Terlibat Perselisihan Saat Cari Ustaz, 2 Pria Kembar Dikeroyok Warga

Syahdan Alamsyah - detikNews
Rabu, 30 Sep 2020 22:59 WIB
Ilustrasi penganiayaan (dok detikcom)
Foto: Ilustrasi pengeroyokan (dok detikcom)
Sukabumis -

Dua pria kembar di Desa Bojongkokosan, Kecamatan Parungkuda, Kabupaten Sukabumi jadi korban amukan massa. Dua orang pria tersebut kemudian diamankan masuk ke area dalam yayasan dan akhirnya dijemput pihak kepolisian.

Informasi diperoleh detikcom peristiwa itu terjadi sekitar pukul 18.45 WIB, Rabu (30/9/2020). Dua pria itu dikabarkan tiba-tiba datang seperti kebingungan dan mencari ustaz yang bisa melakukan praktik pengobatan.

Video saat kedua pria itu dihakimi massa tersebar di aplikasi perpesanan. Selain itu sejumlah informasi juga tersebar menyebut ada ustaz korban penusukan dan ada ustaz menunggal. Kepolisian bertindak cepat mengamankan situasi di lokasi dan membawa kedua pria itu untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

"Betul tiba-tiba ada isu (penusukan) itu, tapi sampai saat ini tidak ada ustaz yang terluka. Kejadiannya juga tidak jelas, tidak ada pembunuhan dan tidak ada penusukan," kata Sengseng, warga setempat kepada wartawan di lokasi kejadian. Sengseng juga tidak menyangka video kejadian itu bisa cepat tersebar dibumbui dengan kabar adanya penusukan ustaz.

Dikatakan Sengseng, ia mendapat kabar salah satu dari dua pria itu dalam keadaan sakit dan menurut kabar dari orang tuanya mereka mencari ustaz untuk berobat. Namun entah dari mana awalnya, ada isu lain yang memanaskan situasi di daerah tersebut.

"Sampai sana ada isu lain jadi ramai, padahal tidak ada masalah apa-apa. Jadi isu ramai saja jadi tersebar jadi mendapat isu pembunuhan penusukan ustaz itu bohong hanya isunya aja. Kebetulan orang itu menurut orang tuanya kurang sehat, sempat dihakimi massa dibawa ke polsek diamankan ke polres," sambung Sengseng.

Sementara itu, Aan Irawan ketua RT 03 RW 07 mengaku tidak mengetahui motif pasti dari dua pria yang datang ke wilayahnya tersebut. Sepintas ia mendapat kabar keduanya mencari orang pintar yang bisa mengobati. Dia menduga salah satu dari pria itu dalam kondisi sakit.

"Motif utama atau pastinya seperti apa hanya katanya cari orang tua yang bisa ngobatin, tiba-tiba kejadian digebugin sama massa. Motif yang pasti belum tahu, dua anak tadi dibawa ke polres.," ungkap Aan.

Aan juga mengatakan keduanya juga sempat mencari seseorang yang dipanggil ustaz, namun orang yang dicari tersebut tidak ada. Aan juga membenarkan kedua orang itu sempat mendapat kekerasan dari massa.

"Saya sedang kumpul sama masyarakat, tiba-tiba digebugin, saya melerai, saya minta bantuan Babinsa, kita minta bantuan ke ibu lurah sampai akhirnya pertolongan datang. Lurah dan kepolisian baru bisa diamankan. Saya belum tahu (tidak mengenal) dia mengaku dari Warungceri Desa Pondokasolandeuh. Kelihatannya yang satu kurang normal, kalau ditanya ngaco orangnya. Kalau ditanya ini jawabnya lain, emang ngaco," pungkas dia.

Informasi yang diperoleh detikcom, kedua pria kembar tersebut telah dibawa ke Mapolres Sukabumi di Palabuhanratu. Kapolres Sukabumi AKBP Lukman Syarif membenarkan kejadian tersebut, pihaknya kini masih menunggu kedatangan dua pria tersebut ke Mapolres Sukabumi.

"Pukul 18.45 WIB ada dua pemuda bersaudara mencari pengobatan alternatif, akhirnya (oleh warga) ditujukan ke saudara Ustaz Engkus. Setibanya disana ustaz tersebut tidak ada di lokasi," kata Kapolres Sukabumi AKBP Lukman Syarif.

"Kedua laki-laki ini sempat berbincang dengan salah satu saksi dan ketika saksi menanyakan maksud dan tujuannya terjadi perselisihan lalu dikejar oleh warga. Sehingga kedua pemuda ini akhirnya diamankan di salah satu pesantren, pihak RW menghubungi Polsek. Setelah polisi tiba, keduanya diamankan dan saat ini dalam perjalanan ke Polres Sukabumi," sambung Lukman.

Lukman berharap warga untuk menyaring setiap informasi dan memastikan kebenarannya sebelum kemudian terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan.

"Imbauan kepada masyarakat tidak ada lagi berita yang simpang siur atau masyarakat mempercayai begitu saja berita yang belum dipastikan kebenarannya. Kita cross check dulu jangan sampai nanti ada hal yang tidak diinginkan, karena beritanya salah sehingga reaksinya pun salah," pungkas Lukman.

(sya/mso)