Nasib Pengusaha Garmen di Bandung, Terhimpit Corona-Sulitnya Bahan Baku

Muhammad Iqbal - detikNews
Selasa, 13 Apr 2021 19:14 WIB
Pengusaha garmen di Bandung terpukul di tengah pandemi
Pengusaha garmen di Bandung terpukul di tengah pandemi (Foto: Muhammad Iqbal)
Bandung -

Nasib malang menimpa sejumlah pengusaha Industri Kecil dan Menengah (IKM) di Kabupaten Bandung. Ada yang bertahan ada pula yang gagal.

Seperti yang dialami oleh Rommy Aprilana. Pengusaha garmen asal Soreang, Kabupaten Bandung yang fokus pada pembuatan gamis itu mengalami penurunan pendapatan semenjak pandemi COVID-19. Bukan hanya pendapatan, ia pun terpaksa harus merumahkan sejumlah karyawannya.

"Saya mulai 2009-an. Sebelum COVID pekerja saya ada 70. Sekarang tinggal dua," tutur Roni kepada detikcom saat ditemui di Soreang, Kabupaten Bandung, Selasa (13/4/2021).

Roni menuturkan, semenjak pandemi, bisnis yang dibangunnya sejak lama itu harus bersusah payah bertahan.

Hal itu diperparah dengan sulitnya Roni memperoleh bahan baku, ia sering memakai bahan baku kain import. Roni pun mengeluhkan, bahan baku tersebut langka dan harganya tinggi.

"Sekarang sudah susah cari bahan baku, pada mahal," katanya.

Roni belum memasarkan baju gamis buatannya di online. Karena kekurangannya, ia tetap bertahan dengan menjual secara konvensional.

Ia sering menjual barangnya ke Pasar Tanah Abang. Namun, saat ini, barang yang ia buat pun tidak dapat bersaing. Harga yang ia patok dengan gamis dari luar negeri lebih mahal.

"Barang saya susah masuk juga ke Tanah Abang. Karena di tanah Abang sekarang banyaknya baju jadi dari luar negeri, lebih murah pula. Saya jual Rp 55 ribu, mereka (barang luar negeri) bisa dijual Rp 45 ribu," keluh Roni.

Sekjen Asosiasi Industri Kecil Menengah Indonesia (APIKMI) Widia Erlangga mencatat, ada sebanyak 400 pengusaha garmen yang menjadi anggotanya di Jawa Barat, sekitar 65 persennya bangkrut.

"Untuk anggota kami di Jawa Barat ada 400, tersisa 140-an anggota yang masih bertahan," kata Widia.

Widia menjelaskan, ada sejumlah faktor penyebab kenapa pengusaha garmen banyak yang mengalami bangkrut. Salah satunya, pengusaha garmen tergantung dengan bahan baku import. Hal itu disebabkan, karena industri tekstil memilih eksport daripada memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Kemudian, di sisi kebijakan, adanya kebijakan safe guard pada sektor bahan baku kain import. Di mana, bahan baku impor dikenakan biaya tambahan dan membuat bahan baku tersebut menjadi mahal.

"Evaluasinya, bahan baku yang diproduksi di dalam negeri boleh di safe guard, tapi bahan baku yang tidak ada diproduksi di dalam negeri sebaiknya jangan di safe guard. Karena memang tidak ada yang bikin di dalam negeri," kata Widia.

Selain itu, lanjut Widia, banyak pengusaha yang sulit bersaing secara harga di pasar online. Karena, barang jenis garmen yang dipasarkan di online banyak berasal dari luar negeri.

"Jadi solusi lainnya pula, kami menunggu adanya safe guard di import bahan jadi. Karena ternyata, yang dijual di online itu bahan jadi dari luar negeri tanpa ada bea masuk dan sebagainya, jadi harganya lebih murah dibanding lokal," saran Widia.

(mud/mud)