Nasib Pilu Janda Pensiunan PTPN, SHT Belum Dibayar-Makan Nasi Garam

Yudha Maulana - detikNews
Rabu, 18 Nov 2020 14:47 WIB
Sejumlah pensiunan PTPN demo di Gedung DPRD Jabar menuntut pembayaran SHT.
Foto: Sejumlah pensiunan PTPN demo di Gedung DPRD Jabar menuntut pembayaran SHT (Yudha Maulana/detikcom).
Bandung -

Manah (55) hanya bisa mengandalkan uang dari hasil keringatnya menjadi buruh tani di wilayah Purbasari, Pangalengan. Uang sebesar Rp 30 ribu dari hasil kerja kerasnya selama bekerja dari pagi hingga sore ia gunakan untuk makan dan menyekolahkan cucu-cucunya.

Masa pensiun yang rencananya akan ia nikmati dengan memiliki rumah sendiri, terpaksa harus ditunda. Pasalnya, uang Santunan Hari Tua (SHT) yang seharusnya diterima janda beranak tiga itu tak kunjung diterimanya dari PT Perkebunan Nusantara (PTPN).

Sebenarnya, Manah memiliki uang pensiunan yang diberikan perusahaan sebesar Rp 200 ribu perbulannya. Namun, uang tersebut hanya cukup untuk memenuhi biaya sekolah cucunya yang baru menginjak bangku SMP. Alhasil ia harus kembali ke ladang.

"Untuk air untuk lauk pauk tidak ada, kadang-kadang makan nasi garam tidak ada bantuan dari pemerintah atau bansos. Sama suami sudah cerai 10 tahun yang lalu," ujarnya.

"Rencananya kalau sudah turun uang STH-nya, mau dipakai untuk mengkredit rumah dan uang sehari-hari. Masih banyak yang belum punya rumah sendiri, ada yang tinggal di rumah dinas milik perusahaan. Itu pun rumahnya juga sudah tidak layak huni, tapi setidaknya setelah bekerja 35 tahun ingin memiliki rumah," katanya.

Nasib nahas juga dialami Itin, buru tani lainnya. Dia terpaksa harus meminjam uang ke bank saat menginjak masa pensiun untuk biaya pendidikan anaknya di tingkat SMA.

"Kemarin pinjam untuk membayar biaya sekolah anak masih kelas 3 SMA. Kan kalau SMA biayanya juga lumayan besar, saya pinjam uangnya ke bank dan harus mencicil setiap bulannya. Jadi hanya sekitar Rp 20 ribu sisanya, harapannya kan nanti dibayar dari uang dari SHT ini," kata Itin.

Keduanya kini tengah mengadukan nasibnya di DPRD Jabar. Keduanya bersama buruh tani lainnya menyampaikan aspirasi di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Kota Bandung, Rabu (18/11/2020).

Peserta aksi yang rata-rata berusia paruh baya itu menuntut agar SHT mereka segera dibayarkan.

Salah seorang peserta aksi, Isur (55) mengatakan sejak tahun 2017, SHT yang sedianya harus diterima purna karya dari PTPN VIII tak lagi diberikan. Padahal, pada tahun-tahun sebelumnya uang SHT yang rata-rata mencapai puluhan juta rupiah itu cair dalam waktu satu bulan.

"Sudah mau empat tahun berjalan tapi belum juga dibayarkan oleh perusahaan. Sekarang saya bingung, uang pensiun juga sebulannya hanya Rp 200 ribu," kata Isur. Ia menjadi pemetik teh di perkebunan teh Rancabali, Kabupaten Bandung.

Bahkan, ujar Isur, ada beberapa kawannya yang memutuskan menjadi pemulung untuk menyambung hidup di masa tua.

Berbagai upaya, kata Isur, telah dilakukan forum pekerja melalui pendekatan persuasif, surat menyurat, pertemuan informal dan beberapa kali audiensi. Namun, hasilnya masih buntu.

Dari data yang dihimpun detikcom dari FKPPN Jabban, pensiunan PTPN VIII yang belum mendapatkan SHT pada tahun 2017 sebanyak 1.269 orang. Kemudian pensiunan pada tahun 2018 sebanyak 1.302 orang dan pensiunan tahun 2019 sebanyak 1.382.

Total ada sekitar 3.952 purna karya yang belum dibayarkan SHT-nya dengan nilai pembayaran sebesar Rp 200.463.008.821.

(yum/mso)