Anggotanya Serang Suami-Istri, XTC Sukabumi: Kami Tanggung Jawab

Syahdan Alamsyah - detikNews
Minggu, 12 Jul 2020 21:22 WIB
Fikri Muaz menunjukan bukti pembayaran biaya rumah sakit korban penyerangan anggotanya
Fikri Muaz menunjukan bukti pembayaran biaya rumah sakit korban penyerangan anggotanya (Foto: Istimewa)
Sukabumi -

DPC XTC Kota Sukabumi akhirnya buka suara terkait dugaan penganiayaan terhadap suami istri yang terjadi pada Kamis (9/7) malam di Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi.

Sekretaris DPC XTC Sukabumi Fikri Muaz mengaku peristiwa itu terjadi bukan tanpa sebab. Ia mengaku anggotanya mendapat provokasi dari kelompok lain yang berujung pada pengeroyokan.

"Kalau memang anggota kita akan mengeroyok pasti dari awal berangkat ke pengajian, namun faktanya ini terjadi sepulang pengajian. Itu karena mereka terprovokasi oleh rival lain yang memang selama ini bertentangan," kata Fikri, kepada wartawan, Minggu (12/7/2020).

Saat malam itu, Fikri menceritakan ada sebanyak 700 anggotanya dari wilayah Kota dan Kabupaten Sukabumi menggunakan motor ke salah satu pondok pesantren di Kecamatan Nyalindung. Mereka juga mendapat pengawalan dari pihak kepolisian.

Keberangkatan mereka ke Ponpes tersebut, dimaksudkan untuk belajar mengaji kepada pimpinan Ponpes dan dihadiri oleh Kapolres Sukabumi Kota (AKBP Sumarni).

"Sebelum pemberangkatan, kita juga sudah menyasar semua seluruh anggota agar tidak membawa senjata tajam dan steril. Nah, setelah kita di lokasi Ponpes, ada dua anggota kita yang pulang duluan menggunakan sepeda motor. Dalam perjalanan, mereka dikejar oleh komunitas lain. Alhamdulillah, saat itu tidak terjadi apa-apa. Sesampai di rumahnya, dua anggotanya ini langsung memberikan kabar kepada kita yang masih melakukan pengajian," jelas Fikri.

Mengetahui hal itu, Fikri langsung berkoordinasi dengan panitia pengajian dan aparat kepolisian untuk melakukan penyisiran dan mensterilkan arah jalan pulang. Karena, dikhawatirkan terjadi hal-hal yang tidak diingikan, sejumlah anggotanya bahkan mengambil senjata tajam berupa golok tanpa gagang dari lokasi pengajian.

"Dalam perjalan pulang, anggota kita dijegal di wilayah Desa Cijangkar oleh anggota dari komunitas motor lain sambil membawa cerulit. Karena, melihat massa banyak, akhirnya komunitas motor dari rival lain itu mundur sehingga tidak terjadi kerusuhan," imbuh Fikri.

Selanjutnya
Halaman
1 2