Imbas Pandemi, Pertumbuhan Ekonomi di Jabar Tahun 2020 Minus

Dony Indra Ramadhan - detikNews
Jumat, 05 Feb 2021 19:00 WIB
Poster
Ilustrasi (Foto: Edi Wahyono)
Bandung -

Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat mencatat pertumbuhan ekonomi Jabar tahun 2020 minus. Hal ini tak lepas dari dampak pandemi COVID-19.

Kepala BPS Jabar Dyah Anugrah menuturkan ekonomi di Jabar tahun 2020 mengalami kontraksi hingga 2,44 persen. Jumlah tersebut menurun dibandingkan tahun 2019 yang mencapai 5,07 persen.

"Pertumbuhan ekonomi Jabar pada tahun 2020 tercatat minus 2,44 persen," ujar Dyah dalam keterangan resmi yang diterima detikcom, Jumat (5/2/2021).

Meski begitu, pihaknya menyebut pada triwulan IV 2020, pertumbuhan ekonomi mulai merangkak naik. Menurutnya, ada kebaikan pertumbuhan ekonomi sebesar 0,22 persen di triwulan IV bila dibandingkan triwulan sebelumnya.

BPS memaparkan dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh sektor lapangan usaha jasa kesehatan dan kegiatan sosial yang pertumbuhannya mencapai 14,84 persen. Sementara pengeluaran pertumbuhan tertinggi dicapai oleh komponen konsumsi pemerintah sebesar 45,96 persen.

"Dari sisi produksi, pertumbuhan terendah dicapai oleh Lapangan Usaha Jasa Perusahaan sebesar minus 18,38 persen," tuturnya.

Sementara itu untuk lapangan usaha informasi dan komunikasi disebut masih memberikan andil pertumbuhan positif bagi Jabar.

BPS mencatat ada lima kategori lapangan usaha yang mampu tumbuh positif disaat pandemi COVID-19. Beberapa di antaranya seperti lapangan usaha informasi dan komunikasi yang tumbuh sebesar 34,64 persen, pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang tumbuh sebesar 10,80 persen.

"Kemudian Jasa Pendidikan tumbuh sebesar 6,69 persen, Real Estate tumbuh sebesar 1,92 persen dan Jasa Keuangan dan Asuransi tumbuh sebesar 1,15 persen," ucapnya.

"Tumbuhnya ekonomi digital Jabar hingga meningkat 40 persen, menjadikan salah satu sumber pertumbuhan ekonomi Jabar tahun 2020," kata Dyah menambahkan.

Selain itu, BPS juga mencatat Jabar memiliki 7 potensi ekonomi baru usai COVID-19. Ke-7 potensi itu yakni meraup peluang investasi perusahaan yang pindah dari Tiongkok, swasembada pangan, swasembada teknologi, mendorong peluang bisnis di sektor kesehatan, digital ekonomi, penerapan ekonomi berkelanjutan dan pariwisata lokal.

(dir/mud)