242 Nakes di Jabar Positif COVID-19, Dinkes: Diisolasi Mandiri

Yudha Maulana - detikNews
Kamis, 13 Agu 2020 21:36 WIB
Poster
Ilustrasi (Foto: Edi Wahyono)
Bandung -

Kepala Dinkes Jabar Berli Hamdani menyebut ada 242 tenaga kesehatan (nakes) di Jabar yang terkonfirmasi COVID-19 hingga 13 Agustus 2020. Ratusan nakes tersebut tersebar di kabupaten/kota di Jabar.

"Untuk nakes yang positif sampai saat ini, masih isolasi mandiri sebanyak 242 nakes," ujar Berli saat dihubungi detikcom, Kamis (13/8/2020).

Secara umum, Berli yang juga menjabat sebagai Wakil Sekretaris Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan COVID-19 Jawa Barat (GTPP Jabar) itu mengatakan, saat ini ruang keterisian ruang isolasi per tanggal 13 Agustus 2020 sebesar 34,50 persen.

"Kapasitas tampung RS Jabar cukup dan siap ditambah bila terjadi peningkatan," ucap Berli.

Divisi Perencanaan, Riset dan Epidemiolog (PRE) GTPP Jabar memprediksi akan terjadi lonjakan kasus sekitar 2.200 sampai 3.000 kasus positif yang baru dalam sebulan mendatang.

Hal itu mengacu pada pemodelan yang dibuat dengan landasan angka reproduksi virus Corona di Jawa Barat yang naik ke angka 1,23.

Perhitungan lainnya, hasil pemeriksaan tes usap atau swab test metode PCR di Jabar, yang sudah mencapai 171.000 tes, dengan angka positivity rate pengetesan yakni 7,5 persen positif dari keseluruhan warga yang dites.

"Jadi kita memprediksikan dari pemodelan yang dikerjakan itu akan ada penambahan kasus satu bulan ke depan sebanyak sekitar 2.200 sampai 3.000 kasus positif yang baru," kata tim PRE GTPP Jabar Bony Wiem Lestari di GOR Saparua, Kota Bandung, Jumat (7/8/2020).

Peningkatan kasus ini, ucap Bony, berbanding lurus dengan ditemukannya kasus dan klaster penyebaran baru, yang disinyalir salah satu faktornya berasal dari mobilitas penduduk saat PSBB mulai dilonggarkan.

"Jadi yang ada kasus impor itu terjadi karena ada memang mobilitas penduduk, terutama mereka yang berasal dari wilayah transmisi lokal yang masuk ke Jawa Barat, kemudian ada klaster perkantoran, kemudian kita juga lihat ada klaster keluarga di mana sekarang mulai lebih banyak, juga klaster tenaga kesehatan," ucapnya.

(yum/mud)