Cerita Mesin Tua Pencetak Al Quran Braille Tersimpan di Bandung

Yudha Maulana - detikNews
Kamis, 29 Apr 2021 03:57 WIB
Mesin pencetak Alquran braille tertua di Indonesia, masih tersimpan rapi di Yayasan Penyantun Wyata Guna (YPWG) Kota Bandung. Mesin yang dipergunakan sejak tahun 1952 itu telah berpuluh-puluh tahun mencetak Alquran untuk memenuhi kebutuhan rohani teman-teman tuna netra.
Memasuki bulan Ramadhan, kru pencetak Al Quran braille kebanjiran pesanan. (Foto: Yudha Maulana/detikcom)

Perawatan mesin ini pun, kata Sofyan, susah-susah gampang, Menurutnya ada sebagian onderdil mesin yang telah diganti, karena onderdil aslinya rusak karena termakan waktu. "Setiap hari kita rawat, salah satunya jangan sampai telat memberikan oli," tutur Sofyan.

Cara kerjanya, kru pencetak Al Quran braille membuat plat cetakan di mesin stereotipe terlebih dulu. Pelat yang berisi huruf braille itu kemudian dikurasi oleh tunanetra terlebih dulu untuk memastikan ketepatan konversi huruf.

"Kalau salah diperbaiki lagi. Setelah oke, baru naik cetak. Kita cetak per lembar, halaman per halaman. Setelah sekian banyak baru disortir, periksa halaman lagi tertukar atau tidak, baru kemudian dijilid dan dipak," katanya.

Mesin pencetak Alquran braille tertua di Indonesia, masih tersimpan rapi di Yayasan Penyantun Wyata Guna (YPWG) Kota Bandung. Mesin yang dipergunakan sejak tahun 1952 itu telah berpuluh-puluh tahun mencetak Alquran untuk memenuhi kebutuhan rohani teman-teman tuna netra.Kru pencetak Alquran braille membuat plat cetakan di mesin stereotipe terlebih dulu. Plat yang berisi huruf braille itu kemudian dikurasi oleh tunanetra terlebih dulu untuk memastikan ketepatan konversi huruf. (Foto: Yudha Maulana/detikcom)
Mesin Pencetak Al Quran Braille di BandungMesin tersebut dalam satu jam bisa mencetak hingga 800 lembar, atau tiga set Alquran. Satu set Alquran terdiri dari 30 juz yang dipresentasikan tiap juz-nya dalam satu buku. (Foto: Yudha Maulana/detikcom)

Memasuki bulan Ramadhan, kru pencetak Al Quran braille kebanjiran pesanan. Biasanya proses produksi digencarkan pada bulan Rajab atau Syaban, sehingga saat Ramadhan tiba Al Quran braille tersebut telah siap digunakan.

"Ini disalurkan ke seluruh Indonesia. Luar negeri paling hanya satu atau dua saja, seperti ke Malaysia atau Singapura. Yang paling banyak itu di wilayah Jawa, sekarang lebih banyak ke wilayah Indonesia Timur. Paling jauh ke Pulau Aru dan Biak," ujar Sofyan.


(yum/bbn)