Wajit Cililin, Representasi Perjuangan Pribumi Terhadap Kolonial Belanda

Whisnu Pradana - detikNews
Jumat, 16 Apr 2021 03:50 WIB
Penjual Wajit Cililin di Bandung Barat.
Penjual Wajit Cililin di Bandung Barat (Foto: Whisnu Pradana/detikcom).
Bandung Barat -

Wajit Cililin adalah salah satu panganan khas Jawa Barat. Rasanya yang manis membuat panganan yang satu ini banyak disukai masyarakat.

Namun sepertinya tak banyak orang yang tahu sejarah yang terkandung dari setiap bungkus Wajit Cililin. Kenapa dinamai wajit dan ragam pertanyaan lain yang membuntuti di belakangnya.

Menarik untuk diulas, ternyata Wajit yang berasal dari daerah Cililin, di Kabupaten Bandung Barat, merupakan makanan untuk kaum menak saat zaman penjajahan Belanda dulu. Bukan makanan untuk kaum proletar. Bisa dibilang saat ini, citranya sudah kadung dianggap makanan kampung.

Medio tahun 1920-an konsumsi wajit bagi masyarakat biasa pernah dilarang oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Kala itu wajit hanya boleh dinikmati kaum menak dan pejabat tinggi. Ditambah beras ketan yang jadi bahan dasar pembuatan wajit merupakan komoditi yang amat berharga. Hanya boleh dikonsumsi Menir dan diekspor ke luar negeri.

Wajit sendiri sebetulnya berakar pada kata wajik, salah satu jenis kue yang juga menambah kekayaan kuliner tanah air. Namun karena ada pergeseran pelafalan oleh warga Cililin akhirnya kata wajik menjadi wajit.

Generasi ke empat produsen Wajit Asli Cililin 'Cap Potret' Syamsul Ma'arif (50), sempat menelusuri jejak sejarah Wajit Cililin. Dirinya sendiri memang menemukan fakta jika kuliner itu dilarang dikonsumsi kalangan bawah.

Lantas siapa yang awalnya mencipta Wajit Cililin? Ternyata ada dua sosok wanita yang berkaitan erat dengan panganan tersebut. Ialah Juwita dan Uti. Tahun 1916 silam, Juwita berniat membuat kue wajik namun dengan resep dan kemasan berbeda dari yang sudah ada.

"Juwita dan Uti adalah orang pertama kali membuat sekaligus memperkenalkan wajit di Cililin pada sekitar tahun 1916. Awalnya itu Juwita yang mau membuat kue wajik. Tapi dengan variasi yang berbeda dari resep aslinya," ungkap Syamsul kepada detikcom, Rabu (14/4/2021).

Juwita dan Uti yang masih memiliki ikatan saudara mengonsumsi wajit tersebut untuk diri sendiri. Makanan itu mulai tenar tatkala keduanya sering membawa Wajit sebagai oleh-oleh untuk kerabat yang sedang menggelar hajatan.

Semakin seringnya wajit tersaji dalam pesta pernikahan dan khitanan kian banyak pula kerabat dari luar daerah Cililin yang mulai mencicipi wajit. Mereka menyukai citarasa dan teksturnya.

Kesohoran wajit buatan Juwita dan Uti sampai ke telinga Menir Belanda. Sejak saat itu mulailah kalangan menak dan pejabat kolonial Belanda mencicipi wajit. Jatuh cinta pada rasanya, Belanda mengeluarkan kebijakan monopoli makanan yang awalnya sempat dinikmati kalangan bawah.

"Oleh karena itu mereka (Belanda) mulai memonopolinya dan mengeluarkan kebijakan bahwa wajit buatan Juwita dan Uti hanya khusus diproduksi untuk kalangan menak dan pejabat kolonial Belanda saja. Dari situ lah akhirnya muncul pengkotakan jika wajit itu makanan menak," jelas Syamsul.

Larangan konsumsi wajit bagi kaum bawah tersebut terus berlanjut hingga tahun 1926. Saat itu Juwita mulai menurunkan resep dan cara pembuatan wajit kepada putrinya, Irah. Irah ternyata memiliki sifat keras kepala. Dia berpikir bahwa satu hal yang aneh jika wajit yang diproduksi dari hasil bumi masyarakat Cililin justru dilarang untuk pribumi.

Tak mau terus manut pada kebijakan Belanda, Irah nekat membuat dan menjual Wajit Cililin meskipun masih secara sembunyi-sembunyi. Kenekatannya didasari pada keyakinan bahwa rakyat berhak memakan apa yang meraka tanam, apa yang mereka usahakan, dan di tanag mereka sendiri.

"Pada tahun tahun 1936, Irah berani menjual wajit secara terang-terangan. Ia tahu bahwa bahan dasar wajit itu hasil dari sawah rakyat. Jadi tak salah jika dimakan semua kalangan. Ada intimidasi dari kolonial untuk tidak menjual wajit. Tapi tidak digubris," katanya.

Irah tak bergeming. Ia kian melebarkan cakupan penjualan kudapan tersebut hingga ke Kota Bandung. Tak pelak ketenaran wajit Cililin kian tak terbendung lagi sehingga tak bisa terus menerus diprivatisasi oleh satu kalangan.

"Tahun 1950 hasil penjualan wajit bisa membuat ibu Irah naik haji. Dulu masih menggunakan kapal laut, perjalanan ke Mekah membutuhkan waktu lama, dalam perjalanan ke Mekah bisa tiga bulan lamanya. Setelah pulang dari Mekah, ibu Irah mengganti namanya jadi Siti Romlah. Nah itu yang sekarang kami gunakan dan pertahankan sebagai branding wajit Cililin kami, karena memang nenek kami yang mendobrak bahkan yang menciptakan wajit Cililin," pungkasnya.

(mso/mso)