Mungsolkanas, Masjid Berusia 1,5 Abad di Bandung yang Pernah Disinggahi Sukarno

Yudha Maulana - detikNews
Sabtu, 17 Apr 2021 03:26 WIB
Masjid Mungsolkanas, masjid tertua di Bandung
Foto: Yudha Maulana
Bandung -

Nama Masjid Mungsolkanas mungkin tak sepopuler masjid-masjid lainnya di Kota Bandung, seperti Masjid Raya Bandung atau Masjid Pusdai. Walau begitu, masjid ini merupakan salah satu tempat ibadah tertua yang menjadi saksi bisu penyebaran agama Islam di Paris van Java.

Masjid Mungsolkanas dibangun pada tahun 1869, artinya lebih awal dari Masjid Cipaganti yang dibangun pada tahun 1933 oleh arsitek asal Belanda, Charles Proper Wolff Schoemaker. Konon dahulu Presiden Soekarno pernah singgah dan menginap di Mungsolkanas ketika masih berkuliah di Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB).

Dahulu bentuk Masjid Mungsolkanas hanya rumah panggung sederhana yang terbuat dari bilik bambu. Pembangunan masjid tersebut diprakarsai oleh KH Abdurrohim yang memiliki gelar Mama Aden, di atas tanah wakaf yang diberikan Hj Siti Lantenas.

Hj Siti Lantenas sendiri merupakan seorang janda kaya dari seorang camat di Lengkong Sukabumi. Ia memiliki bentangan tanah luas yang saat itu diperkirakan dari Jalan Raya Siliwangi (Gandok Ciumbuleuit) sampai Pelesiran (Cihampelas Bawah).

"Pada saat itu bangunanya tidak seperti sekarang, dulu dalam bentuk kobong, tempat tinggal santri yang digunakan untuk belajar mengaji, ketika itu KH Abdurrohim mengajar dalam metode pesantren," ujar Sekretaris DKM Masjid Mungsolkanas Dedi Priyatna saat ditemui, Kamis (15/4/2021).

Dedi yang juga merupakan keturunan dari KH Abdurrohim mengatakan, nama Mungsolkanas sendiri bukan berasal dari Bahasa Arab yang biasa disematkan pada masjid-masjid lainnya. Mungsolkanas ini merupakan kependekan dari kalimat bahasa Sunda 'Mangga Urang Ngaos Solawat Kanggo Kanjeng Nabi Muhammad SAW' atau bila diterjemahkan kurang lebih berarti 'mari kita baca selawat untuk Nabi Muhammad SAW'.

"Nama itu diambil dari salah satu kitab tanhiqul qaul yang di dalamnya ada ajaran bahwa barang siapa yang menggawamkan selawat, doanya akan diijabah oleh Allah SWT. Ajaran itu juga yang selalu didengung-dengungkan, dibesar-besarkan oleh KH Abdurrohimm, agar kita selalu bersalawat kepada kanjeng Nabi Muhammad SAW," ujar Dedi.

Masjid ini pertama kali dipugar tahun 1933, bersamaan dengan pembangunan Masjid Raya Cipaganti oleh pemerintah kolonial. Bedanya, masjid Mungsolkanas merupakan wujud gotong royong warga setempat di bawah bimbingan Mama Aden.

"Sejak saat itu masjid ini pernah dikunjungi Presiden RI pertama, Presiden Soekarno ketika beliau sedang belajar di ITB, beliau sering menginap di sini, ibadah salat fardhu dan sebagainya, termasuk pak Ridwan Kamil pernah ke sini," ujarnya.

Renovasi masjid secara total dilakukan pada tahun 2009, dari awal bangunan satu lantai, Masjid Mungsolkanas dirombak menjadi dua lantai. Kegiatan di masjid pun terus berkembang, dari hanya tempat belajar santri bertambah menjadi tempat belajar kanak-kanak dan koperasi.

"Tidak ada peninggalan bangunan fisik, sayang sekali, tetpai hanya ada Al Quran peninggalan Mama Aden yang kita simpan. Insya Allah amanat Mama Aden untuk selalu bersalawat kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW akan kita teruskan," katanya.

Masjid Mungsolkanas, masjid tertua di BandungMasjid Mungsolkanas, masjid tertua di Bandung Foto: Yudha Maulana

Al Quran peninggalan Mama Aden itu tersimpan rapi di dalam dinding kaca. Usia dari kitab suci tersebut diperkirakan telah berusia 140 tahun lebih, satu zaman dengan masjid. "Ini merupakan salinan Al Quran yang ditulis tangan langsung oleh Mama Aden, satu-satunya warisan fisik yang tersisa," kata Dedi.

Lokasi masjid ini berada di tengah gang, akses menuju masjid tepat di sebelah timur RS Advent yang diapit oleh apartemen Jardin, STBA dan pusat pertokoan sandang di Jalan Cihampelas.

(yum/ern)