Melihat Al-Quran Kuno Berusia 1,5 Abad di Masjid Mungsolkanas Bandung

Yudha Maulana - detikNews
Selasa, 20 Apr 2021 03:20 WIB
Al-Quran tua di Masjid Mungsolkanas Bandung.
Foto: Al-Quran tua di Masjid Mungsolkanas Bandung (Yudha Maulana/detikcom).
Bandung -

Sebuah mushaf Al-Quran kuno tersimpan rapi di Masjid Mungsolkanas di Jalan Cihampelas, Kota Bandung. Usia mushaf tersebut ditaksir mencapai ratusan tahun, atau satu masa dengan pembangunan awal Masjid Mungsolkanas yang dibangun pada tahun 1869.

Mushaf tersebut tersimpan rapi di dalam sebuah dinding kaca di lantai dua Masjid Mungsolkanas. Kertas dari mushaf tersebut terlihat lusuh karena termakan waktu.

Terlihat juga sebuah penanda yang menunjukkan ayat Al-Quran, yang berisi perintah agar umat Islam senantiasa menyampaikan selawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Sekretaris DKM Masjid Mungsolkanas Dedi Priyatna mengatakan Al-Quran tersebut ditulis oleh kakek buyutnya Rd Suradimaja, atau yang masyhur dikenal dengan gelar Mama Aden atau KH Abdurrohim. Mama Aden merupakan seorang ulama karismatik yang mendirikan Masjid Mungsolkanas 1,5 abad yang lalu.

Nama Mungsolkanas sendiri merupakan pemberian dari Mama Aden, yang merupakan kependekan dari 'Mangga Urang Ngaos Solawat Kanggo Kanjeng Nabi Muhammad SAW' atau bila diterjemahkan ke Bahasa Indonesia kurang lebih berarti 'Mari Kita Baca Salawat untuk Nabi Muhammad SAW'.

Mushaf tulis tangan tersebut, dikatakan Dedi menjadi satu-satunya peninggalan Mama Aden yang masih terjaga keasliannya. Sebab, bangunan masjid telah mengalami renovasi total sehingga tak terlihat lagi bentuk awalnya dahulu.

"Kemungkinan mushaf tersebut ditulis oleh beliau, sebelum tahun 1870-an. Mushaf tersebut sudah ada ketika beliau membangun masjid ini," ujar Dedi saat ditemui detikcom beberapa waktu lalu.

Dedi mengatakan, sebenarnya Mama Aden menulis salinan isi Al-Quran ke dalam beberapa mushaf. Tetapi koleksi mushaf tersebut hilang, sehingga satu mushaf yang tersisa di simpan di dalam dinding kaca.

"Takutnya bahannya sudah lapuk dan jadi sobek. Dulu katanya ada beberapa, tapi saya tidak tahu ke mana," katanya.

Selain menulis salinan Al-Quran, dikatakan Dedi, kakek buyutnya juga merupakan seorang penulis. Ia menceritakan ada beberapa artikel yang dimuat di koran Sunda tempo dulu, Sipatahunan yang mempublikasikan tentang keberadaan masjid Mungsolkanas.

(yum/mso)