belum menggarap lahan, tetapi ia memastikan bahwa kesiapan tanah memerlukan land clearance dan proses itu membutuhkan biaya.

"Kesiapan tanah ini adalah land clearance dan ini perlu biaya. Makanya secara bertahap kita siapkan," katanya.

Selain itu, ada juga peserta yang lolos tidak mau dipindahkan ke lahan yang berada di luar domisilinya. "Makanya secara bertahap kita siapkan. Banyak juga Petani Milenial ini enggan untuk ditempatkan di daerah lain," ujar Benny.

Mengurus SKU Terganjal Penyekatan di Perbatasan

Kurniawan (25), salah seorang peserta seleksi Petani Milenial asal Karawang mengaku terganjal persyaratan Surat Keterangan Usaha (SKU) dari desa setempat. Saat itu ia tengah berada di kampung halamannya di Ciamis, sedangkan ia harus mengurus SKU di Karawang.

"Saya mendaftarkan diri sejak 8 Februari, tepatnya saat pembukaan rekrutmen Petani Milenial. Saat proses pendaftaran saya pribadi tidak menemukan kesulitan apapun termasuk seleksi yang diadakan oleh panitia. Namun, (ketika harus ada) SKU dari desa setempat saya cukup kesulitan, karena saat itu ada penyekatan," kata Kurniawan saat dihubungi detikcom.

Ia mengaku telah memiliki pengalaman bertani selama satu tahun. Tepatnya, setelah ia diputus hubungan kerja oleh perusahaan pada 2020 lalu. "Saya di ajak oleh kaka saya bertani jahe merah dan tanaman hias, di sana saya mendapatkan ilmu mulai dari proses hingga pemasarannya," tutur Kurniawan.

Melihat ada iklan Petani Milenial, ia tergugah untuk menjadi salah satunya. "Saya membutuhkan pekerjaan, ingin menambah wawasan mengenai ilmu pertanian, dan saya pribadi masih muda," katanya.

Terkait lahan, ia menanggapi bahwa petani akan diberi pinjam lahan dan harus mengurusinya hingga lahir sebuah produk. "Untuk modal sendiri dikasih melalui RAB yang dibutuhkan selama proses bertani, jadi tidak dikasih uang tunai," katanya.

"Jadi memang sebetulnya kita harus berusaha menghasilkan produk yang bagus, supaya menghasilkan pendapatan yang bagus juga," katanya.

Antusiasnya pun sempat menyusut ketika saat sosialisasi pertama dari BJB, dinas terkait dan off taker, ada salah satu off taker yang tak hadir.

"Jadi saya merasa kecewa aja gitu, saya yang tadinya antusias mengikuti ini jadi loyo. Namun sisi lain teman-teman yang masing mengikuti program petani milenial ini pasti akan serius, dan pasti mereka juga punya prinsip untuk menjadi petani yang serius itu tidak main-main," ujarnya.

(yum/mud)