120 SMA/SMK di Cianjur Mulai KBM Tatap Muka 18 Agustus

Ismet Selamet - detikNews
Selasa, 04 Agu 2020 15:56 WIB
Poster
Ilustrasi KBM tatap muka (Foto: Edi Wahyono)
Jakarta -

Ratusan SMA dan SMK di 18 kecamatan zona hijau di Kabupaten Cianjur ditargetkan mulai belajar tatap muka pada pertengahan Agustus 2020. Namun sejumlah tahapan dan persiapan bakal dilakukan agar siswa tetap aman dari pandemi COVID-19.

Kepala KCD Wilayah VI Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat Esther Miory, mengatakan dari total 278 SMA/SMK di Cianjur, ada sekitar 120 sekolah yang bakal memulai pembelajaran tatap muka.

Rencananya kegiatan belajar mengajar secara tatap muka digelar pada 18 Agustus 2020.

"Dari 18 kecamatan yang masuk dalam zona hijau, kurang lebih ada 120 sekolah. Kalau tidak berhalangan, kegiatan belajar tatap muka mulai digelar 18 Agustus 2020," ujar Esther saat ditemui di Kantor Cabang Dinas wilayah VI Disdikbud Jabar, Jalan Raya Bandung, Selasa (4/8/2020).

Namun, jumlah tersebut bisa saja berkurang, mengingat dari Pemprov ada pengurangan jumlah sekolah yang bisa melaksanakan KBM tatap muka lantaran adanya kecamatan yang tidak lagi zona hijau.

"Kita masih tunggu apakah di Cianjur juga ada yang dikurangi atau tidak. Jadi datanya masih berubah, tergantung pada perkembangan kasus," tuturnya.

Untuk sekolah yang nantinya tetap mendapat izin untuk belajar tatap muka, sejumlah tahapan dan persiapan harus dilalui.

Di antaranya menyiapkan sarana dan prasarana menunjang. Mulai dari pembagian jadwal belajar siswa, alat pelindung diri seperti masker dan face shield, hingga jarak antar meja siswa.

"Rencananya masker dan pelindung wajah (face shield) disediakan sekolah. Kemungkinan dari dana bantuan sekolah sumbernya. Tapi itu masih dikaji. Pada intinya bagaimana menjamin siswa aman," kata dia

Selain itu, para tenaga pengajar juga akan dibatasi, di mana yang diizinkan mengajar hanya yang usianya di bawah 45 tahun. Bahkan mereka juga harus menjalani rapid test.

"Untuk yang lebih dari 45 tahun, mengajarnya daring. Sebab imunitasnya tidak sebugar tenaga pengajar di bawah usia 45 tahun. Kami minimalisir risiko," ucap Esther.

"Kembali lagi, banyak tahapan yang mesti dilalui. Makanya kami tidak akan terburu-buru. Tanggal 18 pun jika tidak ada kendala. Sesuai dengan arahan bapak Kepala Disdikbud, yang diutamakan tetap kesehatan, meskipun sekolah tetap muka dinanti," tambahnya.

(mud/mud)