Jejak Ridwan Kamil Tangani COVID-19 di Jawa Barat

Yudha Maulana - detikNews
Rabu, 08 Jul 2020 10:56 WIB
Gubernur Jabar Ridwan Kamil
Gubernur Jabar Ridwan Kamil (Foto: Yudha Maulana/detikcom)
Bandung -

Lebih dari 100 hari virus Corona atau COVID-19 mengguncang Indonesia, termasuk di Jawa Barat. Virus yang diduga berasal dari Wuhan China itu, membuat pemerintah mesti berlari kencang agar pagebluk tak menyebar luas.

Lalu bagaimana langkah Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menangani pandemi Corona?

Kasus Pertama di Depok

Presiden Joko Widodo mengumumkan kasus pertama COVID-19 di Indonesia pada 2 Maret 2020 lalu. Pasien 01 dan 02 yang diketahui memiliki hubungan ibu-anak itu terlacak di Depok, Jawa Barat (Jabar).

"Orang Jepang yang ke Indonesia kemudian tinggal di Malaysia dan dicek di sana positif Corona, tim dari Indonesia langsung telusuri. Orang Jepang ke Indonesia bertamu ke siapa, bertemu siapa ditelusuri dan ketemu," kata Jokowi saat memberikan keterangan di Istana Negara, Senin (2/3).

Menangkap sinyal bahaya itu, Gubernur Jabar Ridwan Kamil segera menetapkan status siaga satu pada hari yang sama. "Iya, kita sekarang posisinya siaga satu di Jabar," kata Kang Emil, sapaannya, di Sentul, Bogor, Senin (2/3/2020).

Pemerintah kabupaten dan kota yang ada di Jabar ikut merespon penetapan status siaga tersebut. Pemerintah daerah langsung bergerak melakukan berbagai langkah mulai dari menyiapkan rumah sakit dengan fasilitas ruang isolasi hingga imbauan agar masyarakat tetap tenang.

Langkah itu disusul dengan dibentuknya Pusat Informasi dan Koordinasi COVID-19 Jabar pada 4 Maret 2020. Pemerintah daerah di Jabar pun diinstruksikan untuk membuat gugus tugas sekaligus membuka layanan informasi satu pintu, berkaitan dengan wabah COVID-19.

Kang Emil pun menginstruksikan agar sekolah menunda kegiatan study tour, pentas siswa (pensi) atau kegiatan apapun yang berada di luar ruangan dan berkerumun. Belum ada kebijakan untuk menerapkan pembelajaran dari rumah, kendati begitu sejumlah kampus mulai melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

20 Maret 2020, Pemprov Jabar meluncurkan aplikasi Pikobar yang menampilkan data kasus positif dan peta sebarannya di Jabar. Aplikasi ini bisa diakses masyarakat secara daring, melalui komputer atau ponsel yang tersambung ke dalam jaringan (online). Tes masif pun mulai gencar dilakukan.

Hingga 23 Maret, Jawa Barat menduduki posisi paling banyak kasus positif COVID-19 kedua setelah DKI Jakarta. Kala itu, tercatat 59 kasus di Jabar, sementara di DKI Jakarta yang menjadi episentrum wabah telah menginjak angka 353 pasien.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3 4 5