Jabar Banten Hari Ini: Ayah Siksa Anak Kandung-Skandal Hibah Rp 117 M di Banten

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 09 Apr 2021 20:33 WIB
Ayah di Bandung siksa anak demi rujuk dengan mantan istri
Ayah di Bandung siksa anak demi rujuk dengan mantan istri. (Foto: Dony Indra Ramadhan/detikcom)

Jeritan Sopir Bus di Tengah Larangan Mudik Lebaran

Para pekerja industri transportasi kian terjepit, seiring dengan larangan beroperasi bagi moda transportasi selama masa mudik Idul Fitri 2021. Aturan yang diterbitkan Kementerian Perhubungan itu berlaku pada 6 Mei-17 Mei 2021.

Anto (45) tampak gamang, ketika duduk di bagasi samping busnya. Sebab, kursi bus jurusan Bandung-Surabaya yang ia kemudikan belum terisi seorang penumpang pun. "Minim banget mas, selama pandemi ini minim sekali penumpang," ujar Anto saat ditemui di Terminal Cicaheum, Kota Bandung, Jumat (9/4/2021).

Selama sembilan tahun ia bergelut di industri transportasi, tahun-tahun ini merupakan yang berat yang pernah dihadapi. Di pikirannya, terbayang biaya sekolah anak-anaknya yang mesti tetap dibayar penuh walau dilakukan secara daring, tapi pemasukannya seret.

"Dampaknya hampir 100 persen mas, biasa bisa dapat penghasilan Rp 200 ribu misalnya, sekarang hanya Rp 75 ribu. Kalau gaji sopir kan tergantung premi dari penumpangnya, saya dapat Rp 21 ribu dari satu penumpang untuk perjalanan dua hari dua malam," katanya.

Penghasilan tersebut tak rutin ia dapatkan. Dia harus bergiliran dengan rekan sesama sopir di perusahaan PO-nya untuk mengemudikan bus tersebut. "Karena armada kita sedikit, tidak ada yang dirumahkan, tapi nariknya bergiliran," katanya.

Anto berharap pemerintah bisa meninjau ulang larangan mudik tersebut. Ia mengusulkan agar para penumpang di terminal juga bisa diperiksa dengan menggunakan alat deteksi COVID-19 yang diklaim pemerintah berlimpah.

"Harapan kita semua sih tidak ditutup ya, kiranya ada protokol kesehatan. Waktu PSBB dan New Normal diperbolehkan jalan, misal tempat duduk 40, hanya boleh diisi 20. Kalau ditutup semua, kaum-kaum kaya kita semua bakal repot banget," ucap Anto.

Solusi lainnya, ada bantuan dari pemerintah untuk pekerja sektor transportasi yang terdampak. Pasalnya, sampai saat ini ia belum pernah mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah. "Kalau ada bantuan dari pemerintah sih ya enggak apa-apa, sekarang perusahaan juga sedang sulit," ujar Anto.

Sementara itu, Kurdi (50), sopir bus Bhineka jurusan Bandung-Cirebon, hanya bisa pasrah menerima keputusan dari pemerintah. Menurutnya, bekerja dengan penghasilan minim lebih baik daripada tak bekerja sama sekali. "Pendapatan sudah pasti berkurang. Mulai tanggal enam (Mei) tidak bisa jalan sama sekali. Kita ikuti pemerintah sajalah apa adanya, habis bagaimana aturan pemerintah begitu, ya kita ikuti," tutur Kurdi.

Kurdi mengatakan rata-rata penumpang bus AKDP yang ia kemudikan berkisar tujuh orang dan paling banyak 10 orang dari kapasitas 40 penumpang. "Seringnya tidak memenuhi target setoran, memang berkurang banyak saat Corona. Sehari kalau PP itu setorannya Rp 650 ribu, dan kalau Jumat - Sabtu naik jadi Rp 800 ribu," ujarnya.

Untuk menutupi biaya sehari-hari, istrinya di rumah berjualan. "Bantuan tidak ada, tapi alhamdulillah di rumah istri bisa jualan, daripada kita jenuh di rumah," ujar pria yang telah bekerja sebagai sopir bus selama 28 tahun itu.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3 4 5