Jumlah Pendaftar Petani Milenial Capai 9 Ribu, Ada dari Luar Jabar

Wisma Putra - detikNews
Minggu, 28 Feb 2021 11:39 WIB
Raup Rp 50 Jutaan Sekali Panen, Pria Milenial Ini Pilih Jadi Petani

Ahmad Sahid, pria milenial ini lebih memilih menjadi petani di daerahnya Dusun Sebindang, Kecamatan Badau, Kalimantan Barat. Sekali panen, Sahid bisa meraup Rp 50 juta.
Foto: ilustrasi (Rachman Haryanto/detikcom).
Bandung - Minat generasi muda untuk mengikuti program Petani Milenial Jabar cukup tinggi. Sampai saat ini telah ada 9 ribu milenial yang telah mendaftar dalam program tersebut. Dari jumlah tersebut ada calon peserta yang datang dari luar Jawa Barat.

"Kitakan masih memetakan karena dari 9 ribu sekian yang mendaftar ada yang di luar Jabar yang mendaftar. Kita seleksi, kurang lebih ada sekitar 6 ribu sekian lagi. Dari 6 ribu sekian, nanti ada seleksi lagi, terutama akan kita kuatkan dulu anak-anak yang memang dekat dengan lahan," kata Kabiro Perekonomian, Setda Jabar Benny Bachtiar saat dihubungi, Minggu (28/2/2021).

Setelah melalui serangkaian seleksi administrasi, Benny menyebut, calon Petani Milenial akan mengikuti tahapan wawancara.

"Untuk sementara kita lihat dari administrasi yang didaftarkan oleh mereka, setelah itu nanti masing-masing dinas sesuai dinasnya akan melakukan wawancara ke yang bersangkutan dipilih dulu yang dekat yang mana, lainnya menunggu giliran," ungkapnya.

Setelah proses wawancara, para peserta akan diberikan pemahaman soal program Petani Milenial dan ditanya kesiapannya. "Setelah oke, diberikan pemahaman dan lainnya, siap atau tidak. Seandainya siap, kita jalan," ujarnya.

Benny menyebut, program ini ditujukan kepada mereka yang benar-benar ingin menjadi petani. "Jangan sampai, kita serahkan kepada orang yang betul-betul belum siap, jadi kita mesti anak-anak yang mau punya motivasi tinggi untuk melakukan aktivitas pertanian. Ada wawancara, diberikan gambaran oleh tim SKPD masing-masing, kalau mereka siap diberikan, kalau ragu-ragu dipertimbangkan," jelasnya.

Tak hanya itu, calon petani milenial juga harus memiliki pengalaman bertani. "Itu untuk yang pertama, karena kalau terlalu mentah dikhawatirkan tidak jalan program ini," ujarnya.

"Sebetulnya, ini program jangka panjang, tidak seperti kita beli cabai rawit langsung pedas. Dengan program ini kita lihat evaluasi, kita yang siap dulu, ketika sudah jalan jadi gambaran saudaranya yang lain, walaupun sudah ada petani milenial di Jabar yang sudah sukses," tambahnya.

Menurutnya untuk tahap pertama para peserta tidak akan dibebani untuk membayar sewa lahan. Karena pihaknya ingin program ini berjalan dan lahan yang dikelola bisa lebih produktif.

"Untuk tahap pertama belum dikenakan sewa lahan, yang penting bagi kami lahan yang tidak termanfaatkan ini jadi lahan yang bermanfaat," ucapnya.

Selain itu, kata dia, melalui program ini pihaknya juga bisa mengamankan aset yang ada. Sehingga aset-aset pemerintah tidak dicaplok oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

"Karena ini kebijakan gubernur dalam rangka pengamanan (lahan) dan peningkatan kesejahteraan. Selain itu yang memanfaatkan lahan ini bukan corporate tapi masyarakat yang notabene terdampak COVID-19," paparnya.

Program ini juga, kata dia, bertujuan untuk mencegah urbanisasi. "Jadi semangatnya begini, pertama menahan warga desa untuk berurbanisasi ke kota, karena mereka untuk melakukan aktivitas ekonomi di desanya pun sudah oke, ngapain mereka ke kota," tuturnya.

"Kedua, berikan peluang kepada saudara kita yang sebelumnya bekerja di sektor formal, industri dan lainnya balik lagi ke desanya tidak memiliki pekerjaan kita beri peluang itu. Intinya ada dampak positif dari program ini menahan urbanisasi dan dampak sosial di perkotaan," ujarnya.

Saksikan juga 'Mata Pencaharian Warga Desa Pegayaman, Buleleng, Bali':

[Gambas:Video 20detik]



(wip/mso)