Jabar Banten Hari Ini: Rumah Baru Penarik Becak-Tersangka Hibah Ponpes Banten Ditahan

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 16 Apr 2021 21:44 WIB
Kakek penarik becak yang dicuri uangnya bisa beli rumah dari donasi
Kakek penarik becak di Garut yang uangnya dicuri. Kini dia bisa beli rumah dari donasi warga yang bersimpati kepadanya. (Foto: Hakim Ghani)

1 Tersangka Kasus Sunat Hibah Ponpes di Banten Ditahan

Kejaksaan Tinggi (Kejati) Banten menetapkan satu tersangka dugaan penyunatan dana hibah pondok pesantren dari Pemprov Banten sebesar Rp 117 miliar tahun anggaran 2020. Tersangka inisial ES ini diduga memotong dana hibah untuk pesantren. IS sudah ditahan oleh pihak Kejati Banten.

"Pada sore kemarin kami sudah menetapkan tersangka dan menahan tersangka ES dalam dugaan tindak pidana korupsi penyaluran dana hibah ke pondok pesantren," kata Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Banten Asep Nana Mulyana kepada wartawan di Jalan Serang-Pandeglang, Jumat (16/4/2021).

Tersangka ES diduga memotong dana hibah yang harusnya diterima utuh oleh pesantren. Ia mengakui melakukan itu dan mendapatkan sekian persen dari setiap hibah.

"Bersangkutan mengakui memotong. Jadi menjanjikan sama mereka (ponpes), misalnya pesantren A, B dapat bantuan, tapi kemudian balik sekian persennya," ujarnya.

Jumlah yang disunat setiap pondok pesantren juga bervariatif. Ada pesantren dipotong Rp 15 hingga Rp 20 juta. Pemotongan ini hingga setengah dari hibah tiap pesantren yang penerimanya mendapat Rp 30 juta dan Rp 40 juta setiap tahun.

"Bervariasi (pemotongannya), ada Rp 20 juta ada Rp 15 juta, bahkan ada pondok pesantren yang tadinya mencanangkan perbaikan tidak terlaksana karena dananya disunat," ucap Asep.

Tapi, selain modus penyunatan dana hibah, Kejati Banten menemukan ada pesantren fiktif. Pesantren ini seolah-olah mendapat bantuan, namun ternyata fiktif.

Selain itu, modus hibah diberikan melalui rekening namun oleh oknum kemudian dipotong sekian persen. "Cair ke rekening pondok pesantren, kemudian diminta lagi. Misalnya menerima ke rekening, dicairkan kemudian diserahkan ke oknum yang bersangkutan," tutur Asep.

Kajati Banten belum bisa mengungkapkan latar belakang tersangka ES. Yang jelas, ia adalah oknum yang menyunat anggaran pesantren sebagaimana dilaporkan oleh gubernur Banten dan salah satu masyarakat.

"Tim sebenarnya sudah bekerja jauh-jauh hari, tim memonitor bagaimana implementasi di lapangan terkait dana hibah," kata Asep.

Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Banten Asep Nana Mulyana mengatakan pihaknya mengejar aktor lain di dugaan korupsi pemotongan hibah Rp 117 miliar untuk pondok pesantren tahun anggaran 2020. Sejauh ini ada satu tersangka inisial ES yang jadi tersangka dan dilakukan penahanan.

"Insya Allah (ada tersangka lain), karena ini sangat banyak dan kemudian kami sudah meminta keterangan pihak pondok pesantren," kata Asep kepada wartawan di Kejati Banten Jalan Serang-Pandeglang, Jumat (16/4/2021).

Pihaknya juga tidak berhenti pada penyaluran hibah Pemprov tahun 2020 jasa. Karena tidak menutup kemungkinan hibah pondok pesantren tahun 2018, 2019 bahkan 2021 berpotensi dikorupsi dan jadi bancakan oknum.

Halaman

(bbn/mud)