PHL Mogok, Jenazah COVID-19 di TPU Cikadut Bandung Dipikul Keluarga

Wisma Putra - detikNews
Rabu, 21 Apr 2021 17:26 WIB
PHL mogok kerja, keluarga pikul sendiri jenazah ke TPU Cikadut
PHL mogok kerja, keluarga pikul sendiri jenazah ke TPU Cikadut (Foto: Wisma Putra)
Bandung -

Para Pekerja Harian Lepas (PHL) di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Cikadut, Kota Bandung, Jawa Barat melakukan aksi mogok kerja. Hal tersebut dilakukan, buntut dari upah yang harus diterima setiap bulannya macet.

Pantauan detikcom, Rabu (21/4/2021) di TPU Cikadut, akibat aksi mogok ini, salah satu jenazah COVID-19 yang hendak dimakamkan di TPU Cikadut harus dipikul oleh pihak keluarga.

Sementara itu, untuk proses pemakaman, seperti memasukkan peti jenazah ke liang lahat dan mengurug tanah dibantu oleh petugas dari TPU Cikadut.

"Hari ini, satu jenazah yang dibawa pihak keluarga," kata Koordinator Relawan Pikul Jenazah COVID-19 Fajar Ifana di TPU Cikadut.

Fajar berujar, aksi mogok kerja ini akan digelar hingga pencarian upah yang sudah menjadi haknya.

"Sampai pencairan upah, bukan hanya tanggapan dari pemerintah, silahkan cairkan dulu," ujarnya.

Fajar menyebut, sebelum dimakamkan oleh pihak keluarga, pihak ahli waris sempat mendatangi para PHL pemikul jenazah di TPU Cikadut.

"Awal pihak keluarga daftar ke UPT, terus ke kita, maaf kita tidak bisa bantu untuk sekarang. Karena kita lagi memperjuangkan hak kita," sebutnya.

Fajar menyebut, pihaknya tidak menolak, namun memberikan sedikit pengertian kepada pihak ahli waris jika pihaknya saat ini sedang memperjuangkan haknya.

"Kita bukan nolak, kita tidak menolak pemakaman, silahkan kalau mau memakamkan, cuman kita yang kerja tidak bisa membantu, karena sedang ada permasalahan ini," jelas Fajar kepada pihak ahli waris.

Fajar kembali menegaskan, pihaknya bukan tidak ingin membantu, tapi untuk sementara pihaknya berhenti bekerja dahulu sampai haknya diberikan Pemkot Bandung.

"Mohon dibantu, mohon maaf tidak bisa membantu. Bapak mau bayar, kita berkomitmen tidak menerima, bukan kita tidak manusiawi tapi kita sedang ada permasalahan yang sedang kita perjuangkan," ujar Fajar mengulangi pembicaraan dengan pihak ahli waris.

Pihaknya juga mengeluhkan soal alat pelindung diri (APD) yang digunakan, hanya alakadarnya.

"Sejak tanda tangan kontrak, hanya dua kali APD yang dikirim. Sisanya ada donasi, ada yang memberikan. Kalau musim hujan, cepat kotor hanya digunakan sekali pakai, malah ada yang dicuci lagi," ucapnya.

Tak hanya pencairan upah kedua, menurutnya pencairan upah pertama juga sempat macet.

"Awalnya bulan pertama, waktu itu ramai juga kaya gini, itu juga telat, sekarang hitungan harus dua bulan, sempat tandatangan, minta bukti laporan foto, setiap kegiatan selalu kita kirim, kelengkapan juga sudah dilengkapi, nomer rekening dan KTP, besok cair asebelum puasa, berharap karena kebutuhan keluarga, ujung-ujungnya kan gini," pungkasnya.

(wip/mud)