Jejak Hukum Habib Bahar bin Smith, Tersandung Dua Kali Kasus Penganiayaan

Tim Detikcom - detikNews
Sabtu, 31 Okt 2020 10:07 WIB
Terdakwa kasus dugaan penganiayaan terhadap remaja Bahar bin Smith memegang bendera merah putih seusai menjalani sidang putusan di gedung Arsip dan Perpustakaan, Bandung, Jawa Barat, Selasa (9/7/2019). Majelis hakim menjatuhi hukuman kepada Bahar bin Smith tiga tahun penjara, denda Rp50 juta dan subsider satu bulan kurungan. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/foc.
Foto: Antara Foto
Bandung -

Habib Bahar bin Smith kembali menjadi buah bibir setelah ditetapkan kembali menjadi tersangka dugaan penganiayaan sopir taksi online yang terjadi 2018 silam. Sebetulnya, pria kelahiran Manado, 35 tahun silam itu telah bebas dan mendapatkan asimilasi pada 16 Mei 2020.

Juli 2019, Habib Bahar divonis 3 tahun penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Bandung atas kasus penganiayaan terhadap dua remaja, Cahya Abdul Jabar dan Muhammad Khoerul Aumam Al Mudzaqi.

Lalu pada 16 Mei 2020, ia memperoleh asimilasi. Namun baru Baru tiga hari merasakan udara segar di luar lapas, asimilasinya dicabut. Pria yang akrab disapa 'Habib Bule' itu kembali dijebloskan ke penjara. Pencabutan asimilasi gegara acara dakwah yang dihadiri banyak orang dianggap melanggar Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

"Izin asimilasi di rumah dicabut berdasarkan penilaian dari Petugas Kemasyarakatan Bapas Bogor (PK Bapas Bogor) yang melakukan pengawasan dan pembimbingan," kata Dirjen Pemasyarakatan Reynhard Silitonga dalam siaran pers yang diterima detikcom, Selasa 19 Mei 2020.

"Melakukan beberapa tindakan yang dianggap telah menimbulkan keresahan di masyarakat, yaitu menghadiri kegiatan dan memberikan ceramah yang provokatif dan menyebarkan rasa permusuhan dan kebencian kepada pemerintah. Ceramahnya telah beredar berupa video yang menjadi viral, yang dapat menimbulkan keresahan di masyarakat," lanjut Reynhard.

Bahar kembali ke mengenyam jeruji besi. Bahkan dia sempat dieksekusi ke Lapas Nusakambangan. Hingga akhirnya, dia dipindahkan lagi ke Lapas Cibinong.

Surat pencabutan asimilasi Bahar itu kemudian digugat ke PTUN Bandung melalui tim kuasa hukumnya. Sidang berjalan hingga akhirnya majelis hakim memenangkan Bahar dan menilai surat pencabutan asimilasi tak sah. Kemenkum HAM lantas melakukan banding atas putusan PTUN ini.

Di tengah proses banding ini, Bahar dihadapkan pada kasus baru. Polda Jawa Barat menaikkan status Bahar dari terlapor menjadi tersangka atas dugaan penganiayaan yang dilaporkan pada tahun 2018.

Selanjutnya
Halaman
1 2