Ragam Tantangan Menjaga IPP Jabar di Tengah Pandemi COVID-19

Yudha Maulana - detikNews
Kamis, 15 Apr 2021 15:42 WIB
Ratusan Pemuda Jabar Belajar Industri 4.0 Bareng Pengusaha Muda
ilustrasi (Foto: Wisma Putra/detikcom)
Bandung -

Provinsi Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah pemuda terbanyak di Indonesia, yakni mencapai 11,9 juta jiwa atau 18,8 persen dari seluruh pemuda di Tanah Air. Walau begitu, Indeks Pembangunan Pemuda (IPP) Jabar sempat menyentuh titik nadir, dengan menjadi yang terendah dari 34 provinsi di Indonesia.

Pembangunan pemuda di Provinsi Jawa Barat menghadapi tantangan di berbagai bidang, mulai dari kesehatan, pendidikan, kesejahteraan, kepemimpinan dan kesetaraan gender. Dibandingkan dengan provinsi lain, nilai IPP Jabar sempat mengalami perubahan yang lambat dalam rentang 2015-2018.

Jabar kerap kali menduduki posisi buncit, dalam rentang waktu tersebut dari lima besar paling rendah hingga menjadi yang paling terakhir dengan nilai IPP 46,17. Meski demikian terdapat kenaikan positif yang signifikan dalam rentang waktu 2018-2019.

Dalam laporan IPP yang dirilis Bappenas pada 2020, IPP Jabar pada 2019 naik signifikan menjadi 50.00. Nilai tersebut mendongrak posisi IPP Jabar ke dalam peringkat 20 besar se-Indonesia. Berdasarkan UU 40 Tahun 2009 pemuda adalah warga Indonesia yang berusia 16 hingga 30 tahun.

Lalu bagaimana mempertahankan pembangunan pemuda di Jabar selama pandemi?

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Jabar Engkus Sutisna mengakui jika pandemi COVID-19 memberikan tantangan yang besar untuk membangun pemuda di Jabar. Pasalnya, virus Corona menyebabkan hampir semua sektor terjungkal.

"Pandemi COVID-19 yang berpengaruh langsung ke dalam domain IPP, dari sektor pendidikan dilakukan dengan pembelajaran jarak jauh, ini berpengaruh ke angka partisipasi kasar pendidikan, perguruan tinggi dan sebagainya, ketenagakerjaan, makanya karena pandemi COVID-19 juga banyak perusahaan yang mem-PH karyawan, banyak pemuda yang kehilangan pekerjaan dan banyak usaha yang selama ini buka, terpaksa harus ditutup," ujar Engkus saat dihubungi detikcom, Kamis (15/4/2021).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar angka pengangguran terbuka di Jabar bertambah 600 ribu orang dalam rentang Agustus 2019-Agustus 2020. Angka tersebut menambah angka pengangguran di Jabar menjadi 2,53 juta jiwa.

Secara mengejutkan, tingkat pengangguran terbuka (TPT) tertinggi berasal dari sekolah menengah kejuruan (SMK) dengan persentase 18,75 persen. Rinciannya SD ke bawah (5,68 persen), SMP (10,70 persen), SMA (13.73 persen), Diploma I/II/III (9,85 persen) dan universitas (10,19 persen).

Agar IPP Jabar tak lagi melorot karena pandemi, kata Engkus, Pemprov menyusun strategi salah satunya dengan payung Pergub yang menitahkan OPD untuk berbagi tugas dalam pembangunan pemuda.

"Kita berupaya dengan menghadirkan inovasi, Pak Gubernur menginisiasi ada program pemuda Jabar Future Leaders, Ajudan Magang Millennial, Jabar Innovation Fellowship, dan kalau memang dimungkinkan karena pandemi COVID-19 kita buat Jabar Innovation Summit," kata Engkus.

"Jadi hasil inovasi para pemuda Jabar akan dibuat menjadi sebuah pameran, dan itu akan membuktikan bahwa pemuda Jabar itu inovatif, dan kreatif," tuturnya.

Selain itu, lanjut Engkus, jumlah pemuda Jabar yang sangat banyak membuat Pemprov harus membuat gerakan sinergi untuk mempertahankan IPP. "Kita terus upayakan dengan cara terus berkoordinasi baik dengan stakeholder terkait, baik dengan pemerintahan, KNPI, pramuka, LSM-LSM yang memang bergerak di bidang kepemudaan dan komunitas lainnya. Kita juga mendapatkan dorongan dari Komisi V DPRD Jabar," ujarnya.

Anggota Komisi V Abdul Hadi Wijaya DPRD Jabar mengatakan, selama lima tahun terakhir pembangunan IPP di Jabar tersendat karena masih adanya egosentris yang kuat di antara perangkat daerah.

"Sekarang kita coba koordinasikan antar semua stakeholder, karena peningkatan dari ranking 34 menjadi 20 itu hal yang patut kita apresiasi," katanya.

Pandemi COVID-19 ini seharusnya menjadi momentum untuk meningkatkan IPP di Jabar. Asalkan, semua pihak terkait seperti Dispora, Disdik, Disnaker, Dinas KUKM, Disnakertrans, DP3AKB dan Biro Kesra Jabar bisa selaras dalam membangun pemuda.

"IPP di masa COVID-19 ini bisa naik, bisa turun. Semua provinsi di Indonesia menghadapi masalah yang sama, tak hanya di Jabar, makanya momentum ini sangat penting untuk membangun program-program yang saling beririsan, misal dinas KUKM buat program kewirausahaan dengan salah satunya melibatkan pemuda," katanya.

(yum/mso)