Dangdut Diajukan ke Unesco, Ini Respons Seniman di Bandung-Cirebon

Yudha Maulana, Sudirman Wamad - detikNews
Minggu, 07 Mar 2021 15:49 WIB
Diana Sastra, penyanyi tarling-dangdut
Diana Sastra, penyanyi tarling-dangdut(Foto: Sudirman Wamad)
Bandung -

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno mengusulkan musik dangdut sebagai warisan dunia tak benda kepada Unesco. Sandi menyebut, dangdut memiliki potensi besar untuk menyerap tenaga kerja.

Sekjen Persatuan Artis Musik Melayu-Dangdut Indonesia (PAMMI) Kota Bandung La Delly mendukung penuh rencana dari Sandiaga tersebut. Menurutnya, musik dangdut di Indonesia memiliki kekhasan tersendiri.

"Kita bersyukur alhamdulillah ya, pihak DPP sudah mengajukan beberapa tahun yang lalu, dengan adanya ini juga ada semacam pengakuan pemerintah secara formal," ujar La Delly saat dihubungi, Minggu (7/3/2021).

"Musik dangdut di Indonesia di kata Rhoma Irama, dangdut musik Melayu Deli, kena pengaruh dari Barat dan Hindi, ada unsur kolaborasi, unsur musik Melayu Deli ada unsur India dan unsur barat aransemennya, tapi budaya lokal juga masuk, ada musik koplo, dangdut jaipong, ya dangdut itu musik adaptif," katanya pria yang akrab disapa Kang Delly itu.

Menurutnya langkah tersebut harus segera dilakukan oleh pemerintah, jangan sampai dangdut sebagai musik khas dari Indonesia diklaim oleh negara lain. "Dangdut sebagai musik Indonesia, music of my country itu diklaim oleh negara tetangga, makanya ada istilah Rhoma Irama dalam syair Viva Dangdut, ini musik melayu dari Deli, ada pengaruh dari barat dan hindi," kata Bang Delly.

Dangdut juga, katanya, menjadi lapangan pekerjaan yang menjanjikan bagi insan musik di Indonesia. "Mungkin banyak yang tahu siapa Inul, nah sekarang beliau sudah menjadi orang yang sukses luar biasa, karena memang dangdut ini memberikan lapangan pekerjaan bagi penyanyinya, pencipta lagunya, aransemenya, komposernya, dan memiliki nilai kepariwisataan yang tinggi," ucapnya.

Di luar itu, sebelumnya Bang Delly juga pernah mengajukan peringatan Hari Dangdut Indonesia pada 11 Desember. Hari itu memang bertepatan dengan hari lahir sang Raja Dangdut Rhoma Irama. Peringatan ini, ujarnya, sama dengan peringatan Hari Musik Nasional yang diperingati pada 9 Maret atau bertepatan dengan hari lahir WR Soepratman.

"Beliau itu cukup revolusioner, karena beliau tidak hanya menciptakan lagu, tapi dia orangnya multi talent, penyanyi, pencipta lagu, arranger, composer, memang cukup lengkap gelar untuk beliau itu," katanya.

"Kita usulkan juga kepada pemerintah, ini belum bentuk institusi, kami mengusulkan juga Rhoma Irama sebagai King of Dangdut in the world, seharusnya pemerintah memberikan bintang Mahaputera atau Bintang Budaya Paramadharma di bidang musik, karena Rhoma Irama ini luar biasa prestasinya di nasional dan internasional," tuturnya.

Sebelumnya, Sandiaga mengusulkan kepada UNESCO agar dangdut ditetapkan menjadi warisan budaya Indonesia.

"Dangdut is the music of my country. Sekarang kita relaunching untuk memasukkan dangdut sebagai bagian daripada music heritage di UNESCO," ungkap Sandiaga dalam pernyataan yang diterima detikcom.

Sandi mengatakan alasan dirinya mengangkat kembali dangdut sebagai musik warisan Indonesia karena besarnya potensi dangdut terhadap penyerapan lapangan kerja.

Diketahui, dangdut merupakan musik yang membuka peluang kerja dan peluang usaha bagi begitu banyak insan musik dan pekerja seni di Indonesia.

Tercatat ada sebanyak 18 juta masyarakat Indonesia yang mengantungkan penghidupannya di sektor ekonomi kreatif, termasuk dangdut di dalamnya.

"Jika kita lihat penggemar dangdut yang jumlahnya sangat signifikan merupakan peluang, bukan hanya pasar, tapi juga peluang yang sangat potensial untuk menciptakan kegiatan-kegiatan usaha yang membuka lapangan kerja yang seluas-luasnya untuk sisi ekonomi kreatif di saatpandemi ini, juga di saatmelambatnya ekonomi," jelasSandiagaUno.

Selanjutnya
Halaman
1 2