Dengar Suara Gemuruh dari PLTP Wayang Windu, Warga Panik Keluar Rumah

Muhammad Iqbal - detikNews
Kamis, 22 Apr 2021 21:06 WIB
Warga panik dengan gemuruh dari PLTP Wayang Windu Bandung
Warga panik dengan gemuruh dari PLTP Wayang Windu Bandung (Foto: Muhammad Iqbal)
Bandung -

Suara dentuman keras terdengar di sekitaran Pangalengan, Kabupaten Bandung dalam beberapa hari lalu. Suara tersebut mengingatkan warga akan kejadian traumatis pada 2015 lalu.

Pada 2015 lalu, tanah longsor di sekitaran Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Wayang Windu yang dioperasionalkan oleh PT Star Energy Geothermal tertimbun longsor. Akibat longsor tersebut mengakibatkan sejumlah orang tewas.

Hal tersebut diutarakan langsung oleh Kepala Desa Mekarmukti Kusnadi. Ia mengatakan, ketika warga mendengar dentuman tersebut warga langsung keluar rumah.

Kusnadi menjelaskan, warga mengaku trauma apabila mendengar suara keras. Karena, warga trauma dengan kejadian longsor yang pernah menimpa satu kampung di Desa Mekarsari pada 2015 lalu.

"Kemarin warga kaget. Sampai ada yang keluar rumah. Karena dikiranya ada insiden (longsor). Karena warga trauma 2015 itu," aku Kusnadi kepada wartawan saat ditemui di Desa Mekarmukti, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Kamis (22/4/2021).

Suara mulai terdengar pada tiga hari lalu. Kejadian ini pun ramai diperbincangkan di media sosial. Seperti dilihat detikcom di akun Instagram @infopangalengan. Sebagian netizen mengira ada sesuatu yang jatuh dari langit atau UFO.

Kusnadi menjelaskan, suara dentuman sering kali terdengar namun tidak seperti yang beberapa hari lalu dirasakan warga. Rupanya, suara tersebut dirasakan hingga 4- 5 kilometer dari titik suara.

"Kalau jarak, mungkin sampai 4 - 5 kiloan," katanya.

Sementara itu, pihak PT Star Energy Geothermal melalui Well Testing Superintendent atau pengawas pengujian sumur dari PT. Star Energi Geotermal Marpiansyah mengatakan, bahwa suara tersebut berasal dari lokasi pengujian di salah satu sumur milik PT Star Energy Geotermal atau proses discharge well.

"Discharge itu untuk memisahkan antara uap dan air ataupun uap dan kotoran, saya analogikan seperti knalpot kendaraan, jadi ada sesuatu fluida yang mengalir kemudian keluar melalui cerobong itu. Jadi pasti akan mengeluarkan bunyi, itu pasti, jadi dia mengeluarkan tingkat kebisingan," terang Marpiansyah.

Pengujian sumur tersebut tidaklah dilakukan sekali atau dua kali. Dan kejadian suara yang keras tersebut baru kali ini terjadi.

Dari pantauannya, kejadian tersebut diperkirakan karena proses pengujian sumur dilakukan ketika angin berhembus keras. Suara yang biasanya terdengar ratusan meter, ketika itu terdengar hingga beberapa kilo meter.

"Dan sebetulnya kegiatan yang sudah umum dilakukan di semua industri geothermal di seluruh dunia, dan kebetulan di wayang windu sendiri ini bukan kegiatan yang pertama kali, dari tahun 2000 semenjak adanya operasional unit 1 dan 2, itu kita sudah ribuan kali sudah dilakukan," katanya.

Atas kejadian tersebut, pihaknya pun untuk beberapa waktu sempat memberhentikan proses pengujian. "Akhirnya kita mencoba mencari waktu yang tepat untuk kita melakukan discharge untuk meminimalkan dampak kebisingan itu sendiri," paparnya.

(mud/mud)