Mayat Pria Ditemukan Tertimbun Longsoran Bekas Tambang Pasir di Bandung

Muhammad Iqbal - detikNews
Sabtu, 19 Sep 2020 12:59 WIB
Sesosok mayat ditemukan tertimbun longsoran bekas galian pasir
Sesosok mayat ditemukan tertimbun longsoran bekas galian pasir (Foto: Istimewa)
Bandung -

Seorang pria tanpa identitas ditemukan tewas tertimbun tanah longsor di Desa Ciherang, Nagreg, Kabupaten Bandung. Lokasi longsor berada di bekas tambang pasir.

Kepala Kantor SAR Bandung Deden Ridwansah menyebutkan, korban tertimbun oleh material longsor sejak Jumat (18/9/2020) siang, sekira pukul 12.30 WIB. Setelah pencarian tertunda, Sabtu (19/9/2020) pagi, tim SAR melakukan evakuasi kembali.

Tim SAR dibantu menggunakan eksavator agar mempermudah pencarian. Sekira pukul 08.30 WIB, tanda-tanda adanya tubuh korban mulai tampak.

"Tim SAR Gabungan mulai melakukan pencarian terhadap korban pukul 07.00 WIB tadi pagi menggunakan loader alat berat. Pada pukul 08.30 WIB tanda-tanda ditemukannya korban mulai terlihat, tim SAR Gabungan melanjutkan dengan pencarian manual," ujar Deden seperti dalam rilis yang diterima detikcom, Sabtu (19/9/2020).

Setelah itu, Tim gabungan dari SAR, Polri, TNI dan warga menggali menggunakan alat manual seperti pacul dan sekop. Hingga akhirnya tubuh korban dapat dikeluarkan dari tumpukan material longsor.

Sampai saat ini, petugas kesulitan mengidentifikasi korban karena jenazah tersebut tidak memiliki identitas. Dari keterangan warga, korban merupakan orang dalam gangguan jiwa (ODGJ).

Akhirnya, tim SAR dan pihak desa memutuskan untuk menyegerakan pemakaman terhadap korban. Korban dimakamkan di TPU Lebak Jero Desa Ciherang Nagreg Kabupaten Bandung.

"Udah keliatan ada jasad kita gali secara manual. Betul ODGJ, cuman memang identitasnya tidak diketahui, namanya siapa, di mana alamatnya, usianya juga kita gak tahu," ujar Humas Basarnas Bandung Seni Wulandari.

Belum diketahui penyebab pasti kejadian longsor tersebut. Seni menduga, bekas galian pasir menjadi salah satu penyebab terjadinya longsor karena kontur tanah menjadi tidak stabil.

"Mungkin karena kontur tanahnya mungkin. Karena tidak ada hujan. Karena bekas galian, kemungkinan tanah atasnya roboh," ujar Seni.

(mud/mud)