Efek Negatif WFH: Peretasan Situs Layanan Publik Meningkat

Yudha Maulana - detikNews
Jumat, 23 Apr 2021 11:05 WIB
A magnifying glass is held in front of a computer screen in this file picture illustration taken in Berlin May 21, 2013. Hackers broke into U.S. government computers, possibly compromising the personal data of 4 million current and former federal employees, and investigators were probing whether the culprits were based in China, U.S. officials said on June 4, 2015. REUTERS/Pawel Kopczynski/Files
Ilustrasi (Foto: Pawel Kopczynski/REUTERS)
Bandung -

Kebijakan bekerja dari rumah atau work from home (WFH) ternyata menimbulkan efek negatif dari sisi keamanan siber. Meningkatnya aktivitas online kerap menjadi celah bagi peretas untuk mencuri data pribadi warga demi keuntungan.

Fenomena itu terungkap dalam Webinar Sandikami Mania Series#11 dari Kota Bandung, Kamis 22 April 2021 yang digelar Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Barat.

"Selama pandemi corona jumlah hacker meningkat. Jadi tingkat exposure dan kemungkinan kita diserang online semakin meningkat. Banyaknya waktu kosong selama WFH menimbulkan celah untuk melakukan peretasan, banyak orang mencari konten tentang hacking (di waktu senggangnya)," kata Plt Kepala Pusat Operasi Keamanan Siber Nasional Badan Siber dan Sandi Negara Adi Nugroho dalam keterangannya, Jumat (23/4).

Salah satu target dari para peretas ini adalah situs layanan publik menjadi layanan kejahatan. Pengelola yang tak merawat situs dengan baik, menjadi celah bagi peretas untuk melakukan pembobolan.

Aksi para peretas ini pun makin nekat, kata Adi, di masa sebelum pandemi mereka hanya mengubah tampilan muka situs layanan publik. Tetapi, ketika pandemi datang, mereka menarik keuntungan dengan melakukan monetisasi.

"Kasus peretasan banyak hanya mengubah halaman muka situs publik, tapi tidak mendapat perhatian, akhirnya si pelaku mencuri data pribadi untuk melakukan monetisasi agar mendapat poin credit," katanya.

Kepala Diskominfo Jabar Setiaji mengungkap, serangan paling banyak terjadi di akhir tahun 2020. "Selama tahun 2020 hampir 10 juta serangan yang masuk," ujar Setiaji.

Lihat juga Video: Masih di Bawah Umur, Peretas Data Kejagung Tidak Ditahan

[Gambas:Video 20detik]



(yum/mud)